Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

20120126

Koran Seputar Indonesia Kolom Suara Mahasiswa Edisi Cetak, 26/01/2012

Rencana Anggaran untuk Aksesibilitas Pendidikan

Oleh : Alia Noor Anoviar [1]



Ketimpangan dunia pendidikan antar daerah di Indonesia sangat tampak terlihat, terutama infrastruktur pendidikan antara desa dan kota. Selain itu, terbatasnya aksesibilitas pendidikan antara kalangan menengah ke atas dan menengah ke bawah juga terasa akibat inkapabilitas pemerintah untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang setara bagi seluruh anak-anak di Indonesia. Hal ini seolah menjadi lingkaran setan yang terus berputar, tanpa pendidikan yang berkualitas maka seseorang tidak memiliki kompetensi sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan kualifikasi tertentu, sehingga berujung pada kemiskinan.

Meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia akibat persoalan pendidikan menjadi sebuah ironi jika melihat pada amanat konstitusi. Pasal 31 ayat (4) mengisyaratkan besaran dana pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD diluar dari gaji pendidik dan pendidikan kedinasan. Angka yang sebenarnya cukup besar sebagai investasi dalam dunia pendidikan, jika tidak ada penyelewengan. Namun nyatanya, DAU untuk non gaji dan gaji, serta tambahan penghasilan bagi guru PNS daerah, termasuk pula tunjangan profesi guru menjadi bagian dari alokasi anggaran pendidikan dari APBN 2011. Hal ini mengindikasikan adanya pengingkaran terhadap konstitusi, bahkan persentasenya menurun dari tahun 2010 ke tahun 2011 sebesar 1,06%. Rendahnya anggaran tentu memiliki implikasi pada rendahnya kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan di Indonesia yang masih dipertanyakan tercermin dalam indeks pembangunan manusia. Indonesia menempati posisi 124 dari 187 dan indeks pembangunan pendidikan berada pada posisi 0.584 dari nilai maksimal 1 (UNDP, 2011).

Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah atas dasar apa penentuan 20 persen anggaran pendidikan? Jika hanya berdasarkan konstitusi tentu menjadi sebuah omong kosong karena tidak melihat pada kebutuhan nyata dari dunia pendidikan dimana seharusnya dilakukan perencanaan pendidikan atau membuat semacam education planning sehingga jelas berapa persen pengeluaran APBN yang efektif untuk disalurkan kepada dunia pendidikan. Perencanaan dalam pendidikan juga dimaksudkan untuk membangun sasaran-sasaran pendidikan, salah satunya mengentaskan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

Berdasarkan penjabaran yang telah dilakukan, hendaknya pemerintah merencanakan dengan cermat anggaran pendidikan, terutama untuk pembangunan berbagai infrastruktur pendidikan. Tujuannya adalah menjadi investasi jangka panjang pada sumber daya manusia di Indonesia sehingga bisa mengentaskan pengangguran dan kemiskinan yang semakin mewabah.


[1] Penulis adalah Mahasiswi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, angkatan 2009. Penulis mengikuti pertukaran mahasiswa di Mahidol University, Thailand, dalam MIT Student Mobility Program under SEAMEO-RIHED Credit Transfer Program.

20110727

Berlian-Berlian itu Kembali Diasah dalam Annual Gathering CIMB Niaga Scholarship 2011

Sekitar pukul 05.00 WIB saya telah siap lengkap dengan ransel dan tas tangan . Keluar rumah usai solat subuh ditunaikan. Dan lalu dengan sok beraninya membuka pintu kamar dan berjalan di jalanan yang masih gelap gulita, berulagkali menyebut nama Allah saat tidak melihat satu pun orang, nyatanya Allah menjawab dengan beberapa menit kemudian tampak dua pemuda plus tukang ojek yang akhirnya bisa mengantar sampai Gerbatama UI. Alhamdulillah… :D

Takut telat dari waktu janjian dengan Ami (UI), Widot (UNPAD), Erys (ITS), dan Vivin (ITS)… Akhirnya tukang ojek aku suruh ngebut aja, “cepetan Bang, saya sudah telat.” Sampai di halte bisa tersenyum lebar, mereka belum datang. Akhirnya ditemani sama mbak-mbak yang sendirian duduk di halte plus dua bapak-bapak sopir taksi hahahahhaaaa…

