20141104

Keyakinan untuk BISA!

Sangat sulit menyakinkan orangtua saat saya memilih apa yang sekarang saya pilih dalam hidup, menjadi sociopreneur. Pergolakan batin terberat saya sekitar 2,5 tahun lalu adalah bagaimana caranya saya tetap bisa memenuhi kebutuhan saya, memiliki standar hidup seperti sebelumnya, namun harus merubah 'gaya' hidup saya. Dan nyatanya tidak bisa, hidup saya menjadi semacam kurva yang menurun secara 'gaya' hidup misal tidak bisa lagi membeli baju di mall, harus jarang-jarang makan di tempat bermerek, dsb. Saya benar-benar fokus pada Dreamdelion dan meninggalkan kesenangan saya menulis.

Sejak 2008 tulisan-tulisan saya cukup baik menghiasi kompetisi demi kompetisi, dari sana saya membiayai sekolah dan Alhamdulillah bisa full membiayai sekolah sejak kelas 2 SMA. Keinginan saya untuk bisa membiayai sekolah sendiri sudah ada sejak SMP, saya berjual stiker, pin, kaos, dan menjadi tutor untuk beberapa adik kelas. Namun saat itu, saya masih cukup bergantung pada orangtua. Terlebih Bapak yang sangat memanjakan saya dan Ibu yang sangat memperhatikan pendidikan saya sehingga saya tidak boleh berkegiatan yang menganggu sekolah. Kompetisi demi kompetisi yang saya jalani sejak SMA yang kata orang mencerminkan sifat ambisius dalam diri saya, sebenarnya adalah salah satu upaya saya agar bisa hidup lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orangtua. Saat itu saya memiliki proyek pribadi, "1 piala, 1 bulan". Karena proyek tersebut, dalam satu bulan saya mengikuti 2-3 kompetisi karena tentu ada probabilita menang dan kalah. Dari proyek tersebut juga saya bisa mendapatkan rata-rata Rp 500.000,- s/d Rp 2.500.000 per bulan yang tentu masih dipotong uang administrasi kompetisi dan transportasi.

Maka menjadi cukup beralasan jika orangtua saya kecewa saat saya memberhentikan segala aktivitas saya yang berhubungan dengan kompetisi penelitian atau penulisan, karena itu artinya saya tidak lagi memiliki pemasukan dan orangtua saya tidak lagi mendengar kabar yang membahagiakan. Tapi saya mencoba meyakinkan orangtua saya bahwa memang sudah waktunya saya melakukan hal lain untuk mengasah 'hati' saya, tidak lagi memikirkan hal-hal yang hanya untuk kepentingan pribadi.

Orangtua saya tidak banyak bicara, tapi saya tau mereka sangat kecewa ketika itu pertengahan tahun 2012. Mereka mengungkapkan kekecewaannya dengan diam, mereka tau membujuk putri sulungnya yang keras kepala ini bukan hal yang mudah. Seperti beberapa tahun sebelumnya, saat saya diminta masuk ke jurusan IPA saat SMA agar menjadi dokter tapi saya tegas ingin ke IPS karena ingin menjadi ekonom. Hampir setiap hari saya mendengar orang-orang sekitar meremehkan karena katanya nih yang masuk IPS hanya anak yang tidak bagus akademiknya, saat itu saya menempati 3 besar di kelas. Tapi apa iya saya harus menjawab sindiran-sindiran mereka? Saya diamkan, lama-lama orangtua mendukung karena saya pelan-pelan coba membuktikan bahwa di IPS pun bisa berprestasi, ya dengan kompetisi-kompetisi tadi. Piala pertama yang menghiasi meja belajar saya, saya dapatkan saat kelas 2 SMA. Saya bukan anak yang pintar, nilai matematika saya pernah 3 sehingga saya dipanggil ke BK saat SMP. Tapi saya coba membuktikan bahwa saat saya memilih sesuatu maka saya tidak akan pernah bermain-main dengan sesuatu itu, saya akan bersungguh-sungguh. Pun begitu saat saya memilih konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia di FEUI, maklum saja konsentrasi yang dianggap bagus itu Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan, sementara hanya belasan orang pada konsentrasi saya. Tapi saya enjoy sekali menjalaninya, saya diajak beberapa proyek penulisan oleh dosen, menjadi asisten pelatihan riset, dan sebagainya. Justru berada di konsentrasi tersebut membuat saya banyak belajar bagaimana mengatur SDM sebagai aset dalam sebuah instansi, kunci sukses sebuah instansi. Saya tidak pernah bermain-main dengan pilihan saya, orangtua saya tau benar hal itu.

Pun dalam setiap pilihan pada hidup saya, Ibu pernah mengatakan "kamu itu kalau tanya sesuatu tapi sebenarnya kamu sudah tau jawabannya. Kamu hanya bertanya untuk meyakinkan bahwa jawaban kamu benar, iya kan?"

Buat saya ketika banyak orang yang meragukan apa yang saya pilih, saya menjadi merasa tertantang untuk melakukan apa yang saya pilih. Merasa, "I can do my best!"

Begitu pula saat saya lulus dari FEUI, saya memiliki kontrak dengan dua instansi yang telah membiayai saya selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Dulu saat saya masih semester 1 kuliah, saya membayangkan ketika lulus nanti saya bisa bekerja di ruangan ber-AC, menggunakan sepatu hak tinggi, blazer, pokoknya berpakaian rapi. Saat saya semester 6, saya mengubah 100% pemikiran saya tersebut. Saya merasa lebih nyaman dengan hidup yang sederhana, bisa menggunakan kaos untuk bekerja, lalu sandal japit, dan bermain dengan orang-orang baru. Dan Ibu bilang, "Kamu boleh menjadi orang hebat, tapi kamu harus bisa menjadi orang hebat yang mau berterima kasih dan punya komitmen". Saya dibesarkan oleh kedua instansi tersebut, bagaimanapun tanpa keduanya mungkin saya bukanlah saya yang sekarang, maka saya jatuh pilihan untuk menjalani kontrak saya. Saya pun menjadi seorang pegawai swasta sudah sekitar 10 bulan terakhir. Tapi saya bilang ke orangtua, saya mau menjadi pegawai swasta tapi saya tetap harus menjadi sociopreneur. Karena disana 'hidup' saya, disana 'semangat' saya, disana saya banyak belajar bahwa ternyata hidup beragam rasa.

Orangtua saya benar-benar demokratis atau lebih tepatnya sudah menyerah menasehati saya untuk hal-hal tertentu. Memang susah membagi waktu antara menjadi pegawai swasta, sociopreneur, keluarga, dan kehidupan pribadi. Saya bisa bilang kalau banyak hal yang menjadi 'kacau' ketika saya berusaha menjalani semua secara bersamaan. "Tuhan saja menciptakan jemari kita tidak sama panjangnya, bagaimana kamu bisa berharap menjadi manusia yang adil?" Karena adil bukan berarti sama. Akhirnya saya coba membagi waktu, mengeliminasi beberapa kegiatan yang saya rasa tidak terlalu perlu dilakukan. Dan salah satu hal yang saya eliminasi adalah hubungan intensif dengan orangtua dan kehidupan pribadi. Sampai akhirnya saya tersadar kalau saya tidak bisa hidup tanpa orangtua. Singkat cerita akhirnya saya bisa menyeimbangkan waktu, membagi peran dengan semampu saya. Konflik demi konflik memang tidak bisa dielakkan. Ini juga mengapa saya harus menolak permintaan menjadi pembicara atau trainer terutama saat weekday, pun saat weekend saya lebih suka bersama teman-teman Dreamdelion atau di rumah.

