Showing posts with label Media. Show all posts
Showing posts with label Media. Show all posts

20120528

SUMA SINDO Edisi 28/05/2012 : Pariwisata di Era Otda

SUARA MAHASISWA, Pariwisata di Era Otda
Monday, 28 May 2012 
Hakikat otonomi daerah (otda) adalah mendekatkan sistem pengelolaan sumber daya alam (SDA) pada masyarakat daerah sehingga mereka merasakan manfaat ekonomi dari eksplorasi tersebut.

Namun, banyak daerah yang sangat menggantungkan modal pembangunan hanya bertumpu pada SDA sehingga laju eksploitasi SDA kurang terkendali dan semakin menipis karena kurang memperhatikan pelestariannya (Wuri Handoko,2011). Sekjen UNWTO Taleb D Rifai (2012) mengakui pertumbuhan pariwisata Asia Tenggara dan Asia Selatan merupakan yang terbaik di dunia di mana pertumbuhan kunjungan wisman sebesar 4,4% yang didukung dengan semakin tingginya minat terhadap sektor pariwisata akan menjadi sebuah harapan berkembangnya sektor pariwisata di Indonesia.

Namun, patut disayangkan karena pembangunan pariwisata hanya berorientasi di Pulau Jawa dan Bali. Guru Besar Universitas Udayana Wayan Windia (2011), merujuk pada hasil penelitian dan pengkajian yang dilakukan SCETO (1957), mengatakan bahwa Pulau Bali sudah mengalami titik jenuh dan pembangunan sektor pariwisata tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

Sudah selayaknya pengembangan pariwisata diarahkan ke luar Bali sehingga mampu memberi dampak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ide tersebut sangat mungkin dilakukan mengingat masingmasing daerah di Indonesia memiliki atraksi wisata seperti natural resources; man made resources; dan human resources.

Potensi itu menjadi peluang pemberdayaan pariwisata lokal sehingga mampu mengangkat eksistensi kepariwisataan nasional.Artinya, terdapat urgensi pembangunan kepariwisataan masing-masing daerah terutama oleh pemerintah daerah di era otonomi daerah. Pada konteks ini mahasiswa dapat mengambil peran dalam upaya pemberdayaan potensi daerah.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa harus mampu mengambil inisiatif atas peluang yang belum tertangkap dan meningkatkan sistem,menemukan pendekatan baru, dan menciptakan solusi terhadap perubahan masyarakat dengan lebih baik salah satunya melalui pengembangan sektor pariwisata daerah. Sebagaimana diketahui bahwa mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia tersebar di seluruh universitas di Indonesia.

Hal ini menjadi sebuah potensi saat para mahasiswa tersebut untuk memperkenalkan dan mengeksplor destinasi wisata daerahnya misalnya melalui blog pribadi. Juga membawa ilmu yang dipelajari secara teoritis menjadi aplikatif pada sektor pariwisata daerah serta melakukan kerja sama atau mendorong pemerintah daerah untuk membangun atau memperbaiki pariwisata lokal.●        

ALIA NOOR ANOVIAR
Mahasiswi Manajemen SDM,
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,
Penerima Beasiswa Unggulan CIMB Niaga        

link : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/498451/

20120315

Koran Harian Seputar Indonesia 16/03/2012, Relevansi BLT

SUARA MAHASISWA, Relevansi BLT

Friday, 16 March 2012

Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi telah resmi disahkan dalam Perpres Nomor 15 Tahun 2012. Penjelasannya, kenaikan harga BBM sebesar Rp1.500 merupakan implikasi dari harga minyak mentah Indonesia yang telah mencapai level USD121,75 per barel (Februari 2012).


 
Menteri ESDM Jero Wacik mengutarakan bahwa harga bahan bakar sekarang sudah tidak valid karena melebihi asumsi yang ditetapkan APBN 2012 sebesar USD90 per barel sehingga semakin memberatkan beban subsidi. Salah satu dampak negatif yang dikhawatirkan dari kenaikan harga BBM adalah meningkatnya jumlah rakyat miskin yang diprediksi akan naik sebesar 1,5%.



Karena itu, guna mengantisipasinya maka pemerintah mengeluarkan kebijakan tandingan berupa peningkatan nominal bantuan langsung tunai (BLT) yang sekarang diberi nama bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) kepada rakyat miskin sebesar Rp150.000 dari sebelumnya Rp100.000 per keluarga selama 9 bulan, serta beberapa kompensasi lain seperti raskin,beasiswa,dan subsidi transportasi. Sebelum program BLSM ini benar-benar diwujudkan, pemerintah sebaiknya melakukan kajian ulang terkait berapa jumlah rakyat miskin yang layak mendapatkan dana.



Harus ada pula data detail terkait berapa rakyat yang sangat miskin, miskin, dan hampir miskin. Jangan sampai muncul rakyat yang mengaku miskin dan rakyat miskin yang justru semakin tenggelam dalam kemiskinan.Selain itu harus juga dipertimbangkan tentang sejarah implementasi BLSM yang terbukti menjadi lahan basah bagi koruptor,mekanisme penyaluran yang rumit, tidak tepat sasaran, dan evaluasinya samar. Dengan kembali menerapkan program BLSM berarti pemerintah mengulang kesalahan yang sama, seolah memberi ikan, bukan umpan, yang memanjakan rakyat miskin.



Pembangunan infrastruktur untuk membuka lapangan kerja, serta kesehatan dan pendidikan gratis dapat dijadikan alternatif kompensasi pembatasan subsidi BBM yang lebih relevan diterapkan di Indonesia, dibandingkan mengeluarkan kembali kebijakan model lama yang pernah terbukti ketidakberhasilannya. 



ALIA NOOR ANOVIAR

Mahasiswi Manajemen SDM Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia; Penerima Beasiswa Unggulan CIMB Niaga

20120303

Suara Mahasiswa SINDO, edisi 3/3/2012

SUARA MAHASISWA, Dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Pejabat


Koran Harian Seputar Indonesia
Saturday, 03 March 2012

Premanisme secara harfiah berasal dari bahasa Belanda yaitu vrijman berarti orang bebas atau merdeka dan isme berarti aliran, yang apabila diartikan merujuk pada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.

Premanisme memang identik dengan pemerasan di jalanan,namun apabila merujuk pada definisinya, premanisme dapat pula digunakan untuk mencerminkan pemerintahan korup di Indonesia yang dijalankan oleh segelintir pejabat dengan memeras hak rakyat dengan cara yang lebih elite dan modern. 

Premanisme modern menunjukkan kondisi di mana para pejabat leluasa mendapatkan penghasilan terutama dari memeras kelompok masyarakat yaitu rakyat dengan menggunakan kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki, dilakukan dengan teradministrasi, dan terorganisasi, bahkan kadang melibatkan lebih dari satu pejabat dari beberapa institusi. 

Hal ini bisa dibuktikan dengan data yang dilansir KPK melalui Busyro Muqoddas (2012) di mana selama 2011 terdapat 56.000 laporan perkara korupsi dari seluruh Indonesia yang setelah diselidiki berhulu pada proses politik.Survei ICW juga menunjukkan bahwa 2012 akan menjadi tahun awas APBN, aset negara, serta konsesi sumber daya alam Indonesia karena partai politik disinyalir akan semakin agresif mencari sumber dana jelang Pileg dan Pilpres 2014. 

Sepertinya pada 2012 Indonesia akan bertengger pada posisi yang sama sebagai negara terkorup versi Political and Economic Risk Consultancy (PERC) apabila tidak mampu melumpuhkan premanisme modern yang kini terjadi dengan bebasnya.Semboyan demokrasi yang telah bergeser menjadi ‘Dari Rakyat,oleh Rakyat, dan untuk Pejabat’ harus dikembalikan ke asalnya yaitu ‘Dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat’. 

Guna mewujudkan itu tentu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau KPK, tapi juga harus ada gerakan seluruh elemen rakyat untuk menjadikan Indonesia sebagai zona bebas premanisme modern.

● ALIA NOOR ANOVIAR Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sedang Mengikuti Pertukaran Pelajar di International Business, Mahidol University International College (MUIC), Thailand 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/474404/

20120126

Koran Seputar Indonesia Kolom Suara Mahasiswa Edisi Cetak, 26/01/2012

Rencana Anggaran untuk Aksesibilitas Pendidikan

Oleh : Alia Noor Anoviar [1]



Ketimpangan dunia pendidikan antar daerah di Indonesia sangat tampak terlihat, terutama infrastruktur pendidikan antara desa dan kota. Selain itu, terbatasnya aksesibilitas pendidikan antara kalangan menengah ke atas dan menengah ke bawah juga terasa akibat inkapabilitas pemerintah untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang setara bagi seluruh anak-anak di Indonesia. Hal ini seolah menjadi lingkaran setan yang terus berputar, tanpa pendidikan yang berkualitas maka seseorang tidak memiliki kompetensi sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan kualifikasi tertentu, sehingga berujung pada kemiskinan.

Meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia akibat persoalan pendidikan menjadi sebuah ironi jika melihat pada amanat konstitusi. Pasal 31 ayat (4) mengisyaratkan besaran dana pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD diluar dari gaji pendidik dan pendidikan kedinasan. Angka yang sebenarnya cukup besar sebagai investasi dalam dunia pendidikan, jika tidak ada penyelewengan. Namun nyatanya, DAU untuk non gaji dan gaji, serta tambahan penghasilan bagi guru PNS daerah, termasuk pula tunjangan profesi guru menjadi bagian dari alokasi anggaran pendidikan dari APBN 2011. Hal ini mengindikasikan adanya pengingkaran terhadap konstitusi, bahkan persentasenya menurun dari tahun 2010 ke tahun 2011 sebesar 1,06%. Rendahnya anggaran tentu memiliki implikasi pada rendahnya kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan di Indonesia yang masih dipertanyakan tercermin dalam indeks pembangunan manusia. Indonesia menempati posisi 124 dari 187 dan indeks pembangunan pendidikan berada pada posisi 0.584 dari nilai maksimal 1 (UNDP, 2011).

Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah atas dasar apa penentuan 20 persen anggaran pendidikan? Jika hanya berdasarkan konstitusi tentu menjadi sebuah omong kosong karena tidak melihat pada kebutuhan nyata dari dunia pendidikan dimana seharusnya dilakukan perencanaan pendidikan atau membuat semacam education planning sehingga jelas berapa persen pengeluaran APBN yang efektif untuk disalurkan kepada dunia pendidikan. Perencanaan dalam pendidikan juga dimaksudkan untuk membangun sasaran-sasaran pendidikan, salah satunya mengentaskan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

Berdasarkan penjabaran yang telah dilakukan, hendaknya pemerintah merencanakan dengan cermat anggaran pendidikan, terutama untuk pembangunan berbagai infrastruktur pendidikan. Tujuannya adalah menjadi investasi jangka panjang pada sumber daya manusia di Indonesia sehingga bisa mengentaskan pengangguran dan kemiskinan yang semakin mewabah.


[1] Penulis adalah Mahasiswi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, angkatan 2009. Penulis mengikuti pertukaran mahasiswa di Mahidol University, Thailand, dalam MIT Student Mobility Program under SEAMEO-RIHED Credit Transfer Program.

20110817

Moratorium TKI, Wacana Tanpa Aksi

residen terpilih Indonesia 2 periode berturut-turut, Susilo Bambang Yudhoyono, pada Juni 2011 lalu mengeluarkan ‘InstruksiPresiden’ untuk melakukan moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi dan Negara Timur Tengah terkait dengan kasus kematian Ruyati, TKI di Arab Saudi yang dihukum mati dengan tuduhan telah membunuh majikannya. Sebuah wacana yang menunjukkan kepedulian pemimpin bangsa melihat kejinya perlakuan bangsa lain terhadap bangsanya. Harga diri benar-benar terinjak dan moratorium TKI dianggap sebagai harga mati untuk melakukan evaluasi, perbaikan terhadap pasar tenaga kerja di Indonesia.

Tertanam optimisme dalam diri ini sebagai bagian dari generasi muda yang terkagum akan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Keyakinan akan pembantu presiden yang akan mengeksekusi kebijakan yang telah diumumkan di depan public melalui media massa nasional. Moratorium TKI yang katanya akan dilakukan per 1 Agustus 2011 itu diyakini akan mampu menunjukkan pada dunia internasional bahwa Indonesia bukan bangsa yang sembarangan, bukan bangsa yang bisa diinjak-injak, bukan bangsa yang tidak membela para pahlawan devisa, juga merupakan bangsa yang sangat menghargai warga negaranya lebih baik daripada pembelaan yang dilakukan Australia pada sapi impornya di Indonesia.

Namun sayangnya, ketidaktegasan pemimpin Indonesia saat ini tidak  perlu lagi dipertanyakan, jelas terlihat ketidakkonsistenan yang dibiarkan. Menjadi wajar saat banyak dari pemilih di pemilu 2009 lalu yang menyesali pilihannya. Tidak perlu diherankan jika masyarakat di Indonesia mulai menginginkan lengsernya Susilo Bambang Yudhoyono lengkap denganKabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 yang korup. Bahkan saya yang selama ini begitu mengagumi Beliau menjadi tidak mampu lagi mengeluarkan kalimat-kalimat pembelaan seperti yang selama ini saya lakukan saat teman-teman mengeluarkan kritik-kritik pedas semasa kepemimpinannya.

Per 2 Agustus 2011, BNP2TKI sebagaimana yang dinyatakan oleh J. Hidayat dengan gampangnya mentolerir keterlambatan moratorium TKI. Sepertinya benar, aturan dibuat untuk dilanggar. Aturan dibuat hanya sekedar melegakan rakyat, hanya sementara, hanya sesaat saja. Penyaluran TKI ke Arab Saudi dan Negara Timur Tengah lainnya masih dilaksanakan hingga saat ini, bahkan data menunjukkan hingga September 2011 pengiriman akan tetap dilakukan. Alasan klasik dikeluarkan oleh para penyalur pahlawan devisa tersebut. Mulai dari dokumen yang sudah siap sebelum kebijakan moratorium TKI diwacanakan hingga harga tiket pesawat yang kebetulan sedang murah sehingga pengiriman baru bisa dilaksanakan.

Migrant Care mengkritik keterlambatan moratorium TKI dimana seharusnya para pembantu Presiden RI mampu mengeksekusi ‘Instruksi Presiden’ yang terlanjur dikeluarkan. Pertanyaan besarnya saat ini adalah : Apakah Instruksi Presiden Terkait Moratorium TKI ke Arab Saudi dan Negara Timur Tengah Lainnya Hanya Akan Menjadi Sebuah Sejarah Dimana Pemimpin Kembali Menelan Sendiri Ludahnya???

Oleh : Alia Noor Anoviar
Manajemen SDM, FEUI, 2009.
 6 Agustus 2011. 

Tulisan sebelumnya :
http://kampus.okezone.com/read/2011/06/29/367/473898/moratorium-tki-momen-evaluasi-mengendalikan-penawaran-tki

Dapat diakses pula di :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=115195995244561

20110727

Berlian-Berlian itu Kembali Diasah dalam Annual Gathering CIMB Niaga Scholarship 2011

Sekitar pukul 05.00 WIB saya telah siap lengkap dengan ransel dan tas tangan . Keluar rumah usai solat subuh ditunaikan. Dan lalu dengan sok beraninya membuka pintu kamar dan berjalan di jalanan yang masih gelap gulita, berulagkali menyebut nama Allah saat tidak melihat satu pun orang, nyatanya Allah menjawab dengan beberapa menit kemudian tampak dua pemuda plus tukang ojek yang akhirnya bisa mengantar sampai Gerbatama UI. Alhamdulillah… :D

Takut telat dari waktu janjian dengan Ami (UI), Widot (UNPAD), Erys (ITS), dan Vivin (ITS)… Akhirnya tukang ojek aku suruh ngebut aja, “cepetan Bang, saya sudah telat.” Sampai di halte bisa tersenyum lebar, mereka belum datang. Akhirnya ditemani sama mbak-mbak yang sendirian duduk di halte plus dua bapak-bapak sopir taksi hahahahhaaaa…

20 menit kemudian 2 taksi merapat dan ternyata di dalamnya sudah berisi Ami dan Widot, kami pun menuju Graha Niaga. Entah kenapa sopir taksinya lelet banget, udah disuruh ngebut tetap aja lambreta. Ami pun sms mas tupon karena takut ditinggal. Heheheee pas nyampai dan bayar sekitar Rp 60.000, kami pun bergegas. Teman-teman sudah banyak berdatangan, 3 bus disiapkan. Wawwww busnya lebih besar dan lebih nyaman daripada tahun kemaren. Asyikkkk… Perjalanan yang nyaris tanpa tau jalan karena ketiduran :P (Habisnya ngantuk banget).

Sampai Bumi Niaga, Gunung Geulis, Bogor, sekitar jam 8.30an dilanjutkan dengan makan pagi dan taruh barang sementara karena belum ada pembagian kamar. Perbaikan gizi pun mulai dilakukan, hahahhaaa… ngaku-ngaku!!! Apalagi yang anak kos :P

Hummm dibagikan ID Card sama amplop cokelat yang berisi nama team dan petunjuk. Yihaaaaaa ternyata seharian ini kami disuguhi dengan outbond langsung dari Personal Growth yang menyajikan berbagai permainan seru dan menantang, menjalin kekerabatan, kerjasama yang tak terlupakan, dan kerikil-kerikil kecil penyulut emosi sesaat. Aku dapat team Nasionalisme dengan 11 kru hehehee… Kami berhasil menyelesaikan 5 permainan di sesi 1 dan 7 permainan di sesi 2. Hahahhaaaa… yang paling aku inget waktu main Robot A, berulang kali aku melakukan kesalahan (Hiks… maaf yaaa), tapi untungnya aja nggak jatuh. Seru banget waktu bisa nyampai finish pada teriak, “Horeeeeeeee!!!”.   Outbond-nya jelas berbeda dengan tahun sebelumnya yang boring, PT Bank CIMB Niaga Tbk benar-benar melakukan perbaikan untuk meningkatkan kepuasan para penerima beasiswa, GOOD JOB… Pasti lembar penilaian tahun lalu dijadikan referensi untuk tahun ini, aku sendiri bisa bilang kalau tahun lalu kasih nilai 3 buat sesi outbond, tahun ini aku kasih nilai 9,99 (Nothing is Perfect). Coach-nya pun baik-baik, tapi mungkin ada beberapa yang memasang tampang jutek. Biasalah namanya aja orang, kan kita memang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan segala tipe orang. Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah bagaimana kita mau mendengarkan orang lain dan bagaimana kita memberanikan diri untuk menyatakan pendapat, individualisme benar-benar dikesampingkan, dan saat menghadapi orang yang berbeda maka kita harus memberikan perlakuan yang berbeda pula agar orang tersebut merasa nyaman di dekat kita.