20 menit kemudian 2 taksi merapat dan ternyata di dalamnya sudah berisi Ami dan Widot, kami pun menuju Graha Niaga. Entah kenapa sopir taksinya lelet banget, udah disuruh ngebut tetap aja lambreta. Ami pun sms mas tupon karena takut ditinggal. Heheheee pas nyampai dan bayar sekitar Rp 60.000, kami pun bergegas. Teman-teman sudah banyak berdatangan, 3 bus disiapkan. Wawwww busnya lebih besar dan lebih nyaman daripada tahun kemaren. Asyikkkk… Perjalanan yang nyaris tanpa tau jalan karena ketiduran :P (Habisnya ngantuk banget).

Sampai Bumi Niaga, Gunung Geulis, Bogor, sekitar jam 8.30an dilanjutkan dengan makan pagi dan taruh barang sementara karena belum ada pembagian kamar. Perbaikan gizi pun mulai dilakukan, hahahhaaa… ngaku-ngaku!!! Apalagi yang anak kos :P

Hummm dibagikan ID Card sama amplop cokelat yang berisi nama team dan petunjuk. Yihaaaaaa ternyata seharian ini kami disuguhi dengan outbond langsung dari Personal Growth yang menyajikan berbagai permainan seru dan menantang, menjalin kekerabatan, kerjasama yang tak terlupakan, dan kerikil-kerikil kecil penyulut emosi sesaat. Aku dapat team Nasionalisme dengan 11 kru hehehee… Kami berhasil menyelesaikan 5 permainan di sesi 1 dan 7 permainan di sesi 2. Hahahhaaaa… yang paling aku inget waktu main Robot A, berulang kali aku melakukan kesalahan (Hiks… maaf yaaa), tapi untungnya aja nggak jatuh. Seru banget waktu bisa nyampai finish pada teriak, “Horeeeeeeee!!!”.   Outbond-nya jelas berbeda dengan tahun sebelumnya yang boring, PT Bank CIMB Niaga Tbk benar-benar melakukan perbaikan untuk meningkatkan kepuasan para penerima beasiswa, GOOD JOB… Pasti lembar penilaian tahun lalu dijadikan referensi untuk tahun ini, aku sendiri bisa bilang kalau tahun lalu kasih nilai 3 buat sesi outbond, tahun ini aku kasih nilai 9,99 (Nothing is Perfect). Coach-nya pun baik-baik, tapi mungkin ada beberapa yang memasang tampang jutek. Biasalah namanya aja orang, kan kita memang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan segala tipe orang. Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah bagaimana kita mau mendengarkan orang lain dan bagaimana kita memberanikan diri untuk menyatakan pendapat, individualisme benar-benar dikesampingkan, dan saat menghadapi orang yang berbeda maka kita harus memberikan perlakuan yang berbeda pula agar orang tersebut merasa nyaman di dekat kita.

Malamnya adalah acara puncak perform per batch dengan tema “Be The Top Player in the Region : ASEAN FOR YOU”. Award dibagikan pada teman-teman yang berprestasi : The Best Academic, The Best Non Akademik, The Most Inspiratif, The Best academic and non academic. Ckckkckckkkk Prok Prok Prok… Salut pada teman-teman yang berprestasi, selamat yaaaaa. Jadi muncul pertanyaan : Giliranku Kapan? Hahahhahaa… Just Kidding sebagai penyemangat biar bisa berprestasi.

Batch 2 menyuguhkan penampilan yang magic, menyihir aku secara pribadi dan teman-teman batch lain mungkin… Menyihir dalam arti memberikan motivasi tentang prestasi, kebersamaan, persahabatan yang sesungguhnya, cinta sebagai bagian di dalam persahabatan… Ditutup dengan Jingle CIMB Niaga yang dinyanyikan oleh Mbak Icha dan Mas Ari. Annual gathering this year is the last for them, the next step is The Complete Banker (TCB) Program… Berdoa bersama untuk keberhasilan kakak-kakak kita Batch 1 dan Batch 2 yaaa, apapun jabatannya nanti semoga sukes dan jangan lupa sama adik-adiknya ya kak :D

Batch 3 menampilkan opera van java… cerita tentang Briptu Nourman. Tahun lalu batch ini mendapat gelar Juara 1 dengan penampilan yang sangat menghibur dan di tahun ini mereka kembali dengan semangat yang lebih menghibur, mengundang gelak tawa hadirin dalam ruangan.