Sampai sekarang banyak yang menanyakan bagaimana saya bisa melakukan semua hal itu, jawabannya adalah keyakinan untuk bisa melakukannya. Terima kasih :)

20141008

UI Membutuhkan Servant Leader seperti Prof Rhenald Kasali

Pertama kali saya mengetahui daftar 25 calon rektor UI, saya langsung dibuat kaget dengan sebuah nama yang tidak asing bagi saya. Nama tersebut adalah Prof Rhenald Kasali, seseorang yang selama ini menjadi role model bagi saya untuk menjalankan bisnis sosial Dreamdelion yang saya rintis bersama teman-teman sejak 18 Juli 2012, saat itu saya masih berstatus mahasiswi semester akhir di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).

Saya dan Prof Rhenald pada th 2012 di Acara Buka Puasa Bersama Rumah Perubahan

Saya mungkin sama dengan teman-teman lainnya yang menjadi salah satu anak muda yang terinspirasi dengan sosok Prof Rhenald, yang saya hanya bisa lihat di televisi dan tulisannya saya baca di berbagai media. That's it! Sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara buka puasa bersama di Rumah Perubahan dan bertatap langsung dengan Prof Rhenald. Meskipun saya mahasiswi FEUI, namun saya tidak pernah mendapatkan kelas Prof Rhenald karena tidak mengambil konsentrasi Manajemen Pemasaran.

Benar saja, pertemuan pertama saya dengan Prof Rhenald mampu menciptakan AHA Moment, saya terinspirasi dengan konsep Rumah Perubahan yang merupakan bentuk bisnis sosial yang mampu mensejahterahkan banyak orang, terutama warga sekitar lokasi tersebut. Hal inilah yang membuat saya semakin yakin menjalankan bisnis sosial yang saya dan teman-teman rintis yaitu Dreamdelion. Saat ini Dreamdelion sudah berada di 3 kota dengan 5 lokasi, juga memiliki ratusan volunteers, dan mampu memberikan manfaat kepada ratusan warga Alhamdulillah. Mungkin akan berbeda cerita Dreamdelion ini jika saat itu saya tidak bertemu dengan Prof Rhenald, seorang guru besar UI yang dengan kerendahan hatinya membantu membesarkan Dreamdelion meskipun saat itu beliau tidak sama sekali mengenal saya.  Melalui tulisan sederhana ini saya ingin berterima kasih atas segala kontribusi Prof Rhenald untuk Dreamdelion.

***


Sekitar dua bulan setelah Dreamdelion berjalan, tidak ada progress berarti, modal semakin menipis, tim yang kami bangun mulai runtuh. Lengkaplah tantangan demi tantangan yang harus kami lewati. Sampai akhirnya ada sesi diskusi di Rumah Perubahan yang melibatkan Young Fellow Rumah Perubahan (perkumpulan mahasiswa Univ Indonesia yang memiliki ketertarikan untuk berkontribusi di masyarakat), ada Prof Rhenald dalam sesi diskusi itu. Setelah sesi diskusi selesai saya meminta waktu beberapa menit, yang akhirnya menjadi hampir satu jam, untuk menceritakan tantangan yang dihadapi Dreamdelion, setelahnya perasaan saya menjadi tenang dan menjadi lebih optimis. Prof Rhenald memberikan sebuah mesin jahit untuk Dreamdelion karena kami selama ini hanya bisa memproduksi produk secara manual. Siapa sangka satu mesin jahit tersebut mampu menghidupkan Dreamdelion sampai sekarang, bahkan kami Alhamdulillah dapat memperluas area pemberdayaan tidak hanya di Jakarta namun juga di Jogjakarta dan Ngawi. Satu mesin jahit tersebut bermakna sekali bagi kami, mampu mematik semangat kami yang sedikit lagi redup tanpa sisa. Satu mesin jahit itu saat ini telah menjadi cikal bakal mesin-mesin jahit kami lainnya, sangat sederhana bukan? Satu mesin jahit yang mampu menjadi motivasi komunitas bisnis sosial seperti kami menjadi berkembang dan berkelanjutan.

Tidak berhenti pada mesin jahit, saya dikejutkan dengan ajakan sebuah kementrian untuk melibatkan Dreamdelion sebagai pelatih program mereka. Saya bingung ketika itu karena kami belum punya brand yang baik saat ditawari, ternyata Prof Rhenald lah yang merekomendasikan kami. Padahal lagi-lagi saat itu, Prof Rhenald belum terlalu mengenal kami namun beliau memberikan kepercayaan kepada kami. Sejak saat itu kami semakin menyadari pentingnya kolaborasi untuk mengembangkan bisnis sosial kami, kurang dari 2 tahun sudah 60 instansi bekerjasama dengan Dreamdelion. Tentu selalu ada cerita awalan, dulu siapa yang mau bekerjasama dengan komunitas bisnis sosial pemula seperti kami, semuanya dimulai dari kesempatan yang dibuka oleh Prof Rhenald.

Masih banyak lagi yang beliau lakukan untuk membantu komunitas bisnis sosial seperti Dreamdelion dan saya yakin tidak hanya Dreamdelion, salah satu crowdfunding terbesar di Indonesia yaitu kitabisa.com juga salah satu komunitas yang dibina oleh Prof Rhenald. Sampai saat ini pun ketika Dreamdelion membuat sebuah event bernama NSBCamp (www.nsbcamp.com) yang hampir saja tidak terlaksana karena kekurangan pendanaan, Prof Rhenald melalui Rumah Perubahan turun tangan tidak dengan memberikan 'ikan' pada kami tapi dengan memberikan 'kail'-nya, cara beliau mendidik kami yang membuat kami sangat terbantu dengan tetap harus mandiri. Event ini pun untuk pre-event nya saja seperti National Seminar di Balai Sidang UI 17 September 2014 lalu dipadati oleh peserta lebih dari ekspektasi, dari awalnya hanya 300 target pendaftar menjadi lebih dari 450 pendaftar. Secara tidak langsung kami bersama-sama menghidupkan kepekaan sosial dalam masyarakat terutama peserta yang mayoritas anak muda atau anak kuliahan untuk turun tangan  berkontribusi menyelesaikan masalah sosial melalui pendekatan bisnis sosial.

Prof Rhenald Kasali menjadi keynote Speaker dalam National Seminar NSBCamp di Balai Sidang, Universitas Indonesia, pada 17 September 2014

Disela-sela kesibukannya, Prof Rhenald selalu memberikan ruang untuk mendengarkan kami yang ingin banyak belajar dari beliau dengan Rumah Perubahan-nya.dan karya-karya membangun bangsa lainnya.