Malamnya adalah acara puncak perform per batch dengan tema “Be The Top Player in the Region : ASEAN FOR YOU”. Award dibagikan pada teman-teman yang berprestasi : The Best Academic, The Best Non Akademik, The Most Inspiratif, The Best academic and non academic. Ckckkckckkkk Prok Prok Prok… Salut pada teman-teman yang berprestasi, selamat yaaaaa. Jadi muncul pertanyaan : Giliranku Kapan? Hahahhahaa… Just Kidding sebagai penyemangat biar bisa berprestasi.

Batch 2 menyuguhkan penampilan yang magic, menyihir aku secara pribadi dan teman-teman batch lain mungkin… Menyihir dalam arti memberikan motivasi tentang prestasi, kebersamaan, persahabatan yang sesungguhnya, cinta sebagai bagian di dalam persahabatan… Ditutup dengan Jingle CIMB Niaga yang dinyanyikan oleh Mbak Icha dan Mas Ari. Annual gathering this year is the last for them, the next step is The Complete Banker (TCB) Program… Berdoa bersama untuk keberhasilan kakak-kakak kita Batch 1 dan Batch 2 yaaa, apapun jabatannya nanti semoga sukes dan jangan lupa sama adik-adiknya ya kak :D

Batch 3 menampilkan opera van java… cerita tentang Briptu Nourman. Tahun lalu batch ini mendapat gelar Juara 1 dengan penampilan yang sangat menghibur dan di tahun ini mereka kembali dengan semangat yang lebih menghibur, mengundang gelak tawa hadirin dalam ruangan.

Batch 4 pun tak kalah berusaha menampilkan yang terbaik, setidaknya usaha pasti berbanding dengan hasil :D Performance batch 4 dimotori oleh Ami, Widot, dan Anna… Jadi mereka bertiga yang mengkonsep semuanya, menarik kan? (Jawabnya harus IYA, hahahhahaaa…) Performance kali ini bercerita tentang bagaimana CIMB Niaga yang saat ini menjadi the best five bank in Indonesia terus bertumbuh dan bertahan kuat dimana pada akhirnya nanti akan menjadi bank terbaik tidak hanya di Indonesia tapi juga di tingkat regional bahkan mendunia.

Batch 5 sebagai pendatang baru menyuguhkan lagu, hummm kalau nggak salah nyanyiin 2 lagu. Adek-adeknya suaranya bagus yaaa, pemberani pula, pedenya top abis apalagi pas perkenalan. Sumpah kalian keren banget, nggak salah Depdiknas dan CIMB Niaga milih kalian putra-putri terbaik bangsa.

Nah ini dia yang terakhir… Batch Overseas, mereka ini yang dapat beasiswa kuliah di Malaysia. Kalo masalah pinter jangan ditanya pasti pinter. Tapi nggak nyangka mereka lucu abissss, gokil, nggak tau lagi. Apalagi yang paling berkesan itu namanya Satria yang katanya sih punya hobi buang malu dan pokoknya sering banget ngeluarin kata-kata, “celalugalauuuu…” Hhahahahaaaa apa mungkin saking stresnya kuliah di Malaysia jadi harus bisa menghibur diri sendiri? Wakakakakkkkkk pokoknya Jempol sebanyak-banyaknya buat kalian, kalian hebat banget nggak cuma pinter tapi juga hebat menghibur, buktinya semua puas dan ketawa. Benarrrr? And… Congratulation for Batch Overseas to be the 1st winner of Performance Batch in Annual Gathering 2011.

Langsung tidur? Nggak dong, sekitar sampai pukul 00.00 masih berkumpul per batch menikmati hasil kemenangan, meskipun ada beberapa orang yang memilih menenggelamkan diri dalam kasur empuk plus pendingin ruangan yang nggak biasa di dapat di kos-kosan heheheee… :D

Besoknya kami dapat ilmu langsung dari maha gurunya NLP, Hingdranata Nikolay. Beliau mengajarkan dengan motivasi, menginspirasi dengan inspiratif, dan membuat kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ternyata kami sendiri sudah tau jawabannya. Dan saat berbicara tentang dilema, beliau meyakinkan bahwa sebenarnya kita tidak sedang dilema karena kita sudah memilih. Aku pun mencoba membuktikannya. Kalau tahun lalu Pak Arif membantuku dengan HypnoTherapy-nya untuk menyembuhkan sementara dari phobia menghadapi ujian. Tahun ini Pak Hing mencoba mengeluarkan aku dari dilema… Hummmm big thanks to Mr Hing, setidaknya sudah dapat jawaban, Pak. Tapi masalahnya sekarang nambah lagi… Tapi agak tenang karena tau cara menghilangkannya. Malamnya ada acaranya semacam apaaa yaaa? Hummm kayak kita dibawa ke alam lain, memasuki 3 pintu dan sukses membuat yang terbawa di alam lain itu menangis menyesal, tersenyum melepas beban, dan lalu menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Amin Ya Allah. Sesi terakhir pembagian buku punya orang yang nanya lebih dari 3 kali alias dapat stiker hijau 3. Hehehheee aku dapetttt buku Coffee for The Mind, keren banget… Wajib beli, wajib baca, inspiratif!!! Oia aku sempet tanya ke Pak Hing gimana kalau mau belajar NLP dan katanya kursusnya 7 hari dengan biaya Rp 15juta… Ayo mengumpulkan uang sendiri, pengen ikutttt… atau ada yang mau bayarin aku? Hehehhee #Ngarep.com. Membayangkan suatu hari nanti menjadi ahli SDM yang juga bisa jadi master NLP jadinya komplit. Pelajaran utama hari ini adalah bagaimana kita memproyeksikan diri untuk masa depan dengan kemampuan masa depan, bukan dengan kemampuan saat ini. So, gimana kita bisa membangun diri untuk memiliki kemampuan masa depan adalah poin pentingnya. I’ll do it, make a map of life for my bright future and I believe you’ll do it too.

Malamnya ada pengenalan program TCB yang sudah ditunggu-tunggu terutama oleh Batch 2 yang hampir semuanya mau lulus (Amin Ya Allah). Muncul berbagai pertanyaan. TCB terbukti tidak mudah dan memang hanya yang terpilih yang bisa masuk ke dalamnya, tapi aku sendiri meyakini bahwa tidak diterima bukan berarti tidak hebat tapi tidak diterima berarti passion kita berada di tempat yang berbeda. Untuk yang satu ini semoga semua diterima Ya Allah… Bismillah… Lalu juga ada sesi pengenalan Ikatan Alumni Beasiswa CIMB Niaga, dilanjutkan dengan acara perkenalan Batch 5 dan Overseas.

Dan esok paginya… Ini adalah hari terakhir menikmati semilir angin sejuk di Bumi Niaga. Berlian-berlian sudah diasah selama 2 hari dengan materi-materi sederhana kaya makna. Saatnya kembali ke kehidupan nyata, kampus dan segala hiruk-pikuknya. Hari ini lebih diisi dengan materi-materi ringan, seperti internship, media, kode etik, plus kebijakan terbaru penerima beasiswa. Pokoknya semua harus win-win solution… :D
Pertemuan… Berakhir dengan perpisahan. Pelukan. Ucapan, “sampai ketemu lagi tahun depan…”, “nggak pengen selesai…”, “masih pengen tetep disini…” Dan kalimat-kalimat lain yang mengundang makna seharusnya perpisahan tidak perlu terjadi. Hehehehee… Tapi kan perpisahan harus terjadi, 3 hari adalah motivasi, hari-hari selanjutnya adalah waktu membangun diri dan menata kehidupan yang lebih baik. Saat bertemu kembali suatu saat nanti maka harus ada perubahan dalam diri yang bisa dilihat orang lain sebagai suatu perubahan positif yang dapat dirasakan aura positifnya bagi orang lain. Saat bertemu nanti maka akan ada perpisahan kembali. Berulang-ulang mengikuti alur kehidupan yang berputar terus menerus seperti roda yang tanpa lelah. Kita adalah bagian dari roda yang terus berputar itu, putarlah rodamu rodaku roda kita… berputarlah terus menuju sosok yang lebih berharga, bermakna, dan berguna. Bukan hanya menjadi berlian yang diasah dalam sekejap dan lalu menjadi arang, bukan… Yakini, kita adalah berlian-berlian yang diasah di Bumi Niaga oleh para profesional dan akan menjadi profesional di masa depan yang lebih dari sekedar profesional. Tanamkan ambisi itu, ambisi positif, Do the best at least for yourself.

Sederhananya tulisan ini, semoga bermakna. Big Thanks to PT Bank CIMB Niaga Tbk dan Depdiknas.
Alia Noor Anoviar,
Beasiswa Unggulan CIMB Niaga Batch 4

20110714

Ini Ceritaku Ala Peserta... Mana Ceritamu PPB#5?