Batch 4 pun tak kalah berusaha menampilkan yang terbaik, setidaknya usaha pasti berbanding dengan hasil :D Performance batch 4 dimotori oleh Ami, Widot, dan Anna… Jadi mereka bertiga yang mengkonsep semuanya, menarik kan? (Jawabnya harus IYA, hahahhahaaa…) Performance kali ini bercerita tentang bagaimana CIMB Niaga yang saat ini menjadi the best five bank in Indonesia terus bertumbuh dan bertahan kuat dimana pada akhirnya nanti akan menjadi bank terbaik tidak hanya di Indonesia tapi juga di tingkat regional bahkan mendunia.

Batch 5 sebagai pendatang baru menyuguhkan lagu, hummm kalau nggak salah nyanyiin 2 lagu. Adek-adeknya suaranya bagus yaaa, pemberani pula, pedenya top abis apalagi pas perkenalan. Sumpah kalian keren banget, nggak salah Depdiknas dan CIMB Niaga milih kalian putra-putri terbaik bangsa.

Nah ini dia yang terakhir… Batch Overseas, mereka ini yang dapat beasiswa kuliah di Malaysia. Kalo masalah pinter jangan ditanya pasti pinter. Tapi nggak nyangka mereka lucu abissss, gokil, nggak tau lagi. Apalagi yang paling berkesan itu namanya Satria yang katanya sih punya hobi buang malu dan pokoknya sering banget ngeluarin kata-kata, “celalugalauuuu…” Hhahahahaaaa apa mungkin saking stresnya kuliah di Malaysia jadi harus bisa menghibur diri sendiri? Wakakakakkkkkk pokoknya Jempol sebanyak-banyaknya buat kalian, kalian hebat banget nggak cuma pinter tapi juga hebat menghibur, buktinya semua puas dan ketawa. Benarrrr? And… Congratulation for Batch Overseas to be the 1st winner of Performance Batch in Annual Gathering 2011.

Langsung tidur? Nggak dong, sekitar sampai pukul 00.00 masih berkumpul per batch menikmati hasil kemenangan, meskipun ada beberapa orang yang memilih menenggelamkan diri dalam kasur empuk plus pendingin ruangan yang nggak biasa di dapat di kos-kosan heheheee… :D

Besoknya kami dapat ilmu langsung dari maha gurunya NLP, Hingdranata Nikolay. Beliau mengajarkan dengan motivasi, menginspirasi dengan inspiratif, dan membuat kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ternyata kami sendiri sudah tau jawabannya. Dan saat berbicara tentang dilema, beliau meyakinkan bahwa sebenarnya kita tidak sedang dilema karena kita sudah memilih. Aku pun mencoba membuktikannya. Kalau tahun lalu Pak Arif membantuku dengan HypnoTherapy-nya untuk menyembuhkan sementara dari phobia menghadapi ujian. Tahun ini Pak Hing mencoba mengeluarkan aku dari dilema… Hummmm big thanks to Mr Hing, setidaknya sudah dapat jawaban, Pak. Tapi masalahnya sekarang nambah lagi… Tapi agak tenang karena tau cara menghilangkannya. Malamnya ada acaranya semacam apaaa yaaa? Hummm kayak kita dibawa ke alam lain, memasuki 3 pintu dan sukses membuat yang terbawa di alam lain itu menangis menyesal, tersenyum melepas beban, dan lalu menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Amin Ya Allah. Sesi terakhir pembagian buku punya orang yang nanya lebih dari 3 kali alias dapat stiker hijau 3. Hehehheee aku dapetttt buku Coffee for The Mind, keren banget… Wajib beli, wajib baca, inspiratif!!! Oia aku sempet tanya ke Pak Hing gimana kalau mau belajar NLP dan katanya kursusnya 7 hari dengan biaya Rp 15juta… Ayo mengumpulkan uang sendiri, pengen ikutttt… atau ada yang mau bayarin aku? Hehehhee #Ngarep.com. Membayangkan suatu hari nanti menjadi ahli SDM yang juga bisa jadi master NLP jadinya komplit. Pelajaran utama hari ini adalah bagaimana kita memproyeksikan diri untuk masa depan dengan kemampuan masa depan, bukan dengan kemampuan saat ini. So, gimana kita bisa membangun diri untuk memiliki kemampuan masa depan adalah poin pentingnya. I’ll do it, make a map of life for my bright future and I believe you’ll do it too.