***

Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sosok Prof Rhenald Kasali adalah seorang servant leader. ‘Servant Leader’ yaitu pemimpin yang melayani, pemimpin yang memimpin bukan sekedar untuk mendapatkan jabatan semata, tapi juga dengan niatan mengabdikan diri untuk masyarakat yang dipimpinnya, pemimpin yang mau mendengarkan tidak hanya berbicara atas dasar kemauan dan kepentingannya sendiri, dan pemimpin yang jika masyarakatnya kesusahan tidak berpangku tangan tapi justru mencari-cari jalan mengatasinya. Indonesia jelas sudah memiliki sosok-sosok seperti itu seperti Bu Risma di Surabaya, Pak Ridwan Kamil di Bandung, Pak Ahok di Jakarta, dulu kita mengenal sosok Pak Jokowi di Solo yang saat ini menjadi Presiden RI 2014-2019, juga Prof Rhenald Kasali dengan Rumah Perubahan-nya selama ini.

Teman-teman pasti tahu bagaimana seorang servant leader bekerja, mereka tidak segan-segan langsung turun ke lapangan untuk membantu menyelesaikan masalah. Jabatan atau posisi seringkali membuat mereka sulit dijangkau, namun mereka menjadi berbeda karena masyarakat yang mereka pimpin begitu mudahnya menemui mereka ketika kita membutuhkan bantuan mereka.

Dan menurut saya, Universitas Indonesia yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia membutuhkan seorang servant leader dalam kepemimpinannya. Saya sebagai alumni berulangkali mengalami bagaimana rumitnya birokrasi di kampus yang kata orang laksana menara gading tersebut, saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana buruknya fasilitas bagi mahasiswa/i meskipun katanya salah satu universitas di Indonesia yang paling lengkap fasilitasnya, belum lagi infratruktur yang sudah rusak sana dan sini yang tentunya butuh perbaikan, dan masih banyak lagi hal yang membutuhkan pembenahan di Universitas Indonesia. Tentu hal-hal seperti itu tidak bisa dilakukan oleh pemimpin yang biasa-biasa saja, Universitas Indonesia (sekali lagi) membutuhkan seorang servant leader yang mau berbuat banyak untuk memajukan kampus ini, tentu juga orang yang sudah memiliki track record sebagai servant leader sebelumnya. Saya percaya dan mendukung Prof Rhenald Kasali menjadi Rektor Universitas Indonesia, semoga ketika terpilih nanti Prof mampu membawa Universitas Indonesia menjadi kampus kerakyatan yang benar-benar berkualitas Internasional, bukan sekedar slogan semata.


Jakarta, 9 Oktober 2014

Alia Noor Anoviar
CP. 081210311876
Email : alia@dreamdelion.com
LinkedIn : https://www.linkedin.com/pub/alia-noor-anoviar/70/9a1/9b1

20140801

Generationpreneur Club! (2)

Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan sambutan positif terkait ide GENERATIONPRENEUR CLUB, inshaAllah ini menjadi bukti banyaknya calon ibu yang sudah memikirkan masa depan anaknya semenjak dini bahkan ketika belum menikah sekalipun. Fresh idea from the oven : Generationpreneur Club!

Beberapa tanggapan terkait Generationpreneur dari twitter sesaat setelah saya kultweet tentang #Generationpreneur :)

@sitinurul : @sovafadillah boleh tuh ka buka parenting school huhu sebelum nikah, biar jadi Ibu yang diimpikan diri sendiri 
@dawinwinda : @alianooranoviar mauuuuk 
@dinputri : @alianooranoviar mau! How to join then? :3 
@sovafadillah : unyu banget deh malam ini ngobrolin parenting ama calon ibu-ibu hebat. 
@tasyatobing : <3 blockquote="" nbsp="">
@nadyamissun : kereeen kak! mau mau ikutan
  
Diskusi terkait Generationpreneur Club pun dibahas khusus lho di grup kakak-kakak Dreamdelion Cerdas, dilanjutkan diskusi di grup team Dreamdelion. Wah serius banget inshaAllah kami mempersiapkan Generationpreneur Club :)

Berbagai masukan saya terima dari teman-teman baik internal Dreamdelion maupun dari pihak eksternal yang Alhamdulillah semakin memberikan inspirasi tentang konsep Generationpreneur Club.

Namun tentunya ada yang mengganjal dari konsep Generationpreneur, mungkin karena pemahamannya belum satu hehe... Jadi beberapa teman mengkritik terkait kata 'entrepreneur' yang diartikan mengarahkan anak menjadi pebisnis, jadi semacam membatasi masa depan anak --- anak harus jadi pebisnis. Oh bukan begitu teman-teman :3 Coba kita lihat definisi entrepreneur dulu yuk!

Entrepreneur is someone who exercise initiative by organizing a venture to take benefit of an opportunity and, as the decision maker, decides what, how, and how much of a good or service will be produced (www.businessdictionary.com)

Jadi entrepeneur pada kata 'Generationpreneur' tidak berarti sempit diartikan bagaimana seorang ibu akan menjadikan anak-anaknya menjadi pebisnis, tapi bagaimana mereka (anak-anak) bisa memiliki jiwa entrepeneur apapun profesinya. Bahkan pada pekerjaan saya sekarang di sektor perbankan ada lho jabatan 'BME' atau 'Branch Manager Entrepreneur'. Nah sekarang inshaAllah semakin jelas kan?

Seperti apa sih karakter seorang entrepreneur? Teman-teman bisa mengetahuinya dengan membaca : Karakter Entrepreneur

Nah semoga Generationpreneur Club bisa menjadi sarana silahturahmi kita yaaa, Ladies! Berbagi ilmu untuk bekal kita nanti sebagai ibu, inshaAllah.



20140731

Dreamdelion : Dream with Purpose (1)

Melewati 2 tahun lebih kebersamaan bersama Dreamdelion. Melaju dari satu cerita ke cerita lainnya bersama teman-teman dan masyarakat yang berdaya bersama kami. Melewati fase demi fase yang tidak jarang membuat kami diliputi canda tawa, tangis duka, atau sekedar perasaan lega dan tidak enak rasa. Perjalanan ini tentu masih sangat panjang, masih banyak mimpi-mimpi yang belum kami realisasikan, masih banyak yang baru sekedar menjadi rencana dan cita-cita.

Orang bertanya apa yang sebenarnya kami cari dari perjalanan ini? Mereka melihat kami berletih-letih, tanpa imbalan yang berarti. Tapi justru untuk kami, bisa berbuat walau sedikit untuk orang-orang yang membutuhkan adalah sebuah prestasi. Ketika kami belum punya apa-apa, ketika kami bukan siapa-siapa, terutama ketika kami masih dengan semangat idealisme untuk tidak egois memikirkan diri sendiri.

Satu demi satu cerita terukir dengan manisnya, saya senang bisa menjadi bagian di dalamnya. Menjadi bagian dari sejarah sudah biasa, mengapa kita tidak menciptakan sejarah? 

***

Mengawali kisah Dreamdelion jujur saya katakan bukan hal yang mudah, mengalami penolakan demi penolakan dari masyarakat yang menjadi sasaran program pemberdayaan. Masyarakat yang tinggal pada lingkungan kumuh perkotaan seperti Manggarai (Jakarta Selatan) biasa dihadapkan dengan bantuan-bantuan instan berbentuk charity. Mereka sudah berada pada comfort zone-nya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka rasakan. Menjadi lebih baik seolah bukan pilihan, apalagi janji-janji surga yang menawarkan perubahan hidup lebih baik bagi mereka sebelum Dreamdelion datang membuat mereka menjadi tawar terhadap kata 'perubahan'.

