20150810

40 jam di Bangka : Teman, Pantai, Makanan, dan Perahu Terbalik

Niatnya 4 hari jadinya 40 jam, kalau kata Ibu saya ini membuktikan tidak semua keinginan dapat terealisasi sesuai rencana dan yang paling penting adalah Allah sedang ingin mengajak 'berbincang' dengan kita. Dan kalau kata Pak Achsin setelah saya melapor sudah sampai Jakarta, "Alhamdulillah, gunakan 'nyawa' kedua lebih bermanfaat untuk orang banyak"

8 Agustus 2015 17.40 wib menggunakan maskapai X saya berangkat ke Pangkal Pinang, ini perjalanan pertama kesana, sendirian, dan satu hari lebih cepat daripada rencana karena seharusnya saya berangkat pada 9 Agustus 2015 06.10 wib. Sesampainya disana saya dijemput oleh Faril, Daus, dan Wahyu. Malam itu adalah pertama kali juga saya bercakap dengan mereka sembari menikmati santap malam. Saya sangat suka sekali makanan laut dan ternyata warung-warung makanan di Bangka menyediakan beragam hasil laut segar, di rumah Faril pun saya mendapat suguhan hasil laut yang yummy. Saya pun diceritakan tentang sejarah Bangka, nilai-nilai kekeluargaan yang dianut oleh warga Bangka, dan berbagai objek wisata yang hendak kami singgahi.

9 Agustus 2015, saya sudah bersiap sejak subuh. Merapikan diri karena excited nya akan snorkling untuk pertama kali seumur hidup. Sekitar jam 7an jemput adik-adik SMP dan SMA yang akan bersama kami snorkling, lokasinya di Pantai Rebok dan sudah ada tim plus coach yang siap disana. Well, saya happy banget karena jadi punya teman-teman baru. Liburan ini sudah saya rencanakan 3 bulanan yang lalu untuk block leave dari kantor, could you imagine about how's the feeling when you get what you want? Wuhuuuu, happy! Akhirnya saya (seperti teman-teman lainnya) membawa barang berharga dan sepatu ke arah perahu (kita dapat perahu yang baru, warnanya biru putih seperti warna langit, terus ada semacam rumah kecomang nya gitu lho)

Baru beberapa menit lepas dari bibir pantai, saya merasa gelombangnya cukup besar. Mungkin saya nya yang tidak terbiasa, sampai akhirnya saya menyeletuk "pulang aja ya? ini nakutin..." tapi yang lain memberikan semangat dan kode bahwa ini biasa. Okelah lanjut, perjalanan sekitar 45 menitan akhirnya kita sampai ke area karang di Pantai Rebok, katanya disini karangnya indah jadi oke banget buat snorkling. Tapi sayangnya karena sedang pasang dan air keruh, jadilah tidak jadi snorkling tapi bisa renang-renang sama sekitar 25an orang - kita jalan 2 perahu dan hanya 1 orang yang saya kenal dari semua orang disana hahaaa... Alhamdulillah ya jadi banyak teman colonthree emoticon Setelah asik cebur cebur dan foto foto pakai kamera anti air (entahlah apa itu namanya) punya panitia, kita pun memutuskan kembali. Saya tetap di posisi awal terus sempet sempetnya buka hp, upload video, dan chat. Ada sinyal lho di tengah begitu!

Satu-satunya foto yang tersisa karena dikirimin ke seseorang hahaha :3

Gelombangnya jadi lebih tenang, beberapa orang entah kenapa mabok laut. Saya masih asik menggagumi keindahan alam, meskipun tidak bisa lihat kerang tetap happy. Tiba-tiba ada gelombang dan kyaaaaaaaaaaaaaaa sesuatu terjadi! Kapalnya terbalik, kaki saya terbelit sesuatu entah apa itu tapi beberapa detik kemudian saya seperti meluncur ke bawah dan sudah pasrah. Semuanya hitam, gelap, tapi saya pengen banget naik... akhirnya saya ubah pikiran saya, ini kolam renang dan saya harus bisa naik ke atas, harus bisa lihat awan, harus bisa dapat pegangan. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga, saya pun naik, berat rasanya tapi untung ada pelampung itu yang sudah sempat saya lepas karena sudah merasa aman tapi saya selempangkan ke depan. Saya pun merasa memegang sesuatu, kayu, huwoooo ini kapal yang terbalik! Dan kepala saya akhirnya bisa ke atas, bisa nafas, dan segera mencoba mengeluarkan air laut yang terminum cukup banyak.