Malamnya ada pengenalan program TCB yang sudah ditunggu-tunggu terutama oleh Batch 2 yang hampir semuanya mau lulus (Amin Ya Allah). Muncul berbagai pertanyaan. TCB terbukti tidak mudah dan memang hanya yang terpilih yang bisa masuk ke dalamnya, tapi aku sendiri meyakini bahwa tidak diterima bukan berarti tidak hebat tapi tidak diterima berarti passion kita berada di tempat yang berbeda. Untuk yang satu ini semoga semua diterima Ya Allah… Bismillah… Lalu juga ada sesi pengenalan Ikatan Alumni Beasiswa CIMB Niaga, dilanjutkan dengan acara perkenalan Batch 5 dan Overseas.

Dan esok paginya… Ini adalah hari terakhir menikmati semilir angin sejuk di Bumi Niaga. Berlian-berlian sudah diasah selama 2 hari dengan materi-materi sederhana kaya makna. Saatnya kembali ke kehidupan nyata, kampus dan segala hiruk-pikuknya. Hari ini lebih diisi dengan materi-materi ringan, seperti internship, media, kode etik, plus kebijakan terbaru penerima beasiswa. Pokoknya semua harus win-win solution… :D
Pertemuan… Berakhir dengan perpisahan. Pelukan. Ucapan, “sampai ketemu lagi tahun depan…”, “nggak pengen selesai…”, “masih pengen tetep disini…” Dan kalimat-kalimat lain yang mengundang makna seharusnya perpisahan tidak perlu terjadi. Hehehehee… Tapi kan perpisahan harus terjadi, 3 hari adalah motivasi, hari-hari selanjutnya adalah waktu membangun diri dan menata kehidupan yang lebih baik. Saat bertemu kembali suatu saat nanti maka harus ada perubahan dalam diri yang bisa dilihat orang lain sebagai suatu perubahan positif yang dapat dirasakan aura positifnya bagi orang lain. Saat bertemu nanti maka akan ada perpisahan kembali. Berulang-ulang mengikuti alur kehidupan yang berputar terus menerus seperti roda yang tanpa lelah. Kita adalah bagian dari roda yang terus berputar itu, putarlah rodamu rodaku roda kita… berputarlah terus menuju sosok yang lebih berharga, bermakna, dan berguna. Bukan hanya menjadi berlian yang diasah dalam sekejap dan lalu menjadi arang, bukan… Yakini, kita adalah berlian-berlian yang diasah di Bumi Niaga oleh para profesional dan akan menjadi profesional di masa depan yang lebih dari sekedar profesional. Tanamkan ambisi itu, ambisi positif, Do the best at least for yourself.

Sederhananya tulisan ini, semoga bermakna. Big Thanks to PT Bank CIMB Niaga Tbk dan Depdiknas.
Alia Noor Anoviar,
Beasiswa Unggulan CIMB Niaga Batch 4

20110429

Memandang Disabilitas sebagai Suatu Keunikan, Do You Think So???



-Saat seseorang menjadikan disabilitas yang dimiliki menjadi kapabilitas yang luar biasa.-

Bu Mimi & Bu Dwi Widiastri
Jumat, 29 Maret 2011. Seperti biasa pada sekitar pukul 13.15 saya masuk ke dalam kelas Komunikasi Bisnis di FEUI. Namun suasana kali ini tampak berbeda, bangku-bangku disusun berbentuk U dan ada dua kursi di depan. Seperti yang dijanjikan oleh dosen saya, Bu Dwi Widiastri, kali ini kami akan kedatangan seorang dosen tamu spesial yaitu pemilik dari Mimi Institute, Dra. V. L. Mimi Mariani Lusli, M.Si, M.A. Saat beliau memasuki ruangan, pandangan saya dan teman-teman beralih dan mungkin tidak tampak lagi kebingunggan dalam raut wajah kami karena Bu Dwi sebelumnya telah menjelaskan kondisi dari Bu Mimi.