Bersyukur pernah diberikan bekal kenekatan untuk memasuki gang demi gang, meskipun sambutan kurang menyenangkan datang dari mereka. Gang-gang sempit yang nyaris tanpa penerangan, karena rumah-rumah saling berdempetan sehingga tidak menyisakan ruang untuk matahari masuk ke dalamnya, menjadi saksi kesungguhan ingin melakukan perubahan. Saat itu saya mengajak mereka untuk berkumpul di Balai PAUD, saya bilang akan memberikan pelatihan kerajinan tangan kepada masyarakat untuk selanjutnya dijual. Berbagai tanggapan datang, tapi ada tanggapan dari salah satu warga yang tidak pernah saya lupa sampai sekarang, hal ini yang menjadi pelecut untuk tidak hanya sekedar memberikan harapan.

"Mbak yang dulu kan? Aduh mbak sudah lama, sudah 4 bulan... Dulu mbak janji mau ngajarin kita bikin sajadah terus dijual, kita tunggu-tunggu sampai bosen dan lupa. Eh sekarang nawarin lagi, mahasiswa mah emang gitu janji doang..." ujar salah satu warga.

Degh...!

Saya mencoba mengingat-ingat, empat bulan lalu saya masih di Thailand. Rasa-rasanya juga baru kali ini saya menawarkan program pemberdayaan kepada masyarakat. Dan sajadah? Bahkan saya tidak pernah merasa menawarkannya.

Lalu saya pun mencoba menjelaskan dan benar saja ternyata karena sama-sama menggunakan jilbab sehingga si ibu tadi mengira saya adalah seseorang yang muncul 4 bulan lalu. Ini hanya salah satu alasan mengapa sulit mengajak masyarakat ketika itu untuk tergerak, terlebih saya yang tidak tau bagaimana cara pendekatan yang tepat bagi mereka.

***

Motivasi terbesar saya ketika itu hanya untuk mendapatkan pendanaan agar sanggar belajar dapat terus berjalan. Bantuan dari pihak lain yang tidak kontinyu, tabungan semakin menipis, dan jumlah pengajar yang mau terlibat kegiatan sangat minim membuat gerak sanggar tidak sesuai yang diharapkan. Saya sebagai mahasiswi fakultas ekonomi tidak paham bagaimana mengajar anak-anak sehingga yang saya lakukan setiap kesana hanya mendiamkan anak yang menangis, bertengkar kadang sampai main pukul-pukulan, dan beragam tingkah lainnya dari mereka.

Berbicara tentang sanggar belajar, awalnya difokuskan untuk memberikan pendidikan karakter. Namun pada proses berjalannya sama saja memberikan kelas-kelas pelajaran yang juga dipelajari di sekolah. Anak-anak yang ditangani pun sangat unik, mereka sangat sulit diminta menurut. Hal ni diakui oleh para pengajar terutama yang tidak hanya mengajar di sanggar belajar kami ketika itu. Kehilangan kesabaran akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi saja kegiatan yang ada, sampai saatnya tiba di hari dimana saya ingin menyampaikan keputusan itu pada anak-anak terjadi percakapan antara kami, percakapan yang membuat Dreamdelion ada sampai saat ini dan inshaAllah seterusnya.

Hari itu anak-anak sangat manis tidak seperti biasanya, tenaga saya tidak terkuras seperti biasanya juga meskipun hanya sendiri menghadapi sekitar 15 anak. Saat jam sanggar sudah akan berakhir, kami pun duduk melingkar. Muncullah celetukan-celetukan mereka, mereka ingin kegiatan sanggar tidak hanya satu kali seminggu karena mereka suka. 

Saya tidak pernah menyangka akan muncul kesan yang sangat baik dalam diri mereka terhadap kegiatan sanggar, mengingat hampir setiap minggu kesana saya selalu marah-marah dan ngambek karena mereka nakal. Akhhh hari itu, satu persatu memeluk saya dengan gaya merajuk khas anak-anak. Saya tidak menjanjikan apa-apa kepada mereka, tapi jelas apa yang mereka inginkan juga menjadi keinginan saya agar kegiatan kami tidak hanya di hari minggu pagi, seminggu sekali.

***

Berkeliling gang, mengundang ibu-ibu setempat untuk hadir. Sesuai jadwal jam 11.00 pagi di hari minggu ketika itu, saya hanya mendapati 7 orang hadir yang terdiri dari 5 ibu, 1 anak SMK, dan 1 anak yang sudah putus sekolah. Padahal sekitar 40 rumah saya datangi dimana satu rumah bisa terdiri dari 1-3 KK. Saya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan, 

Langkah pertama memang selalu terasa sangat berat, namun langkah selanjutnya tidak akan tercipta tanpa adanya langkah pertama bukan?

Menjelaskan kepada mereka tentunya bukan pekerjaan yang mudah, yang ditanyakan pasti tidak jauh-jauh dari 'uang'. Sekali lagi jangan menjanjikan agar jika tidak dapat memenuhinya, tidak ada yang merasa kecewa. Melihat semangat 7 orang yang hadir nyatanya bisa mengubah mood saya sebelumnya, ya inshaAllah bisa. Harus optimis!

Apa saja yang dijelaskan pada pertemuan pertama?

1. Model kegiatan yang akan dilaksanakan misalnya kegiatan dilakukan berapa kali dalam satu minggu dan pada hari apa juga berapa jam dan kegiatan yang dilaksanakan seperti apa (menjahit/melukis/menggambar dll).

2. Tujuan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dimana harus ditekankan pada kebermanfaatan masyarakat sasaran dan tidak hanya menekankan pada aspek finansial tapi juga non finansial seperti keahlian yang akan didapatkan oleh mereka.

3. Sistem insentif atau manfaat yang akan diterima dimana harus jelas peraturan dari awal seperti kalau di Dreamdelion yang bekerja akan mendapatkan bahan baku lalu bisa dikerjakan di rumah dan diperiksa setiap minggu, yang lolos standar bisa dijual akan mendapatkan insentif per pcs produk sesuai kesepakatan di depan.

4. Lama program berjalan, siapa yang akan terlibat, dan sejauh apa peran masyarakat yang mendapatkan program tersebut.

Pelatihan pertama Dreamdelion.

Terdapat beberapa hal yang harus diantisipasi sejak awal seperti bagaimana menjaga motivasi masyarakat agar tetap bersemangat melaksanakan program, terutama bagaimana menjaga motivasi diri sendiri dan tim yang terlibat karena ini sangat penting. Kedua, ketersediaan modal untuk melaksanakan program dan sebanyak apa error diperbolehkan terjadi. Ketiga, bagaimana menjaga kegiatan dapat terus berlangsung misalnya kalau di Dreamdelion berarti pemasaran produknya harus kemana dan setiap bulan harus terjual berapa agar operasional tidak terganggu.

(Con't)


info@dreamdelion.com
www.dreamdelion.com

20140728

Generationpreneur Club!