Datang :
Setengah terpanggang rasanya di kereta api ekonomi Logawa hahahhaaaa... dan akhirnya bisa sampai di Lempuyangan dijemput Ami :D Terus ke sekre BEM UGM dan melanjutkan makan di foodcourt-nya. Disambut dengan lambaian tangan beberapa panitia. Menyenangkan tapi... capek!!! Terus ke rumah Fina untuk menginap semalam hmmm... Malamnya makan nasi bakar. ^_^

Hari Pertama :
Seminar nasional, sempat binggung cari tempatnya sama Fina. Hahahahaaa dengan bawaan seabrek itu dan sempat salah kostum. Awalnya pakai celana dan kaos, terus kata Fina disuruh lebih formal. Hiks... karena nggak bawa almamater akhirnya pakai blazer hitam dan terusan yang sebenarnya mirip 'gaun' untuk hari terakhir. Sepertinya kali ini lebih salah kostum karena setelah bedah buku Keydo naik truk TNI hahahhaaa rasanya pengen nangis :) Sampai di Akmil disuruh cepat2 turun sambil dibentak-bentak dan rok bagian bawah akhirnya robek (untung nggak ada yang tau kan? heheheheee...). Upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan tidur. Oiya jujur aku takut sama bapak2 TNI-nya huhuhuuuuu. Dapet giliran jaga serambi cewek pertama.

Hari Kedua :
Tuhan, disuruh bangun jam 04.30 buat olahraga. Biasanya bangun jam 5, ini bangun jam 4. Mana dingin banget, padahal sebelumnya di Surabaya nggak ada dingin2nya malah panas. Oke sipppplah masih semangat. Disuruh siap2 jam 5.30 buat makan pagi. Untungnya nggak telat karena yang telat disuruh jalan jongkok heheheheee lucu plus kasihan ngelihat mereka. Hihihihiii
Aku sempat kaget makan pagi pakai upacara dan formalitas yang terasa asing. Tapi kan memang harus beradaptasi. Terus belajar PBB hahahahaaa asli nih sama Pak Soleh lucu banget. Apalagi pas dia bilang, "ehhhh Mbak Cantek disana..." Aku noleh2 siapa yang dipanggil terus dia bilang, "iya kamu..." Hahahhahaa tapi kayaknya ini bapak lebih lama cerita keluarganya deh ckckckkckkk sangat menghibur.
Makan siang, terus dapat pelajaran2 dari bapak2 TNI... menyenangkan!!! Ternyata mereka tidak galak, tidak ngeri, dan mudah membaur dengan mahasiswa.

Hari Ketiga :
Hari ini bener2 ngerasa dikerjain. Jadi ketua Pleton 1 terus disuruh kenalan paling pertama sama Pak Mustofa (Katanya paling galak, ternyata mengesankan.) Makan pagi dan makan siang pun disuruh nyiapin sama Pak Widodo dan Pak Wawan (Nggak bisa nolak!!!), tapi pas makan malam berhasil menghindar dengan alasan, "pak saya udah dua kali biar teman-teman lain nyoba :P."
Tetap dapet materi2 yang benar-benar menyenangkan hehehheee apalagi hari ini pematerinya lebih ke analisa sosial, ada bu Denny pula yang ahli banget masalah ekonomi menjelaskan dengan gayanya yang benar-benar bikin seisi ruangan (sepertinya) kagum. Oiya selain itu juga diskusi kelompok dipimpin kak Syaugi...
Tapi tapiiii ada kejadian memalukan pas disuruh nyoba mimpin upacara sebelum kelas, harusnya dua langkah ke kanan tapi malah kayak suster ngesot. Alhasil diketawain anak-anak sekelas hiks... dan Pak TNI-nya niruin gayaku tadi huwaaaaaaaaaaaaaa (TUTUP MUKA)

Hari keempat :
Sedih... mau ninggalin Akmil, padahal udah mulai betah. Jujur, awalnya yakin pasti sakit di Akmil karena disuruh panas-panasan karena dari SD memang nggak pernah ikut gerak jalan dan semacamnya. Tapi kalau pusing atau lemas aku nyoba nahan aja dan surprise ternyata nggak ambruk. Alhamdulillah.
Mulai mendekat dengan teman-teman dari penjuru Indonesia yang didominasi mahasiswa UGM... :D
Sekitar jam 12an melaju ke shelter Merapi tepatnya di Godang 2. Hmmmm suasanya baru yang berdebu cukup membuat sesak sementara. Terus jalan ke shelter, perkenalan. Heheee jadi koordinator buat cewek-cewek (padahal waktu ngajuin saran maksudnya bukan aku yang jadi koordinatornya). Ke tempat penginapan yang asli gelap gulita, lolongan anjing, tapi karena koordinator jadi harus sok berani berdiri di paling depan bareng Dira dan Fina. hahahahhaaa... Disana kamar mandinya serem gila tapi kata salah satu panitia, Taufik, "itu juga udah bagus, aku sama (lupa siapa) yang nguras airnya." Hahahahaa makasih untuk kalian berdua, kalo nggak pasti suasananya tambah horor.

Hari Kelima :
Berinteraksi dengan lingkungan, kerja bakti. Hahahhaaa ini juga pertama kalinya aku kerja bakti, nyapu2 gitu. Ternyata seru bareng-bareng sambil beresin bangku-bangku, nyuci dari debu, dan tra lalalallalalaaaaa bersih :P
Terus ada outbond niiii hehehehee seru aku di Team 3 mmmmm mengasyikkan bikin yel2 terus ada 4 tantangan. Tapi mau protes deh, di tantangan ke empat itu kan nginjek rafia terus kenapa aku dilempar 4 air? Huwaaaaaaaaaaaa kan jadinya aku waktu itu 'sedikit' ngambek gara2 tinggal ada 1 baju... Hehehheeee tapi panitianya sepertinya agak nggak enak juga yaaa, ada 2 orang minta maaf hehehee :D Aku minta maaf juga yaaa udah ngambek.
Yang paling seru dari outbond adalah pas disuruh pukul ember, asli binggungnya!!! ^_^

Hari Keenam :
Materi-materi seperti biasa. Terakhir kunjungan ke warga dan analisa. Hmmm waktu perkenalan panitia dan alumni sempet jadi satu-satunya calon cwe buat koordinator angkatan hahahahhaaa tapi udah yakin yang jadi pasti cowoknya, gimana pun juga cowok itu paling ideal jadi pemimpin hehehee
Pas akhir salam-salaman kerasa gimanaaaa gitu pengennya lebih lama :) Sumpah beneran nggak boong!!!
Tapi yasudahlah ada pertemuan pasti ada perpisahan hehehhee tetap menyenangkan...
Karena teman nggak jadi jemput akhirnya nginep di tempat Riri dan baru bisa nge-on-in hp untuk pertama kalinya hehehee jadi maaf yaaa yang smsnya nggak kebales selama 6 hari ini. Terutama buat 'seseorang' yang marah besar dan akhirnya memilih mengakhiri semua... ckckckkckkckkkk gara2 PPB5 jadi jomblo nih  hahahhahaaa #JustKidding

Hari Ketujuh :
Dengan masih semangatnya jalan2 ke malioboro sama beberapa alumni PPB5 menyenangkannnnn!!! Hummmm pasti masih pada ingat kan gimana naek trans yogya yang terpaksa dibagi jadi 2, jalan2 ke benteng, belanja, terus demas hahahhaaa gimana kabar HP-mu? hehe
Siang yang panas diakhiri makan gudeg... Setelah itu teman2 sempat kumpul bareng lagi buat bahas proker2 PPB5... Maaf ya nggak bisa ikut ehhehee

Buat Icha makasih yaaaa hahahahaa kamu saksi hidup gimana rempongnya aku di kamar, makasih buat bajunya hiks kalau nggak gitu binggung mau pakai apa :P
Buat Riri heheheeee akhirnya kamu tau kegilaanku,,, gara2 handuk mau ketinggalan akhirnya keluar kamar juga. Makasih untuk semalaman...
Buat Dyah, makasih yaaaa hummmm untuk sesuatunya.
Buat Semua... I LOVE YOU ALL

Malamnya nginep di rumah sahabat dianterin seseorang, sebelumnya ke Bukit Bintang dulu... Hhhhh untuk yang satu itu makasih banget yaaa memberi keberanian. Heheeee apapun yang terjadi ke depannya kita tetap teman. Makasih juga nasi kucing dan susu jahe-nya :D Enakkkk...

^_^ Banyak hal lagi tapi singkat aja ceritanya hehee,,
ini ceritaku, apa ceritamuuuu???

20110625

MORATORIUM TKI : MOMENT EVALUASI MENGENDALIKAN PENAWARAN TKI


Permasalahan terkait dengan TKI yang dikirim ke luar negeri tidak hanya dialami Ruyati, TKI asal Bekasi, yang dihukum mati di Arab Saudi dengan dakwaan membunuh majikannya. Kisah Ruyati hanya salah satu dari banyak kisah yang telah kita dengar, bagaimana warga Indonesia yang dipekerjakan di luar mendapat siksa dari sang majikan. Sebagai catatan penting, masih ada 25 TKI di Arab Saudi dan Timur Tengah yang berada diujung ajalnya - menunggu eksekusi hukuman mati karena perbuatan mereka yang dianggap tidak sesuai dengan hukum islam yang diterapkan. 

Kasus-kasus sebelumnya yang menimpa TKI pun telah terjadi dan memang nyata terlihat tidak adanya geliat pembelaan dari pemerintah untuk melindungi para pahlawan devisa yang tengah mengais rezeki di negeri orang karena ketidakmampuan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 menyediakan lapangan kerja. Kini, wacana moratorium TKI ke Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya per 1 Agustus 2011 pun muncul ke permukaan.