Dra. V. L. Mimi Mariani Lusli, M.Si, M.A. adalah seorang praktisi pendidikan dan konsultan disabilitas yang ternyata memiliki disabilitas dalam hal penglihatan. Saat usianya 10 tahun penglihatannya mulai menurun, namun dokter terus memberikan harapan kepadanya dengan menyuruhnya mengkonsumsi vitamin-vitamin agar penglihatannya kembali seperti awal. Namun waktu demi waktu berlalu sampai pada usia ke 17 tahun, dokter mengabarkan bahwa penyakitnya tidak bisa disembuhkan dan masih dilakukan penelitian hingga saat ini. “Saat itu saya marah karena dokter baru sekarang mengatakannya pada saya…” ujar Bu Mimi. Tetapi ternyata seiring berjalannya waktu, beliau dapat survive dalam menjalani hidup dan saat ini menjadi salah satu orang yang fokus menangani masalah disabilitas.

Pertanyaan awal yang beliau berikan kepada kami, “apa yang kalian rasakan saat melihat orang cacat?” Jawaban-jawaban pun bermunculan, ada yang bilang ingin menolong, kasihan, hebat, merasa dirinya lebih beruntung, sedih, malu, dan lain-lain. Pada kenyataannya, kecacatan selama ini dipahami sebagai handicap, impairment, dan disability. Namun dari tiga pemahaman tersebut, kata mana yang paling tepat untuk menggambarkan kecacatan? Pertama, saat kecacatan diartikan sebagai handicap berarti kecacatan adalah suatu keterbatasan. Sedangkan keterbatasan tersebut sebenarnya tidak dimiliki oleh orang cacat saja, tetapi juga dimiliki oleh orang normal seperti kita. Kedua, jika kecacatan diartikan sebagai impairment berarti kecacatan menggambarkan sesuatu yang rusak. “Hanya retina saya yang rusak saat saya berusia 10 tahun. Retina hanya bagian dari anggota tubuh saya artinya tidak semua bagian dari tubuh saya yang rusak,” jelasnya. Ketiga, apabila kecacatan dianggap sebagai disabilitas artinya ada ketidakmampuan dalam diri seseorang. Maka kata yang paling pantas untuk menggantikan kata ‘cacat’ yang kerap kali berkonotasi negatif adalah ‘disabilitas’.

Penggunaan kata ‘cacat’ juga harus mulai ditinggalkan karena cacat itu misalnya barang cacat adalah sesuatu yang kesannya harus dibuang, sementara jika kata tersebut digunakan untuk manusia maka akan memiliki kesan kurang menghargai. Selain penggunaan kata ‘cacat’, penggunaan kata ‘tuna’ juga harus dipertimbangkan lagi untuk digunakan. Tuna = Tanpa. Bu Mimi menyatakan, “saya punya mata kok, hanya tidak dapat berfungsi jadi saya bukan tuna netra (tanpa mata).”

UU No 4 Th 1997 tentang penyandang cacat di Indonesia sudah lama, namun hanya segelintir orang yang mengetahui  keberadaannya. Ada beberapa alasan yang mendasari kurang dikenalnya undang-undang tersebut, yaitu kurangnya kepedulian orang di Indonesia terhadap sesama yang memiliki disabilitas dan pemerintah yang kurang dalam melakukan sosialisasi (membuat undang-undang sekedar disimpan dalam laci). International Classification Function (ICF) dari PBB menyatakan bahwa disabilitas mengakibatkan seseorang memiliki body disfunction, activity limitation, participation restriction, personal, and environment. Bu Mimi kembali mencontohkan dirinya dimana dia tidak dapat berpartisipasi di dalam kelas bukan karena lemahnya intelegensi yang dimiliki, tetapi adanya disabilitas yang memutuskan jembatan komunikasinya dengan guru. Misalnya saat guru hanya menggunakan kalimat : “Ini dikali ini sama dengan?”, maka akan ada kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut karena keterbatasan tidak bisa melihat apa yang ditulis di papan. Hal ini tentu akan berbeda saat guru menggunakan kalimat : “Dua dikali tiga sama dengan?”