Randomly, saya punya ide di hari raya ini hahaha... Sejak ada Dreamdelion yang pelan tapi pasti mewujudkan ide-ide saya dan teman-teman, saya semakin merasa bebas dan berani untuk memiliki ide karena inshaAllah merealisasikannya hanya menunggu komitmen dan waktu saja.

Sejak ada Dreamdelion juga dan sanggar belajar Dreamdelion Cerdas mengadakan kegiatan entrepreneurship dan kelas profesi untuk anak-anak di Manggarai, saya jadi pengen punya semacam Mompreneur Club. Anw emang saya itu orangnya gampang pengenan hahaha jadi jangan kaget kalau ada yang nyeletuk sesuatu di Dreamdelion, saya langsung asal tunjuk buat yang bilang agar bisa merealisasikannya (klo kata anak-anak Dreamdelion "Hati-hati ngomong di depan kak via..." Hahaha...)

Tapi saya waktu itu mikir, ntarlah bikin Mompreneur Club kalau sudah punya anak sendiri. Mmm tapi kayaknya terlalu lama kalau nunggu itu ya, jadi saya pikir kalau niat baik itu harus banget disegerakan. Niat baik buat bikin Mompreneur Club maksudnya! Nah tapi ternyata sudah ada >>> Website Mompreneur Berarti harus cari nama yang lain dong ya dan konsepnya juga harus berbeda, kalau mompreneur.com fokusnya ke ibu-ibu rumah tangga yang juga pebisnis nih, menarik banget kalau buat yang mau belajar dan cari inspirasi. 

Saya sebenarnya terkesan dengan cerita Ibu saya beberapa bulan lalu yang akhirnya memberikan ide baru untuk saya, menjadikan adik saya Musa sebagai percobaan untuk proyek yang akan saya buat ini...

Musa punya ayam di rumah dan ayamnya bertelur lebih dari 10 telur. Ceritanya dia lagi pengen sesuatu untuk dibeli nih tapi Ibu nggak mau beliin dia. Dan tau saudara-saudara apa yang dia perbuat? Dia akhirnya mengajak Ibu untuk keliling dari rumah ke rumah menjual telur-telur ayam tersebut. Nah dari situ dia dapat uang lebih dari Rp 100.000,- lho entah memang harganya atau orang kasih dia karena kegigihannya. Waktu telpon, dia cerita dengan bahagianya hahaha si adek :3 Akhirnya saya dapat ide, pengen banget mencetak adik-adik saya menjadi entrepreneur. But, I'm still have no idea to make it real -_- 
Sampai akhirnya Ibu cerita kalau adek sudah berani bantu untuk mandiin kambing, sudah tau kan kalau ada Dreamdelion Ngawi? Meskipun belum seberapa karena masih sekitar 5 kk yang mendapatkan program ini, namun inshaAllah optimis akan berkembang dengan baik. Nah memang ada beberapa kambing yang letak kandangnya pas di belakang rumah, Musa sebenarnya takut sama kambing tapi sekarang sudah berani, hebat yaaa adek! 
Musa setiap kali telpon selalu minta mainan, yaudah saya bilang aja ke Ibu gimana kalau setiap mandiin kambing maka dia mendapatkan insentif jadi nggak kebiasaan minta tapi mengusahakan sesuatu yang dia inginkan. InshaAllah cara itu akan bikin dia lebih mandiri kan? Bukan karena tak sayang, justru karena sayang banget sama adek sendiri jadi nggak boleh manjain adek hahaha... In the next 5 years from now, my target is make him as an independent entrepreneur! That's means he has his own capital for his business.

Musa saat masih takut sama kambing :3

And now I proudly present :

GENERATIONPRENEUR CLUB

Generationpreneur Club merupakan kumpulan dari calon ibu yang ingin belajar menjadi wirausaha dan menjadikan anak-anaknya wirausaha di masa depan (belajar untuk menciptakan generasi entrepreneur). Being a mom is a big deal, ladies. We must prepare our best until that moment happen :)

Kapan launching-nya dan bagaimana konsepnya? Tunggu saja inshaAllah tanggal 18 Agustus 2014 akan saya share yaaa :D Hahaha... Hopefully banyak yang tertarik dan mau gabung :) 


20140720

Bagaimana Rasanya Menjadi Ibu? (2)

"Rasa-rasanya ini pengalaman pertama saya benar-benar menjadi Ibu untuk mereka. Akkkkkhhhh saya tidak memungkiri bagaimana sulitnya mengatur mereka, tapi saya bahagia setiap kali mereka menurut tanpa menangis dan tanpa menunjukkan wajah masam. Apalagi ketika apa yang saya katakan disambut dengan tawa, sebenarnya senyum mereka saja lebih dari cukup untuk saya, aihhh manis sekali anak-anak ini!"

Sepulang dari acara A Walk to Share dari KHI, kami pun dengan suka cita pulang bersama. Ya yaaa yaaaa tentu anak-anak sangat senang karena mereka masing-masing mendapat tas baru dan alat sekolah.

"Kalian Happy?"
"Happyyyyy kakkkkk" dengan wajah berseri-seri.

Anak-anak mendapatkan makanan kotak, sementara saya dan marissa tidak hahaaaa lupa nggak ambil makanan sehingga kami memutuskan ke KFC. Makan bersama disana, sepanjang makan mereka tidak berhenti untuk menceritakan semua yang mereka jalani hari ini. Mereka membahas semuanya, terlebih Uma dan Dias yang membuka kado mereka ternyata untuk orotan pensil hehe :)

Mereka makan puding dan es krim setelah makan sekotak nasi yang diberikan panitia, ketika ada yang tidak menghabiskan makanannya maka yang lain menasehati. Aduhhh anak-anak pintar sekali yaaa.

Kali ini kami pun menunggu kereta menuju Manggarai. Sempat terpisah saya dan Emil lalu marissa bersama Uma, Dias, dan Dandi. Sempat panik lalu saya dan Emil pun menunggu di Stasiun Jayakarta. Alhamdulillah perjalanan yang menyenangkan, saya dan marissa senang sekali, anak-anak Alhamdulillah sangat senang inshaAllah. Mengantar mereka sampai rumah, semoga menjadi pengalaman yang baik untuk Dias, Uma, Kemil, dan Dandi.

(end)
 
 

20140712

Bagaimana Rasanya Menjadi Ibu?

Berawal dari kajian-kajian kemuslimahan yang saya ikuti sejak semester 4 di bangku kuliah, namun hanya sekali dua kali alias tidak sering karena bisa dihitung jari. Saya kurang merasa tertarik dengan kajian-kajian seperti itu karena hanya berupa teori dan berbagi pengalaman dari pembicara, sementara saya tidak merasakan apa yang dibicarakan.

Namun semenjak ada sanggar Dreamdelion dengan programnya parenting program, saya menjadi tertarik dengan kajian-kajian yang berhubungan dengan bagaimana pola asuh anak, bagaimana cara menghadapi anak dengan berbagai tipe atau karakter, bagaimana memberikan pembelajaran kepada anak, fase-fase penting dalam tumbuh kembang anak, dsb. Dan sejak itu juga saya rutin mengikuti parenting program diluar yang diadakan oleh Dreamdelion Cerdas.

Semakin belajar rasanya semakin bertanya-tanya, "Nanti di masa depan, saya akan menjadi Ibu yang seperti apa?"