Lalu ada yang memberikan ban, dan ada 3 adik smp/sma yang tangannya saling berpegangan di ban itu. Kita pun mencoba menarik ban bersama menuju perahu satunya - oiya dari 2 perahu itu Alhamdulillah cuma 1 yang terbalik. Naik ke atas kapal lalu mengabsen satu persatu, memastikan tidak ada yang tertinggal. Perahu tidak cukup besar kapasitasnya, air mulai masuk ke dalam perahu. Well, akhirnya ada 7 orang yang harus menunggu dan satu perahu lainnya menepi sampai bibir pantai. Tentu 7 orang tersebut memang sudah ahli, para coach dan nelayan.

Sesampainya di bibir pantai, saya menyadari ada beberapa memar yang perih. Beberapa menangis. Terus saya diem, mikir kenapa ini terjadi (anaknya memang serius banget jadi semua dipikirin). Orang-orang mulai menghampiri, warga lokal dan polisi. Beberapa menit kemudian semakin ramai dengan keluarga korban (dan saya setelah dapat pinjaman hp langsung telp ibu terus nangis juga akhirnya heheee, nangisnya karena dompet yang ada ktp dll ilang terus bingung gimana bisa pulang ke Jakarta) dan juga wartawan.

Sudah lebih dari satu jam tapi 7 orang dengan kapal yang tadi menyusul untuk menyelamatkan tidak juga muncul. Mulai timbul kegusaran, mana pikirannya udah pada kemana-mana dan sempat terjadi ketegangan. Sedih sih ini, masih ada yang berjuang di tengah sana dan yang di pinggir malah begitu. Tapi ya kan namanya panik. Akhirnya sekitar 2 jam mulai tampak itu kapal, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, kapalnya saja yang belum bisa diderek (semacam mobil mogok di tol).

Semuanya (yang terlibat dalam 'kejadian luar biasa' kata pak polisinya) berbaur dan saling mengucapkan terima kasih. Dan saya baru tau setelah itu kalau tadi saya dicari-cari, karena semua korban adalah warga Bangka kecuali saya. Huwooo saya memetik pelajaran, kerjasama - keberanian - jangan panik - dan paling penting berdoa.

Setelah itu saya diminta pulang sama Ibu, hahhaha berakhirlah‪#‎AliaMbolang‬ zzzz, btw dompet yang isinya ya isi dompet pada umumnya, ktp, seluruh kartu, plus hp hilang - mungkin ada di dasar laut dan mmm jangan-jangan di laut banyak barang berharga ya? terus beneran ada bajak laut? (mungkin yaaa mungkin) Sepatu saya juga ilang. Jadi pakai sandal Pak Achsin, huwaaa terima kasih Bapak sudah jauh-jauh dari Teru ke Sungailiat dan bawa ke RS smile emoticon

Jam 11an tadi pagi akhirnya saya pulang ke Jakarta, thanks a lot Pak Achsin, Faril, Wahyu, dan Daus untuk semua bantuannya. Kalau kalian ke Jakarta saya nggak akan ajak ke pantai hahahaa, saya ajak ke museum hahahaaa

Selalu ada cerita dalam perjalanan dan Allah mungkin sedang ingin berbincang dengan kita melalui cobaan yang diberikanNya. Mohon maaf lahir dan batin teman-teman smile emoticon

Jakarta, 10 Agustus 2015