Indonesia bersama 154 negara lain ikut serta dalam menandatangani Convention on the Right of Person with Disability (CRPD) pada tahun 2007 di Jenewa sehingga seharusnya memiliki tanggung jawab unttuk menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas, namun hal ini belum terlihat nyata. Sarana pendukung aktifitas bagi penyandang disabilitas masih terbatas di Indonesia dan hal ini berbeda dengan apa yang telah dilakukan diluar negeri dimana terdapat ’Layanan Disabilitas’, misalkan (1) saat ingin berbelanja dapat menelpon supermarket lalu penyandang disabilitas akan ditemani berbelanja dan (2) fasilitas umum seperti kendaraan umum yang memiliki tempat duduk khusus bagi penyandang disabilitas dimana masyarakatnya juga memiliki kepeduliaan dengan mengutamakan fasilitas tersebut bagi yang benar-benar membutuhkan. Hal ini berbeda menurut Bu Mimi dengan kondisi di Indonesia, masyarakat bahkan masih banyak yang bersikap acuh seperti saat penyandang disabilitas penglihat menyebrang jalan bukannya membantu tapi malah meneriaki dengan kalimat tidak sopan seperti “Woy mata lo kemana?” atau “Heh gak ngelihat ya?”. Kesadaran untuk menghargai dan menghormati sesama harus ditumbuhkan secara pribadi, tentu tidak dapat diipaksakan pada masing-masing individu. Mungkin ada satu kunci versi saya agar orang dalam kondisi normal memahami kondisi para penyandang disabilitas : “Tanyakan pada diri anda sendiri, bagaimana anda saat berada pada posisi mereka yang terbatas dalam penglihatan, pendengaran, atau keterbatasan-keterbatasan lainnya.”

Pertanyaan selanjutnya yang beliau ajukan, “Saya unik atau abnormal?”. Saat semua menjawab ‘unik’ maka beliau mulai menanyakan alasan mengapa orang mengatakan dirinya unik. “Setiap orang pasti unik karena diciptakan berbeda oleh Tuhan. Coba teman-teman bayangkan, teman-teman kalau baca pakai mata sedangkan saya membaca pakai tangan. Artinya, saya bisa melihat tetapi dengan cara berbeda.” Begitu pula dengan penyandang disabilitas lainnya juga memiliki keunikan. Orang yang tidak dapat mendengar, membaca apa yang dikatakan orang melalui matanya. Orang yang tidak berjalan, kalau normalnya dengan kaki maka mereka dapat berjalan dengan roda. Keunikan itu sendiri sebenarnya wujud dari bhineka tunggal ika yang selama ini mengkoar-koarkan toleransi dalam kehidupan. Disabilitas, sesuatu yang unik bukan?

Tentu tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dalam kondisi terbatas. Keterbatasan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu pre natal, natal, dan past natal. Pre natal adalah kondisi sebelum kelahiran atau pada masa kehamilan misalnya disebabkan oleh keturunan, virus, saat pembuahan janin, atau suami merupakan perokok berat sehingga memang disabilitas pada anak tidak dapat disalahkan secara penuh kepada pihak perempuan. Natal merupakan kondisi saat kelahiran misalkan anak yang lahir prematur lalu terlalu lama di dalam inkubator dengan mata yang tidak tertutup kain hitam sehingga bisa menyebabkan disabilitas penglihatan. Past natal lebih luas lagi pada masa kehidupan seseorang misalnya kecelakaan.

Disabilitas merupakan isu lintas sektoral, bukan hanya sekedar memberikan belas kasih atau charity tetapi bagaimana menghargai mereka yang hidup dalam keterbatasan. Penanganan disabilitas selama ini dibedakan menjadi dua, yaitu model medis dan model sosial. Dalam penerapannya, model sosial yang dianggap paling utama. Lingkungan yang perlu berubah untuk menyesuaikan dengan para penyandang disabilitas karena didalamnya terdapat berbagai variabel, namun hal ini bukan berarti para penyandang disabilitas tidak mau melakukan perubahan, hanya saja mereka tidak mampu untuk melakukannya sehingga membutuhkan aksesbilitas. UUD 1945 Pasal 28 merupakan dasar untuk menjelaskan kewajiban dalam memberikan aksesbilitas bagi mereka.