Moratorium TKI memang memiliki efek negatif berupa menurunnya devisa negara yang berdampak pada APBN. Penghasilan negara dipastikan akan menurun. Penghasilan yang selama ini digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan negara dari yang memang penting sampai dengan kebutuhan yang dibuat-buat, misalnya perjalanan pejabat negara -DPR- ke luar negeri untuk melancong dengan dalih menjalankan tugas.


Namun tentu saja moratorium TKI tidak hanya berdampak negatif. Hal ini dapat digunakan sebagai moment evaluasi dalam mengendalikan penawaran TKI. Selama kurun waktu yang disepakati, pemerintah harus mempersiapkan kualitas SDM yang memenuhi kualifikasi tertentu untuk dapat bekerja di luar negeri, misalnya keahlian yang dimiliki, kemampuan dasar seperti tidak buta huruf dan bahasa, serta kondisi calon TKI tidak dalam kondisi hamil dan dibawah umur. Dalam kerangka ini, pemerintah harus menyusun kriteria-kriteria khusus dan umum bagi calon TKI sehingga mereka akan dihargai, tidak dianggap buruh rumah tangga semata di luar negeri.

Selain mempersiapkan SDM handal, pemerintah harus mendorong pertumbuhan dan pembangunan sektor riil sehingga masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan di dalam negeri. Hal yang tidak kalah penting dan sudah terbukti keberhasilannya dalam menyerap tenaga kerja adalah pengembangan UMKM melalui KUR sehingga semakin banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan baik di desa maupun kota. Perusahaan-perusahaan besar saat ini lebih fokus pada sektor yang padat modal sehingga keberadaan UMKM harus difokuskan pada sektor padat karya sehingga bisa menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia.

Pengendalian penawaran TKI secara teoritis memang dilakukan sebagai tindakan preventif, namun terkait dengan berbagai kejadian yang menyangkut keselamatan jiwa para TKI tersebut maka seharusnya dilakukan aksi yang bersifat teknis dan operasional. Penciptaan lapangan kerja secara lokal melalui pembangunan infrastruktur serta pemerataan kesempatan pendidikan merupakan langkah strategis yang harus dilaksanakan untuk mengendalikan penawaran TKI. Penertiban pada PJTKI ‘nakal’ juga wajib dilakukan dimana pengawasan ketat harus dilaksanakan terkait dengan rekruitmen TKI yang akan dikirimkan dan harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Calon TKI yang terkualifikasi juga wajib ditempatkan pada keluarga yang aman, artinya pihak PJTKI harus melakukan survei terkait dengan keluarga yang akan mempekerjakan TKI tersebut. Birokrasi juga harus diperjelas dan tidak bersifat membodohi TKI yang bersangkutan. 

TKI sendiri umumnya berasal dari kelas menengah ke bawah yang tidak memiliki kemampuan dan keahliaan serta pendidikan yang diterima pun terbatas. Selain itu, umumnya mereka adalah masyarakat desa yang memiliki berbagai keterbatasan, padahal sebenarnya potensi yang dimiliki besar. Program-program pemberdayaan masyarakat desa perlu dilakukan sehingga mereka tidak tergiur untuk berangkat menjadi TKI dengan berbagai upaya, setidaknya di desa mereka dapat mengembangkan potensi yang dimiliki di desanya. PNPM merupakan salah satu program yang harus digiatkan dalam kerangka pemberdayaan potensi masyarakat desa. 

Moratorium TKI semoga benar-benar merupakan potret kesigapan pemerintah yang tidak mau melihat lagi rakyatnya diperlakukan lebih buruk dari sapi-sapi asal Australia di Indonesia. Bukan hanya menjadi wacana politik untuk meneduhkan suasana yang tengah memanas. Moratorium TKI  harus dilengkapi dengan tindakan-tindakan nyata sebagai evaluasi untuk mengendalikan penawaran pahlawan devisa negara agar tidak disia-siakan di negeri orang.

Oleh : Alia Noor Anoviar
Surabaya, 26 Juni 2011 Pukul 09.49

20110622

Hey Perokok, Hentikan Ulahmu!!!

"Dimana kira-kira kalian tidak menemui asap rokok?"

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan menjadi tanda tanya besar dimana jawabnya. Kalau saya secara pribadi dengan mudah menemui asap rokok. Mulai dari angkot yang seringkali bersumber dari abang-abang sopirnya. Terus dikampus juga banyak asap rokok dari depan kelas, selasar, kantin, bahkan pernah ketemu orang ngerokok di dekanat yang jelas-jelas ruangan ber-AC. Hummm yang namanya gambar larangan merokok seperti nggak punya arti, aturan pun menjadi sesuatu yang omong kosong. Upsss iya ya bukannya di Indonesia berlaku hukum : ATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR. Semoga para pembaca bukan bagian dari pelaku-pelaku pelanggaran aturan :D



Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh tentu bukan isapan jempol belaka. Efek negatif dari penggunaan rokok juga telah diketahui dengan jelas. Berbagai penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya penyakit seperti jantung, kanker paru-paru, bronkhitis, dan berujung pada kematian dini. Selain bahaya yang dihadapi perokok aktif, secondhand-smoke atau biasa disebut dengan perokok pasif juga memiliki potensi yang serupa. Artinya kebiasaan merokok tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang yang berada disekitarnya.

Saya paling benci dengan asap rokok saat berada di bus atau kereta bisnis dalam perjalanan jauh karena rasa mual akan menyeruak, pusing, dan keringat dingin. Tapi entah kenapa meskipun sudah menegur dengan batuk-batuk tetap saja tidak didengar dan dengan santainya para perokok aktif itu menyebar eksternalitas negatif pada saya dan orang-orang lain disekitarnya sebagai perokok pasif.

Rokok dan Masa Depan Anak Bangsa
Tembakau dan rokok adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan keberadaannya. Tembakau merupakan bahan baku utama pembuatan rokok yakni sebesar 98% produk tembakau di Indonesia digunakan untuk memproduksi rokok. Konsumsi rokok pun dari tahun ke tahun masih menjadi hal yang sulit untuk ditekan jumlahnya. Ironisnya, jumlah perokok usia remaja (15-19 tahun) terus meningkat. Penelitian kerjasama antara Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), Kantor Perwakilan World Health Organization (WHO), serta pemerhati masalah tembakau, dibuat untuk meneliti lebih lanjut tentang dampak tembakau dan pengendaliannya di Indonesia. Hasil penelitian tersebut memaparkan data bahwa prevalensi anak muda usia 15-19 tahun untuk merokok terus meningkat dari tahun 1995 sebesar 7,1%, tahun 2001 sebesar 12,7% dan terus meningkat hingga 2004 mencapai 17,3%. Angka tersebut menunjukkan kurangnya kesadaran generasi muda masa terkait bahaya merokok sekaligus menjadi momok bagi masa depan bangsa.

Perokok remaja terus bertambah saat ini, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Fuad Baradja, ketua bidang penyuluhan dan pendidikan di Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), menyatakan bahwa Indonesia adalah negara tunggal di Asia yang tidak memiliki undang undang atau peraturan yang mengendalikan rokok secara baik dan benar berdasarkan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Padahal konsumsi rokok di Indonesia merupakan ketiga terbesar di dunia, setelah China dan India. Bahkan organisasi kesehatan sedunia (WHO) telah memberikan peringatan bahwa dalam dekade 2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun, 70% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.

Lingkungan keluarga, sekolah dan kampus merupakan area pembelajaran terbaik untuk memulai tindakan dini pencegahan merokok. Di rumah misalnya, idealnya anggota keluarga dapat memberikan contoh yang baik akan bahaya merokok, tetapi faktanya berdasarkan penelitian Lembaga Demografi FE UI dan WHO adalah 71% keluarga Indonesia mempunyai minima satu perokok. Jika sudah begini, kemana anak-anak generasi penerus bangsa harus mencari panutan yang tepat.Edukasi larangan merokok perlu rutin dilakukan seperti yang dilakukan oleh LM3 ke sekolah-sekolah dari level SD hingga perguruan tinggi. Terkait isu larangan merokok di area kampus, Fuad Baradja, yang beberapa kali menjadi dosen untuk kuliah tamu menyatakan bahwa umumnya para mahasiswa sangat antusias menerima hal hal baru yang terkadang tak pernah terpikirkan oleh mereka. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menekan jumlah perokok aktif di Indonesia, seperti penyuluhan bahaya merokok baik secara preventif maupun antisipatif, menjalankan peraturan-peraturan larangan merokok yang sudah ada dengan patuh, mengevaluasi perlu atau tidaknya dibuat peraturan-peraturan baru, larangan terhadap iklan, promosi rokok, peningkatan cukai dan harga rokok serta upaya-upaya lain yang diarahkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari bahaya besar dibalik kenikmatan merokok.