Tulisan ini jauh sekali dari unsur kegalauan ataupun kode-kodean hahaha, sungguh sedang tidak berminat dengan yang seperti itu saat ini. Tulisan ini saya buat sekedar ingin berbagi pengalaman sekaligus rasa terima kasih saya kepada seseorang istimewa bernama Ibu,

"Dear Mom, terima kasih sudah menjadikanku seperti yang saat ini, merawatku dengan ketelatenan, membuatku tumbuh tanpa dimanjakan, dan mengajarkanku tentang banyak hal yang istimewa. Orang bilang aku replikasi dari Ibu, mungkin iya ya untuk keras kepalanya dan kenekatannya. Tapi jelas aku ingin menjadi lebih baik dari Ibu, sepertinya kita selalu berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang terbaik diantara kita, iya kan Bu? Hehehe..."

Saat ini bisa dibilang usia yang rawan dengan pertanyaan : "Kapan menikah"

Setiap kali menanggapi pertanyaan itu kadang-kadang saya menanggapi iseng, "Duh ngomongin nikah banget, yang direncanain serius aja belum tentu kejadian apalagi yang nggak direncanain." (IFYWIM hahahaaaa)

Ketika memikirkan tentang pernikahan maka saya akan berpikir dengan satu hal yang melekat pada pernikahan, yaitu kehadiran anak-anak dari pernikahan tersebut. Itu juga yang membuat saya selalu menanyakan pentingnya anak terutama aspek pendidikan pada anak kepada orang-orang yang menyampaikan niat baiknya kepada saya.

Baiklah saya mulai ceritanya ya tentang "Bagaimana rasanya menjadi Ibu?"

Saat ini saya melakoni dua profesi, yaitu sebagai sociopreneur melalui Dreamdelion dan sebagai banker di salah satu dari lima bank terbaik di Indonesia. Kedua profesi tersebut mengajarkan saya tentang banyak hal terutama karena interaksi saya dengan para ibu. Seringnya mendengar curhatan para ibu tentang anak-anak mereka membuat saya tidak berhentinya mengeksplor untuk mencari jawaban, "Lalu ibu yang ideal itu seperti apa?" Dan belum dapat jawabannya sampai saat ini.

Membayangkan beberapa teman di bank yang sedang dalam kondisi hamil namun tetap bekerja dan pulang malam, rasanya mmm... agak-agak takut gimana gitu saya dengan kondisi baby di dalam perutnya, terutama pekerjaan di tempat saya yang tingkat stresnya tinggi. Tapi mereka survive dan terlihat tetap bahagia juga positif dalam keseharian. 9 bulan masa kehamilan tentu bukan masa-masa yang dapat diremehkan, masa depan seorang anak ditentukan sejak masih di dalam perut ibunya. See ladies, peran kita sangat penting membentuk masa depan bangsa ini karena calon-calon pemimpin masa depan inshaAllah adalah anak-anak kita.

Bersama seorang bayi di Desa Cibereum, Cisarua, Bogor saat mengisi acara K2N UI.

Setelah masa 9 bulan kehamilan, seorang Ibu menjadi 'relawan' untuk anaknya ketika melahirkan. Tidak sedikit Ibu yang tidak terselamatkan, setidaknya salah satu teman saya mengalaminya. Anaknya selamat sementara Ibunya mengalami pendarahan sehingga meninggal dunia. Akhhhh saya masih sering menyebalkan ke Ibu, "Maaf yaaa bu ntar nakalnya aku kurang-kurangin deh :p"

Nah kemarin ini saya baru saja merasakan sendiri bagaimana berperan menjadi Ibu untuk 4 anak Sanggar Dreamdelion, beruntung sekali ada Marissa --- nggak bisa membayangkan kalau sendirian O_O


12 Juli 2012. Kami mengajak 4 anak sanggar Dreamdelion untuk mengikuti acara Indohistoria. Uma, Kemil, Dias, dan Dandi dipilih karena mereka anak-anak termanis dalam artian lebih menurut dan pendiam dibandingkan anak-anak lainnya di sanggar, selain itu usia mereka yang masih di kisaran 6-8 tahun membuat kami akan lebih mudah meng-handle. Saya dan Marissa menjadi pendamping mereka berempat kemarin.

Kami berangkat dari Stasiun Manggarai, saya memegang Dias dan Uma sementara Marissa dengan Dandi dan Kemil. Anak-anak sangat antusias selama perjalanan berangkat. Beruntung suasana kereta tidak penuh seperti biasanya, anak-anak pun duduk di bangkunya masing-masing. Awalnya sangat manis-manis, beberapa menit kemudian mulai berdiri di atas kursi, mulai bertanya ini dan itu, lalu bergelantungan dengan pegangan tangan di atas. Dan peran kami berdua sebagai pendamping mulai terasah.

Seperti yang saya pelajari dalam salah satu parenting program, "ketika anak-anak tidak mengikuti aturan maka beritahu kepada mereka tentang sanksi jika mereka tidak memenuhi aturan dengan tegas tanpa menyakiti, bukan bermaksud membuat mereka ketakutan tapi memberikan pengertian." Mereka pun mulai menurut, namun tidak sekali dua kali mengulangi ketika kami lengah. Seisi gerbong melihat ke arah kami, positive thinking saja lah dilihatin karena anak-anak lucu :p


Sesampainya di Stasiun Jakarta Kota, kami menuju Museum BI. Tertinggal dari rombongan lainnya karena anak-anak lama sekali persiapannya, jadi teringat dulu saat masih kecil mau pergi sama Ibu yang paling dipikirin sama Ibu juga menyiapkan anak-anaknya (saya dan adik).

Beberapa kali hampir keserempet kendaraan, huwaaaa bawa anak orang -_- Padahal sudah dijagain banget, tapi anak-anak sangat sulit dikendalikan di jalan. Kembali kami mengingatkan tentang aturan dan mulai memberitahu sanksi yang akan mereka dapatkan jika tidak menurut : "Kakak tidak akan lagi mengajak kalian jalan-jalan kalau tidak menurut sama kakak..."

Sampai juga kami di Museum BI bertemu dengan Anna dan Kang Asep Kambali dari Indohistoria. Anak-anak dipakaikan pin pengenal untuk memulai perjalanan sambil belajar sejarah hari itu.


Selama perjalanan, anak-anak bernyanyi semau mereka, mengoceh tentang apapun yang mereka lihat, dan kembali bertanya ini dan itu. Yaaaaap saya tau mengapa menjadi Ibu itu harus cerdas karena anak-anak jaman sekarang sangat kritis dalam bertanya dan kita sebagai perempuan dituntut mengerti banyak hal.











Melihat anak-anak menikmati perjalanan bersama teman-teman barunya membuat saya dan marissa sangat senang. Meskipun berulang kali mereka mengeluh capek dan selalu menanyakan kapan sampainya, tapi mereka menikmati tempat-tempat baru yang mereka kunjungi.







Selepas acara, kami pun menuju Auditorium Museum BI. Uma dan Dias mendapatkan kadoooo lho karena di pin nya ada tulisan KHI. Sementara Dandi dan Kemil tidak mendapatkan, nah disinilah kembali peran kami sebagai pendamping diuji. "Semua akan dapat hadiah karena menjadi anak yang baik, jadi tidak perlu sedih ya. Uma dan Dias mendapatkan hadiah karena ada tulisan yang diminta panitia di pin mereka..." kurang lebih begitu kami menjelaskan.