Lingkungan keluarga memainkan peran sentral dalam menyokong semangat para penyandang disabilitas tersebut. Bu Mimi mengungkapkan, “tidak mudah untuk melabel diri sebagai seorang tuna netra. Awalnya setiap kali ditanya hanya bisa menangis, namun karena keluarga saya menjadi sedikit demi sedikit terbiasa menjalani kehidupan. Mereka membuat saya menjadi lupa dengan kondisi ini…” Saat Bu Mimi divonis dokter tidak bisa disembuhkan, orangtuanya tidak lantas menyalahkan dirinya. Sebaliknya, mereka mengatur berbagai kegiatan sehingga membuat dirinya tidak bengong di rumah. Dari hal-hal kecil yang dilakukan orangtuanya, Bu Mimi menjadi terbiasa menghafal hal-hal disekitarnya sehingga saat penglihatannya benar-benar mulai menghilang maka tidak terlalu menyulitkannya dalam beraktifitas, meskipun memang membutuhkan bantuan orang disekitarnya sebagai fasilitator.

Satu hal lagi yang menarik dari sosok Bu Mimi dan sekaligus cambuk bagi para mahasiswa untuk menjadi lebih bersemangat dalam belajar. Bayangkan bagaimana seseorang dengan disabilitas penglihatan bisa menyelesaikan pendidikan sampai pada S3? Tentu bukan hal mudah jika dibandingkan apabila hal tersebut dilakukan oleh orang normal. Saat SMA, Bu Mimi meminta tolong kepada teman-temannya untuk membacakan buku lalu dia akan merekamnya dengan tape recorder sehingga akan lebih mudah untuk belajar materi yang sama tanpa harus minta tolong dibacakan kembali. Menginjak S1 tentu materi kuliah semakin banyak dan tidak mungkin baginya meminta tolong teman untuk membacakan karena setiap kali ujian bisa dari tiga buku bahkan. Akhirnya setiap 3 minggu sebelum ujian, Bu Mimi selalu menanyakan pada dosen tentang bab-bab mana saja yang akan keluar pada ujian sehingga lebih spesifik bagi dirinya untuk belajar. Akhirnya timbullah simbiosis mutualisme antara Bu Mimi dan teman-temannya sehingga teman-teman Bu Mimi dengan senang hati membantunya belajar dan Bu Mimi dengan senang hati membagi bab berapa saja yang akan menjadi bahan ujian sehingga semuanya mendapat nilai yang baik. “Semua orang bisa mendapatkan keuntungan dari saya,” ucapnya disambut gelak tawa seisi kelas.

Pada penutup sesi, Bu Mimi mengajarkan pada kami tentang bagaimana membantu orang dengan disabilitas penglihatan. Pertama, menawarkan bantuan. Kedua, mengetahui bantuan apa yang dibutuhkan, Ketiga, mengenali karakteristik dari orang tersebut. Selain itu, beliau juga memberitahu bahwa orang dengan tongkat yang memiliki strip merah menandakan orang tersebut mengalami disabilitas penglihatan. Lebih dalam lagi, beliau melakukan simulasi dengan bantuan Diandra, salah satu mahasiswi kombis, untuk memperagakan bagaimana menuntun orang dengan disabilitas penglihatan. Rumus pentingnya adalah 3S yaitu Sapa, Sentuh, dan Salam. Sentuhan dilakukan di bahu tangan agar tidak membentuk hal-hal negatif.

Dari cerita saya yang panjang ini, satu hal yang saya rasa pantas untuk diberikan pada Bu Mimi, yaitu Inspirasional. Sosok itu mampu mengubah disabilitas menjadi kapabilitas. Bahkan beliau bisa membuat buku dengan judul “Helping Children with Sight Loss”. Sangat hebat, bukti bahwa orang dengan disabilitas tidak pantas untuk dipandang rendah. Mereka memiliki keunikan, yang tidak kita miliki sebagai orang biasa. Tugas kita adalah menjadikan mereka sosok yang positif sehingga bisa membangkitkan semangat mereka untuk terus berjalan menjalani hidup ini, menjadi lebih berarti.