Wacana Tanpa Aksi Nyata : Larangan Merokok di Lingkungan UI
Geliat terkait penegakan aturan larangan merokok tengah digalakkan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Menyadari adanya pro-kontra mengenai hal tersebut, BPM FEUI pada 17 Februari 2011 mengadakan diskusi dengan tema isu larangan merokok di area FE UI yang menghadirkan pembicara dari pihak kemahasiswaan FE UI, yaitu Ayu Ratna dan Banu Muhammad. “Sebenarnya larangan merokok tidak hanya diterapkan di FE UI, tetapi di Universitas Indonesia secara keseluruhan sejak tahun 2008. UI akan menolak BOP mahasiswa yang orangtuanya menggunakan rokok dan beasiswa yang diajukan oleh perokok maupun tawaran pemberian beasiswa dari perusahaan rokok,” terang Ayu Ratna. Sejauh ini belum ada sanksi tegas bagi perokok di lingkungan FE UI, hanya sebatas teguran dari satpam dan pihak-pihak yang merasa berkepentingan. Wacana pembangunan smoking area sedang dalam tahap pencarian sponsor, jika sponsor berasal dari perusahaan rokok maka pihak FE UI tidak mengijinkan pemasangan logo dan semacamnya agar tidak tercipta ambiguitas. Arah yang sebenarnya menjadi fokus tujuan adalah membangun lingkungan akademik yang sehat. Aturan ketat mengenai larangan merokok telah diterapkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dimana terdapat sanksi berupa denda bagi perokok.

Pernyataan kontra mengenai isu larangan merokok dilayangkan oleh seorang mahasiswa yang mungkin mewakili ketidaksetujuan dengan penegakan aturan tersebut. “Saat ini kita berada dalam disiplin intelektual, bukan disiplin militer. Udara ini milik siapa? Perokok sudah membayar cukai rokok sehingga bebas menikmati rokoknya, sementara mereka yang tidak merokok memang tidak membayar cukai rokok sehingga tidak ada hak untuk melarang seseorang merokok.” Banu Muhammad meluruskan pendapat tersebut, “Berdasarkan hasil penelitian Abdillah dan kawan-kawan dari Lembaga Demografi FE UI menunjukkan bahwa cukai rokok tidak menutup eksternalitas negatif dari rokok.” Ayu Ratna menambahkan pernyataan yang kiranya dapat dijadikan bahan perenungan, “Jangan menggunakan hak minoritas untuk kepentingan mayoritas sehingga merasa ekslusif. Seseorang berhak untuk merokok tetapi hargai juga hak orang yang tidak merokok terutama penegakan aturan larangan merokok di lingkungan akademik.”

Menurut Fuad Baradja, dirinya tidak heran jika penerapan aturan larangan merokok di lingkungan kampus sulit dilaksanakan. Pertama, masih kurangnya pemahaman masyarakat kampus tentang bahaya asap rokok dimana yang merokok tidak sadar dan yang tidak merokok juga belum sepenuhnya mengerti bahwa dirinya sedang dalam posisi yang berbahaya akibat asap rokok orang lain. Kedua, dia meyakini adanya usaha industri rokok untuk menggagalkan usaha tersebut dengan memberikan sponsor untuk acara acara kegiatan mahasiswa , seperti musik , pentas seni dan lain-lain. Industri rokok mengharap dukungan agar smokefree campus tidak bisa dijalankan karena menjadi ancaman bagi keberlangsungan pemasaran rokok kepada para remaja atau mahasiswa yang diharapkan menjadi calon-calon pelanggan tetap. Ketiga, masih banyaknya dosen yang merokok , sehingga sering mementahkan usaha menjadikan kampus yang bebas asap rokok ini. Oleh karena itu, membuat smokefree area merupakan suatu keharusan jika Universitas Indonesia ingin disejajarkan dengan perguruan tinggi di dunia. Hal ini untuk menjamin lingkungan kampus yang kondusif, bersih, dan sehat tanpa asap rokok .

Mengutip pernyataan Jausyankabir, “sepertinya pemerintah tidak akan pernah menghapus larangan merokok di negeri tercinta ini. Merokok itu sudah bagian dari sistem pemerintahan. Masih banyak para menteri, gubernur, bupati yang merokok. Merokok itu sudah bagian dari sistem ekonomi kita. Masih banyak pelaku usaha dan karyawan yang merokok. Merokok itu bagian dari sistem pendidikan. Masih banyak dosen, guru, dan mahasiswa yang merokok. Merokok sudah merupakan bagian dari hidup kita.” Merokok adalah sebuah kebebasan, namun seharusnya kebebasan tersebut tidak mencederai diri sendiri dan orang di sekitarnya.

Hey para perokok aktif... Hentikan ulah kalian!!! Okelah jika kalian tidak peduli dengan kesehatan kalian dan bahaya-bahaya yang mengancam jiwa kalian. Tapi minimal tunjukkan toleransi kalian kepada kami para perokok pasif. Kalian memang tidak berdosa dengan merokok, mungkin itu yang membuat kalian dengan santai dan leluasa melanjutkan aktifitas membakar uang setiap hari. Silahkan merokok tapi merokoklah di tempat yang tepat atau kalau kalian tidak mau : Kami Perokok Pasif Menuntut Kalian Membayar Eksternalitas Negatif atas Kenikmatan Kalian yang Membunuh Kami Secara Perlahan!!!

Oleh : Alia dan Vimala
Bagian dari EP yang telah diubah sedikit :D

Eksistensi Randai di Tengah Memudarnya Budaya Indonesia

Warisan Budaya Indonesia Menjadi Tanda Tanya
Indonesia merupakan negara yang kaya terutama akan budaya. Tercatat lebih dari 20 suku dan lebih dari 100 budaya berada di di Indonesia. Namun sungguh ironis, kebudayaan asli Indonesia terlihat tertinggal oleh zaman akibat perkembangan gaya hidup dan teknologi masa kini sehingga kelalaian tersebut menyebabkan setidaknya terdapat 24 kesenian dan budaya Indonesia dicuri oleh negara lain dan mungkin ratusan budaya di Indonesia yang mulai dipertanyakan keberadaannya, berubah makna dan bentuknya.

Hal tersebut diiyakan oleh pengajar utama Institut Kesenian Jakarta, Tom Ibnur, yang menyatakan bahwa sebagian besar budaya Indonesia dalam kerangka kesenian memang dirasakan meredup. “Tinjauan dan penelitian saya melalui Program Revitalisasi Seni Budaya dan Seni Pertunjukan Tradisional Indonesia di beberapa kawasan menunjukkan bahwa banyak budaya yang rapuh, mati, dan tertatih-tatih karena kurang dan sangat tidak diperhatikan. Namun masih ada beberapa daerah yang memelihara kebudayaannya dengan baik meskipun tidak mendapatkan perhatian juga, terutama dari pihak Pemerintah,” ungkapnya kepada Economica. Pada umumnya, kesenian yang hanya menggandalkan visual sebagai hiburan kasat mata akan lebih banyak diarahkan untuk kepariwisataan dan hiburan televisi atau media lainnya.

Sederet alasan melatarbelakangi meredupnya budaya Indonesia. Kondisi ini memperlihatkan tidak adanya pembinaan yang bersifat kontinyu, kurangnya perhatiaan dan selera masyarakat terhadap budaya tradisional karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman, sangat rendahnya apresiasi seni tradisional bagi generasi muda melalui sekolah maupun media lain, serta dana yang terbatas untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap seni tradisional. Budaya yang merupakan salah satu aspek pembentuk bangsa kerap kali dipandang tidak berharga. Budaya seharusnya menjadi penetral kondisi Indonesia saat ini agar kesatuan dan persatuan bangsa dapat dipertahankan. Namun tentunya tidak dapat digeneralisasikan bahwa semua masyarakat yang tidak peduli pada budaya di daerah masing-masing. Masyarakat Minang misalnya, masih mempertahankan salah satu budaya yang dimainkan oleh pemuda-pemudinya yaitu tari Randai.


Randai : Budaya Pemuda-Pemudi Minang yang Mengakar Kuat

“Siulan Domo yang berpitunang itu telah menghipnotis Puti Amban dari tidurnya. Kemudian di tengah gelap gulita malam, Puti Amban yang tertidur lelap melangkah tak sadar menuju rumah Domo. Sesampainya disana mereka bergumul, sepasang makhluk Tuhan tengah menikmati malam mereka. Mereka tahu itu adalah dosa besar, dan tanpa sadar paginya mereka telah di tunggu puluhan pemuda yang hendak menghakimi. Para Datuk dan para Pemuka Agama memutuskan untuk mengusir Domo dan Puti Amban dari kampung. Dosa mereka tak diampuni secara agama dan adat.”
Kutipan naskah Randai berjudul Putri Amban di atas menceritakan tentang sepasang manusia yang melanggar norma agama dan norma adat sehingga diusir dari kampung halamannya. Domo menggunakan keahliannya dalam bersiul untuk menghipnotis seorang wanita dan mendatangi kediamannya, padahal wanita itu sepersukuan dengannya. Puti Amban yang seorang janda seharusnya menjaga nama baik keluarganya. Meskipun dia dihipnotis, setelah sadar berada di rumah Domo dan tersadar justru terbawa oleh nafsu.
Randai adalah salah satu kesenian dari ranah Minangkabau, Sumatera Barat, yang dimainkan oleh para pemuda-pemudi yang kerap kali digunakan sebagai alat komunikasi budaya kepada masyarakat. Berbagai adat istiadat, tatakrama, kehidupan bermasyarakat, dan pemahaman budaya dapat ditemukan dari pergelaran sebuah Randai. Kesenian ini merupakan konsep teater rakyat dimana memperlihatkan perpaduan antara unsur-unsur sastra, drama teater, seni tari, musikal, dan pencak silat yang dapat dibawakan dengan serius dan komedi. Setiap kelompok Randai setidaknya berjumlah 20 pemain akan membentuk gerakan melingkar lalu pemeran akan tampil di tenah longkaran untuk menyampaikan isi cerita melalui seni peran teater atau drama. Mereka menggunakan gerakan-gerakan pencak silat dan dipadukan dengan kreatifitas yang disebut dengan legaran. Lalu, terdapat babak-babak selama permainan yang mengalirkan sebuah cerita. Pergantian antara babak-babak ditandai dengan legaran yang diiringi musik tradisional dan nyanyian yang menceritakan kesimpulan dari babak sebelumnya dan gambaran akan babak selanjutnya. Peran dalam randai dimulai dari penari galombang yang kemudian menjadi penari legaran randai, “ tukang musik” sebagai iringan tari dan pembangun suasana, pelakon, “tukang dendang” atau vokalis, “tukang aliah” atau pengatur laku dalam gerak dan lagu, “janang” sebagai pengatur acara. Uniknya, penonton duduk melingkar sehingga dapat memilih dari mana akan menikmati keindahan Randai. Bagi masyarakat Minang, seni bukanlah sebuah pertunjukan tetapi lahir karena sebuah peristiwa. Begitu pula dengan Randai, ceritanya diambil dari legenda atau cerita rakyat setempat dan para pendukungnya semua terdiri dari laki-laki. Namun sejak tahun 70-an, perempuan diikutsertakan sebagai cermin perubahan zaman. 