Anak-anak membutuhkan penghargaan dan ketika mereka tidak mendapatkannya dari luar maka kita sebagai orangtua harus bisa mengapresiasi mereka agar mereka tidak merasa dibedakan.






Setelah di Auditorim Museum BI, kami menuju Masjid untuk mendengarkan ceramah dan dongeng untuk anak-anak. Dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Setelah itu tentu foto bersama hehe karena katanya nih yang nggak foto maka tidak terekam dalam bagian sejarah hehe ^^ Anak-anak mendapatkan tas baru dan alat sekolah, Alhamdulillah senangnya. 

Dan masih ada cerita saat kepulangan kami menuju Manggarai, nanti akan saya lanjutkan hehe karena saya harus pergi dulu mengikuti Buka Puasa Bersama di Manggarai.

(To be continue)


20140504

Rasa dan Kata

Kadang kita hanya mampu berucap sepatah, dua patah kata.
Itupun harus tersampaikan dengan terbata-bata.
Jika ditanya karena apa, mungkin jawabannya adalah rasa.
Namun, apa itu rasa? Kata orang rasa adalah sesuatu yang harus dijaga dengan kata.

Rasa dan kata adalah dua kata yang (seharusnya) saling melengkapi.
Karena rasa tercipta karena adanya kata, pun kata mulai muncul ketika ada rasa.

Menjelaskan rasa dan kata dalam satu kalimat yang sama tidak akan pernah mudah,
Baiklah aku akan memulainya; menjelaskan terlebih dahulu tentang rasa, selanjutnya kata.

Perjalanan hidup pasti mengajarkanmu tentang rasa; aku, kamu, dan kita semua.
Ada berbagai rasa, aku lebih suka menyebutnya nano-nano seperti merek permen yang berjuta rasanya itu lho, manis-asam-asin ramai rasanya!
Pasti tanpa dijelaskan, kita sudah tau 'ada berapa tipe rasa?'
Namun mungkin tidak semua dari kita tau tentang 'bagaimana mengungkapkan rasa?; Mmmm mungkin aku salah satunya.

Kali ini aku ingin sedikit saja berbagi, tentang sedikit hal yang aku tau tentang cara untuk mengungkapkan rasa.
Cara itu bernama 'Kata'...

Memang tidak mudah mengekspresikan rasa dengan kata,
Buktinya beberapa memilih diam untuk menyampaikan rasanya.


Ketika kamu memiliki rasa kecewa kepada dirimu sendiri, ingin menangis sekeras-kerasnya, merasa bersalah dengan apa yang kamu buat, dan berusaha mengembalikan suasana menjadi semula, mungkin kata yang pantas adalah 'Maaf'.


Lalu saat  ada hal tak biasa yang Tuhan berikan kepada kehidupanmu melalui siapapun itu, sesuatu yang mengejutkan namun membuatmu ingin terus tersenyum sepanjang hari, bisa jadi kata yang pantas adalah 'Terima Kasih'.



Hahaha pastinya masih banyak lagi contoh rasa yang bisa diekspresikan dengan kata, coba cari sendiri ya :) Kalaupun tidak bisa bukan berarti salah karena ada banyak cara mengungkapkan rasa, kadang bukan hanya dengan kata.



Jakarta Timur,4 Mei 2014
Dari sebuah kamar dengan jendela terbuka lebar,
Dengan sebuah keinginan untuk bisa menyatukan rasa dan kata.

20140430

Dinner with Scholar CIMB Niaga 09/10 :D





Menjadikan Aktif dan Berkarya sebagai Gaya Hidup Perempuan!

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan yang sama, tidak hanya sekali dua kali atau hitungan jari. Baiklah saya akan mencoba menjawabnya melalui tulisan ini ya sehingga ketika ada yang bertanya lagi bisa saya minta langsung membuka blog ini karena kadang keterbatasan ruang dan waktu membuat saya tidak bisa menjelaskan dengan detail sesuai harapan penanya :)

Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul itu seperti misalnya...

"Kak, saya kan perempuan dan kalau terlalu aktif nanti jadi tidak seperti perempuan. Kenapa kakak kok ngelakuin ini itu?"
"Gimana sih cara kamu ngelakuin semua kegiatan? Kayaknya nggak ada habisnya, emang nggak capek ya?"
"Aduh  jadi cewek aktif banget, awas lho ntar nggak punya suami. Nggak takut?"
 "Motivasi kakak sebenarnya apa ya ketika melakukan berbagai kegiatan?"
 "Pernah istirahat nggak sih? Weekdays di kantor terus weekend di luar terus..." 

Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah kenapa kok bisa aktif?
Sejak kecil saya bukan termasuk anak yang aktif, cenderung penakut dan sangat tertutup. Saya lahir di Surabaya dengan latar belakang orangtua dari Ngawi, lalu sempat tinggal di Probolinggo dan besar di Jember. Lingkungan saya hanya berkisar rumah dan sekolah, juga tempat les mengaji, mata pelajaran, dan sempoa. Saat SD saya pernah dikirim mengikuti seleksi siswa teladan, namun gagal karena belum setengah perjalanan saya mengalami sakit perut yang sangat menganggu dan terpaksa pulang. Sejak itu saya tidak punya kepercayaan diri untuk mengikuti kompetisi apapun, sejak itu juga guru-guru saya tidak pernah percaya mengirim saya untuk lomba apapun. Lomba siswa teladan itu saya pikir akan menjadi lomba pertama dan terakhir seumur hidup saya.

Many of life's failures are people who did not realize how close they are were to success when they gave up - Thomas A. Edison

Sayangnya saya tidak pernah membaca quote tersebut ketika masih SD sehingga saya sudah terpuruk sendiri dalam pikiran-pikiran negatif saya bahwa kalau lomba pasti sakit perut. Akhirnya saya yang tadinya tertutup menjadi semakin tertutup, saya merasa sangat bersalah karena tidak bisa juara saat itu. Perasaan itu saya bawa dari kelas 4 SD sampai akhirnya lulus sekolah dasar. Saya tidak suka bermain dengan anak-anak seumuran saya, lebih suka menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran agar bisa menjadi salah satu yang terbaik di kelas --- peringkat kelas penting sekali bagi saya saat itu.

Beranjak semakin berusia, dari Jember ke Ngawi. Saya pun memasuki bangku SMP, situasi yang sangat berbeda dengan ketika SD. Semua orang di sekeliling saya menggunakan bahasa jawa, sementara di SD dulu mayoritas berbahasa madura. Saya tidak mengenal satu pun dari isi kelas, sementara teman-teman saya sudah berkelompok sesuai SD-nya dulu. Jujur saya sangat takut berada di lingkungan yang baru, asing. Saya mulai coba memberanikan diri duduk di dua kursi paling belakang dan berkenalan dengan beberapa orang. Mereka menyambut ajakan berteman saya dengan baik, diam-diam saya mulai lega. Punya setidaknya beberapa teman di hari pertama cukup baik dibandingkan tidak sama sekali. 