 Oleh : Alia Noor Anoviar
Depok, 29 April 2011. Kelas A103.
Kelas Komunikasi Bisnis yang tidak sekedar mengajarkan cara berkomunikasi,
tetapi juga mendatangkan inspirasi berbeda setiap pertemuannya :D
Big Thanks to Ms. Dwi Widiastri

20110423

Perempuan Bukan Komoditas

Mengutip tulisan Arda Dinata (2010), “Perempuan diciptakan Tuhan bukan dari tulang tengkorak pria sehingga hanya bisa menjadi pemikir. Bukan pula dari tulang kaki, yang hanya menurut untuk berjalan. Bukan pula dari tulang tangan yang hanya bisa menengadah dan mengharap belas kasihan. Akan tetapi, wanita diciptakan dari rongga dada seorang pria atau tulang rusuk dimana seluruh pusat kehidupan dimulai dan harus dilindungi.” Ungkapan yang mengatakan bahwa perempuan adalah tiang negara dan surga berada di bawah telapak kaki ibu yang notabene adalah perempuan jelas menempatkan perempuan menjadi kaum yang istimewa. Satu lagi, perempuan diidentikan pula dengan bidadari dunia karena kecantikannya, kelembutannya, kesantunannya, dan seksi ala 3B (Body, Brain, and Behavior).

Berbagai keistimewaan yang dimiliki oleh perempuan tak jarang disalahgunakan atau lebih tepat dieksploitasi secara berlebihan. Sungguh ironi saat penulis membaca berita bersambung ala Radar Jember yang dimulai pada tanggal 6 Januari 2011 dengan topik Menguak “Bisnis Esek-Esek ‘Ayam Kampus’ di Jember”. Dengan gamblang dan jelas pada artikel, para ayam kampus yang bekerja karena desakan ekonomi bahkan adapula yang menikmati pekerjaannya karena materi berlimpah dari cinta satu malam yang dijalani. Bahkan pada edisi 13 diuraikan bahwa kupu-kupu malam kampus tersebut memiliki ‘germo ayam kampus’ yang ternyata juga masih berstatus mahasiswi universitas di Jember. Penulis meyakini bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Jember, tetapi juga kota-kota lainnya di Indonesia sebagaimana pernah diangkat dalam rubrik sosial Majalah Economica edisi 44, BOE Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dimana penulis bernaung.

Metropolis, Jawa Pos (18/01/2011),menguraikan dalam salah satu artikel dengan judul “Dikira Wartawan, Diusir Keluarga Korban” mengenai Solikuniyah, psikolog pendamping korban pemerkosaan dan trafficking. Disebutkan bahwa perempuan yang menjadi korban semakin banyak dimana berusia kurang dari 20 tahun. Tentu sulit untuk menyembuhkan trauma yang dialami korban dan membutuhkan waktu yang tidak singkat, bahkan dari segelintir korban tak jarang yang menjerumuskan diri sebagai kupu-kupu malam permanen karena merasa dirinya terlanjur kotor pasca dijual atau dihinakan.

Ada yang menjerumuskan diri dengan berbagai dalih dan ada yang terjerumuskan dalam profesi yang dianggap oleh masyarakat sebagai profesi sampah. Tentu keberadaan mereka menimbulkan pro-kontra sebagaimana petikan lirik lagu “Kupu-Kupu Malam” yang dinyanyikan Ariel Peterpan, musisi yang menistakan perempuan di titik terendah dengan skandal video porno yang tidak hanya dengan satu perempuan, “Ada yang benci dirinya. Ada yang butuh dirinya. Ada yang berluntut mencintainya. Adapula yang kejam menyiksa dirinya.”

Tidak hanya berprofesi sebagai penghibur sesaat, seringkali ditemui pula perempuan yang suka rela membuat dirinya sendiri pantas dianggap rendah misalnya dengan bergoyang seronok, memakai pakaian yang sangat minim, dan berlaku genit kepada kaum adam seperti yang dilakoni para remaja dalam masa pencarian jati dirinya, juga para punggawa layar kaca.

Perempuan bukan komoditas. Komoditas ekonomi yang seringkali dibarter dengan beberapa lembar ratus ribu rupiah. Komoditas politik yang menjadi magnet penarik massa terutama saat pemilu berlangsung dimana perempuan menjadi ikon panggung penghibur. Komoditas sosial yang termakan oleh globalisasi sehingga menggunakan pakaian tak layak pakai. Bukan pula sebagai komoditas budaya dimana menggunakan konsep tradisional, dikekang oleh pria dan hidup tanpa kebebasan. Perempuan laksana berlian jika diasah dengan benar dan dapat pula menjadi arang jika dibiarkan hidup dalam kenistaan.

Oleh : Alia Noor Anoviar
Dimuat dalam Jawa Pos For Her