Semasa orde baru, Departemen Penerangan bahkan memanfaatkan Randai sebagai alat penyampai berita dan propaganda, misalnya cerita tentang Keluarga Berencana (KB). Eksistensi Randai sampai saat ini didukung oleh kebijakan pemerintah daerah untuk mewajibkan setiap SMP di Padang memiliki satu grup Randai sebagai upaya pelestarian budaya Minang. Sebagaimana yang dijelaskan oleh salah seorang pemudi Minang, Ayunda Octavia, “Randai itu masih ada di tempat yang budayanya masih kental seperti di Bukit Tinggi dan Padang Panjang. Kalau di Padang sendiri, ada pelajaran Budaya adat Minangkabau tapi terakhir didapat waktu SMP dan di SMA sudah mengarah ke seni secara umum.”

Menurut sastrawan A.A Navis (alm) “Randai yang terlihat seperti sekarang, dengan penampilan unsur lakon, lahir semenjak siswa Sekolah Raja (Kweekschoo) di Bukittinggi pada tahun 1924 mengangkat certa “Cindua Mato” ke pentas sandiwara dengan menggunakan bahasa Minangkabau.” Randai berkembang sesuai perkembangan zaman. Pemuda-pemudi Minang berhasil menangkap makna positif dari modernisasi. Randai dapat bertahan juga karena selalu mengalami penyesuaian karakternya dalam setiap komunitas atau lingkungan masyarakatnya. Sehingga apa yang dikomunikasikan dalam Randai dapat berfungsi sebagai informasi yang dinamis dan aktual.

Pertunjukan Randai sesungguhnya juga dapat meningkatkan ekonomi rakyat sebagaimana yang diungkapkan oleh Tom Ibnur. Kenapa tidak, setiap ditampilkan di berbagai kampung, akan diramaikan oleh penjaja makanan dan lainnya. Bisa dibayangkan berapa  jual beli yang diraupnya dari senja hingga pagi hari. Karena randai biasanya digelar mulai setelah shalat Isya hingga menjelang subuh. Kekhawatiran Tom Ibnur saat ini adalah pemain randai yang merupakan orang cerdas tidak satupun memiliki catatan skenario, namun menyimpannya dalam otak masing-masing sehingga jika satu persatu mereka berpulang maka budaya ini akan hilang terbawa ke liang kuburnya.

Menariknya Randai di Mata Dunia Internasional

Dr Christine Pauka, seorang Doktor dari University of Manoa, Hawaii mengungkapkan pada tesisnya, “Saya kagum pada Randai, sama seperti kekaguman saya pada karya-karya hebat William Shakespeare.” Sebagaimana yang diketahui tentang sosok William Shakespeare, sastrawan sekaligus penulis teater terkenal dari Inggris yang telah menulis ratusan naskah teater yang mendunia seperti Romeo dan Juliet. Ungkapan Dr Christine Pauka merupakan sinyal positif dari potensi Randai di dunia Internasional untuk dipertunjukkan.

Potensi dari Randai untuk dinikmati harus diakomodasi sehingga bisa menggaung secara nasional dan internasional. Tom Ibnur memberikan berbagai masukan untuk mengakomodasi Randai agar tampak profesional di mata internasional. Pembinaan yang serius dan kontinyu harus dilaksanakan sebagai langkah awal. Lalu memberi dukungan fasilitas dan pendanaan, meningkatkan manajemen atau pengelolaannya agar dapat lebih terbuka dan global, memberi peluang berpentas dalam berbagai kesempatan, menjadikan salah satu apresiasi dalam kurikulum kesenian di sekolah, membuat event festival yang menetap, dan promosi yang tepat. Poin terpenting yang harus dilakukan adalah mengembangkan konsep Randai sebagai pola pertunjukan yang dapat menampilkan bukan hanya legenda atau cerita rakyat setempat saja, tetapi juga dapat dengan isian cerita-cerita yang sifatnya global. Randai dapat menjadi titik inspirasi yang kuat dalam penciptaan karya seni. Salah satunya “Randai Gadang Si Gulambai” yang diciptakan pada tahun 1996 dan dipertunjukan di Minangkabau Arts Centre, Sungai Baringin, Limo Puluh Koto, yang didukung oleh 250 orang.

Randai yang tengah memasuki ranah global tentu tidak luput dari nama besar seperti Chairul Harun (alm) yang merupakan penulis, pembina, dan penggerak kelompok Randai di Sumatera Barat. Indija Mohjoeddin merupakan penulis dan konseptor Randai untuk menuju fungsi global di Australia dan nama-nama lainnya.

Alfin Abrar, seorang pelatih randai saat ditemui Economica mengungkapkan bahwa grup Randai sekolahnya, SMA 1 Padang Panjang, pernah menjadi juara 1 pada International Arts Festival 2008 silam. Hal ini merupakan wujud dari segenap upaya untuk mempertahankan eksistensi Randai yang kemudian berbuah prestasi. “Kemauan dari anak-anak muda sebagai penggerak kemajuan budaya harus lebih keras dalam berpartisipasi dalam memelihara eksistensi randai” Ungkap Alfin yang akrab dipanggil Capiang ini.

Indonesia tidak hanya punya Randai, namun juga punya jutaan karya seni. Randai dapat dijadikan sebagai model percontohan bagaimana menariknya budaya di Indonesia yang mulai redup tak berdaya. Merupakan tugas dan kewajiban kita juga untuk melakukan segenap upaya agar semua kebudayaan kita dapat dikenal dan dinikmati oleh penduduk di dunia atau minimal dalam skala nasional. Guna mewujudkan itu semua, seluruh pihak harus ikut berpartisipasi. Pemerintah harus memfasilitasinya melalui Kementrian Budaya dan Pariwisata. “Sediakan tempat latihan dan fasilitas yang memadai, tidak hanya untuk Randai, tapi juga kesenian lain” jelas Alfin.

“Proses asimilasi dan akulturasi yang terjadi saat ini saat mengkhawatirkan. Kebudayaan asli kita semakin terkikis. Rendahnya perhatian pemerintah terhadap hal ini semakin memperburuk keadaan ini” Ungkap Ibnu Budiman, mantan Ketua Ikatan  Mahasiswa Minang – Universitas Indonesia (IMAMI-UI). Kekhawatiran Ibnu sepertinya beralasan. Sudah jarang sekali kita menemukan orang yang peduli dengan kebudayaan mereka sendiri. Akhir-akhir ini saja banyak yang mulai peduli, seperti batik. Ketika negara tetangga mulai gencar untuk mengakui budaya itu, barulah pemerintah kalang kabut mengurusnya ke UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia.

“Bila tak ingin kehilangan budaya sebagai warisan bangsa mulailah untuk memelihara, mempelajari,  memahami, dan menumbuhkan rasa bangga akan warisan tersebut. Pilihan untuk mendalami seni budaya secara praktis dan keilmuan. Jadikan pilihan yang kuat karena tidak banyak yang ingin untuk bidang tersebut, karena banyak yang menginginkan profesi yang bukan seni, yang katanya tidak menjanjikan apa-apa untuk materi bagi kehidupan. Tapi dia hanya menjanjikan kepuasan batin yang tak dapat dinilai dengan uang. “ Pesan Tom Ibnur kepada generasi muda penerus bangsa di Indonesia.

Oleh : Alia Noor Anoviar, Jombang Santani Khairen, Nanda Rizki Fauziah.

20110423

Menanti Kepastian Kebijakan Tentang Pemilihan Kepala Daerah


Tahun 1998 dapat dikatakan sebagai masa political opening, yaitu masa dimana demokrasi dianggap sebagai sistem yang mendasari ketatanegaraan. Pada masa ini, paket undang-undang politik disesuaikan dengan kondisi sistem demokrasi sehingga Komisi Pemilihan Umum (KPU) dituntut untuk independen. Pemilihan umum terhadap presiden dan wakil presiden diadakan secara langsung pada tahun 2004 hingga akhirnya Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Hal tersebut ternyata menjadi cikal bakal lahirnya wacana mengenai pemilihan langsung kepala daerah. Per juni 2005 dilaksanakanlah pemilihan langsung terhadap Gubernur, Bupati, dan Walikota. 
Namun ternyata, berbagai persoalan pun muncul setelah diberlakukannya kebijakan mengenai pemilihan langsung kepala daerah. Pada awal tahun 2010 muncul keluhan yang berasal dari Darmawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri RI, yang dikenal dengan ungkapan Paradoks Pilkada. Paradoks pilkada mengacu pada pengertian dimana pilkada semata-mata digunakan untuk kepentingan dan kekuasaan, tidak berhubungan untuk mewujudkan tujuan esensial pilkada yaitu peningkatan tata kelola dan peningkatan peran publik serta terwujudnya demokrasi. I Gusti, anggota KPU, berpendapat bahwa pilkada harus dihapuskan lalu diganti dengan format pemilu legislatif dan presiden sehingga partai yang menang dapat memberikan perwakilan di daerah. Keuntungan yang akan diterima adalah dapat menghemat biaya pilkada mencapai 13 triliun yang selama ini digunakan hanya untuk pengawasannya; pemerintahan menjadi lebih efektif; dan tidak terjadi konflik horizontal.

Selain itu dalam pelaksanaannya, timbul berbagai permasalahan menyangkut pilkada. Pertama, pilkada dianggap mencederai konstitusi seperti yang dinyatakan oleh Siti Zuhro, Peneliti Senior LIPI, seharusnya yang dipilih secara langsung hanya kepala daerah tidak termasuk wakil kepala daerah. Oleh karena itu, awalnya peraturan pilkada dan desa menjadi bagian dari UU No 32 Tahun 2004, namun terdapat tuntutan yang meminta agar peraturan mengenai pilkada dan desa dikeluarkan. Pada tahun 2007 dibentuklah team pakar yang terdiri dari lima orang ahli untuk melakukan perumusan RUU Pilkada. Terdapat berbagai isu menyangkut pilkada yang tengah dibahas hingga saat ini, yaitu pemilihan gubernur apakah harus langsung atau tidak; pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah perlu berpasangan atau tidak; wakil kepala daerah apakah perlu dipilih secara langsung; pelaksanaan pilkada dan pengadilan pilkada; serta e-voting. Sebenarnya yang dibutuhkan bukanlah e-voting, namun e-counting sehingga penghitungan suara akan lebih 
transparan, cepat, dan meminimalisasi adanya penggelembungan suara.

Kedua, pilkada seringkali menimbulkan berbagai kericuhan dalam masyarakat dengan timbulnya konflik bahkan berujung pada anarkisme. Telah dilaksanakan evaluasi terhadap pilkada pada tahun 2005 – 2008 dimana menunjukkan bahwa persentase terjadinya konflik pilkada di Indonesia masih lebih kecil dibandingkan persentase tidak terjadinya konflik, namun media seringkali melakukan ekspose terhadap konflik pilkada sehingga opini masyarakat pun terbentuk dimana menganggap pilkada selalu menimbulkan kericuhan. Kericuhan serta pelanggaran-pelanggaran selama pilkada seringkali dianggap sebagai tanggung jawab dan kesalahan dari KPU. Hal ini dibantah oleh I Gusti, menurutnya data yang didapat menunjukkan bahwa dari 244 daerah hanya terdapat empat lokasi yang mengalami kasus anarkis dimana hanya dua diantaranya yang terbukti merupakan kelalaian KPU  sehingga tidak dapat dikatakan bahwa KPU yang bertanggung jawab atas semua kekisruhan pilkada. Posisi KPU dalam pilkada adalah sebagai user dimana menunggu kebijakan pemerintah dan memiliki tugas meyakinkan pemerintah untuk mengadakan pemilu yang lebih baik serta menampung keluhan-keluhan masyarakat yang terkait pemilu untuk diselesaikan.

Ketiga, biaya pilkada yang tinggi menimbulkan konsekuensi adanya keinginan dari kepala daerah maupun wakil kepala daerah terpilih untuk mendapatkan pengembalian atas biaya pilkada yang telah dikeluarkan selama masa pemilihan. Hal ini tentu bukan rahasia lagi dimana terdapat beberapa pemimpin daerah yang berakhir di meja hijau akibat kasus korupsi yang dilakukan. Secara logika sederhana menurut Ikhsan Darmawan, Dosen FISIP UI, terjadinya korupsi di kalangan pemimpin daerah menjadi sesuatu yang wajar saat membandingkan antara gaji dan tunjangan yang diterima tidak sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan. Oleh karena itu biaya pilkada harus diperjelas, dalam hal ini terdapat tiga tipe biaya yang harus dikeluarkan saat pilkada yaitu biaya pembiayaan pilkada yang berasal dari APBD setiap daerah; biaya yang dikeluarkan oleh calon yang seringkali secara tertulis dilarang namun nyatanya keluar dan biaya ‘sewa perahu’ untuk partai politik; serta biaya kampanye yang selama ini dibebankan kepada calon kepala daerah. “Solusi yang mungkin ditawarkan adalah pengaturan biaya kampanye maksimal serta transparansi dimana dilakukan audit yang akan menghasilkan laporan auditor independen. Selanjutnya laporan tersebut harus disikapi oleh KPU. Kompetensi dari ketua maupun anggota KPU juga harus jelas dimana dilakukan seleksi tanpa intervensi partai politik dan netralitas harus dijaga dengan tidak memasukkan unsur partai.” Ujar Ikhsan Darmawan.

Hal senada diutarakan oleh Siti Zuhro dimana pilkada dengan biaya besar harus ditiadakan, “Politik transaksional harus dipotong. Saat proses pilkada telah terdistorsi maka semua tahapan akan bersifat transaksional dimana terdapat investasi pilkada sehingga kepala daerah terpilih nantinya saat berkuasa tidak leluasa untuk mewujudkan tujuan utama, energinya akan terkuras untuk mengembalikan sumberdaya yang telah dikeluarkan.” Lalu apakah biaya politik yang tinggi tidak bisa dihindari? “Pertanyaan tersebut hendaknya ditanyakan kepada partai politik. Selama ini Partai membutuhkan program yang bersentuhan dengan massa atau dapat dikatakan konkret-duit.” Siti Zuhro mencontohkan Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang merupakan salah satu contoh kepala daerah yang fenomenal karena memahami bagaimana berkomunikasi dengan low cost dan berasal dari kalangan independen. Dalam kepemimpinannya dia dikenal sangat transparan, salah satu bentuknya adalah setiap hari jumat dilaksanakan dialog interaktif dengan masyarakat di Pendopo Malowopati Bojonegoro dengan mendatangkan seluruh pimpinan dinas yang berada wilayahnya. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak selamanya politik transaksional menang. Bertolak belakang dengan pilkada di Kabupaten Bojonegoro, pada awal 2010 di Mojekerto pada tataran awal pilkada saja telah terjadi amuk massa.

Pemerintah pusat diharapkan mampu melakukan pengawalan terhadap pilkada secara langsung yaitu bagaimana dapat mempertahankan dan menunjukkan kesatuan. Saat ini kembali timbul wacana untuk mengembalikan sistem pilkada ke semula yaitu kepala daerah dipilih oleh DPRD setempat. Siti Zuhro menanggapi wacana tersebut dengan memberikan saran hendaknya dilakukan evaluasi kinerja disentralisasi sehingga dapat diputuskan kebijakan mengenai pilkada yang seperti apa yang relevan untuk diterapkan. Menurut peneliti senior LIPI tersebut seharusnya pilkada hanya dilakukan di level provinsi dan pemilihan kepala daerah di level kabupaten atau kota dikembalikan saja kepada DPRD. Selain itu makna dari pilkada harus diluruskan, tidak memaksakan kehendak di level bawah, serta salto-salto politik yang selama ini dilakukan dianggap terlalu beresiko. “Apabila ingin melakukan trial and error seharusnya di level provinsi saja.” Ungkapnya. Pilkada yang dilakukan di 491 kabupaten/kota mungkin membosankan sehingga dengan meminimalisasinya akan mengurangi konflik horizontal yang mewabah dimana pemimpin selama ini terkesan hanya siap menang dan berkuasa.

Ikhsan Darmawan berpendapat bahwa pilkada yang ada saat ini dapat dikatakan belum siap dan dilematis terutama dengan tidak adanya evaluasi khusus dari pemerintah yang dalam hal ini adalah Depdagri. Kunci pembenahannya adalah memperketat undang-undang yang mengatur mengenai partai politik, terutama menyangkut biaya ‘sewa parahu’. Hal-hal yang selama ini masih membingungkan seperti masalah pencalonan, kampanye, netralitas birokrasi, dan sanksi terhadap aturan juga harus segera dibenahi. Harus pula dibedakan antara daerah yang telah siap dengan daerah yang belum siap melakukan pilkada karena setiap daerah belum tentu memiliki persebaran sumber daya yang merata. Dijelaskan lebih lanjut oleh Ikhsan Darmawan, “apabila dikembalikan kepada DRPD memang biayanya akan lebih rendah, meskipun tetap pasti akan ada uang yang harus dikeluarkan. Namun sebenarnya pilkada langsung lebih baik untuk diterapkan, hanya saja perlu adanya perbaikan pada undang-undang yang mengatur sehingga tidak terlalu longgar dan menimbulkan intepretasi yang bias.” 
Oleh : Alia Noor Anoviar
Bagian dari tulisan ini dimuat di Economica 45