Saya merasa menjalani kehidupan luar biasa selama 3 tahun tersebut. Dulu saya dibilang 'orang paling nggak peka sedunia' karena apapun yang terjadi di sekitar saya asalkan tidak berpengaruh dalam kehidupan saya maka tidak akan menimbulkan reaksi apapun pada diri saya. Saking cueknya itu mungkin saya nggak punya teman, dulu ketika SD saya sangat idealis dan tidak mau memberikan contekan kepada teman bahkan tidak mau menunjukkan PR saya untuk disalin (waktu itu saya bertugas memeriksa PR setiap hari dan saya harus melaporkan kepada Bu Guru apakah ada yang tidak mengerjakan PR). Saat di SMP saya membentuk peer group bersama Mita, Siska, Nanda, Yasmine, Roza, dan Nani. Peer group saya saat itu cukup dikenal tidak hanya di kalangan teman sejawat, tapi juga kakak kelas dan guru-guru. Saya belajar banyak hal dari 3 tahun ini, bukan hanya karena terpisah dengan orangtua dan merasakan kehidupan sebagai anak kos, tapi juga bagaimana saya harus bisa bersosialisasi dengan baik bersama teman-teman dan orang-orang di sekitar lingkungan saya. Akhirnya saya belajar bahwa nilai bukan segalanya.

Saya menemukan diri saya yang sebenarnya dalam 3 tahun perjalanan ini. Peer group saya sangat membantu dalam proses tersebut. Sampai sekarang kami masih saling mengkontak, beberapa kali bertemu. Berbeda profesi tidak membuat kami jauh, jarak dan waktu bukan penghalang silahturahmi bagi kami. Sekarang ada yang menjadi dokter, dokter hewan, bidan, ahli kimia, dan dua dari kami menjadi banker. Saya menemukan diri saya yang sebenarnya, saya juga mulai berani berbicara di depan umum, saya mulai mencoba hal-hal baru yang menantang, saya belajar bagaimana menjaga pertemanan lebih dari sekedar memperoleh keuntungan. Saya menikmati kehidupan saya saat itu, meskipun tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai dengan suka-duka-tawa-tangis-dan lain-lainnya. Saya belajar pertama kali untuk berani menunjukkan tulisan-tulisan saya kepada peer group saya, mereka selalu mengapresiasi dan memberikan saran perbaikan. Proses hidup mengajarkan pada saya seberapa penting mereka dalam perjalanan hidup saya, membentuk diri saya yang sekarang.

"I don't feel much like Pooh today," said Pooh.
"There there..." said Piglet. "I'll bring you tea and honey until you do."
 -A.A. Milne, Winnie The Pooh-

Saya kembali ke Jember saat SMA. Kembali suasana yang baru, namun bedanya saya mengenal beberaapa wajah teman SD saya saat berada di SMA. Saya berjilbab pertama kali di kelas 1 SMA, saat resmi diterima di SMA Negeri 1 Jember ketika itu. Saya masuk ke kelas X-3 yang terkenal sangat ramai diantara kelas lainnya. Lalu saya masuk IPS karena saya suka ekonomi-akuntansi saat itu. Ketika kelas 2 SMA, saya mencoba kompetisi akuntansi yang diadakan oleh STAN. Benar kejadian itu terulang, saya sakit perut di tengah perjalanan. Saya pun gagal dan membuat tim saya gagal.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil - Mario Teguh.

Tapi kali itu saya mencoba tidak menyerah. Saya mengikuti satu persatu kompetisi ekonomi-akuntansi-penulisan ilmiah dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit saya memetik hasilnya. Rutinitas saya tidak membuat saya menjadi tidak memiliki teman seperti di SD, saya justru bisa mendapatkan banyak teman bahkan dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa karya saya selama SMA dapat dibaca disini : LinkedIn Alia Noor Anoviar

Setiap bulan saya mendapatkan teman-teman baru, datang ke tempat yang baru, berkreasi dengan penelitian-penelitian yang baru. Saya merasa menjadi semakin hidup! Sampai akhirnya pasca SMA saya memutuskan kuliah di FEUI dan mengambil Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Saya kembali dapat belajar hal baru, pengalaman seru dan menantang, teman-teman yang lebih beragam. Masih menekuni dunia tulis menulis, semua tentang jurnalistik saya coba pelajari di Badan Otononom Economica FEUI, masih juga mengikuti kompetisi namun mulai beralih ke ranah sosial-politik-ekonomi. Mulai berani menulis di koran, lalu kumpulan esai dalam buku, jurnal-jurnal nasional dan internasional. Lama-lama saya mulai merasa bahwa bukan 'menulis' yang menggerakkan saya untuk terus menulis, tapi kesempatan travelling dan bersosialisasi yang membawa saya ke tempat-tempat baru dengan orang-orang baru menjadi motivasi terbesar mengapa saya harus terus menulis dan meneliti. Ini link album-album foto selama saya menjalani berbagai rutinitas di tingkat perguruan tinggi : Facebook Alia Noor Anoviar

Saya paling suka ketika mendapat kesempatan sekedar menjadi asisten dosen, asisten peneliti, asisten konsultan hahahaaaa meski kadang cuma mengerjakan hal-hal administratif, tapi lebih banyak yang benar-benar terlibat aktif dalam penyusunan buku misalnya. Saya pernah jadi SPG produk bank dan sabun herbal, saya suka menjalani semua itu meskipun mungkin uangnya tidak seberapa karena tidak semua hal bisa dinilai dengan uang atau materi. Hal paling penting saat melakukan sesuatu adalah ANTUSIASME diri kita sendiri.

Nothing great was ever achieved without enthusiasm - Emerson

Hal yang paling terasa saat kita bisa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan adalah menemukan SPECIAL CIRCLE yang pasti tidak semua orang bisa memasukinya. Ketika saya mulai aktif di SMA untuk jurnalistik maka saya bisa memasuki circle jurnalis, bertemu dengan orang-orang yang hari-harinya dimanfaatkan untuk mendapatkan berita-berita sesuai bidangnya, mendengarkan pengalaman lapangan mereka, lalu membaca karya-karya mereka dalam rangkaian kata atau melihat karya mereka dalam layar kaca. Lalu ketika saya mulai aktif menulis, saya memasuki circle penulis yang lebih suka mengungkapkan perasaannya melalui kata, mereka yang terus berusaha hidup tanpa banyak bicara secara verbal. Dan saya memasuki circle lainnya, mereka yang gemar dengan kompetisi dan mungkin berkompetisi menjadi gaya hidup mereka; entah menang atau kalah tapi mencoba sebaik mungkin membuktikan kompetensi diri. Selanjutnya saya memasuki circle teman-teman dari internasional ketika exchange atau mengikuti kegiatan lainnya di luar. Melihat bagaimana budaya, bahasa, dan banyak hal berbeda antara saya dan mereka. Itu sangat menyenangkan! Saya terus berjalan dan mencari circle apalagi yang bisa saya masuki, dunia aktifis kampus dengan hingar bingar perjuangan, idealisme ala anak muda yang membuat saya tertantang untuk punya semangat perjuangan yang sama. Lalu circle para sociopreneur melalui Dreamdelion, change makers, business, dan mengkreasikan kolaborasi swasta-pemerintah-NGO-masyarakat yang super seruuuuuuuuuuuuuuu! Dan sekarang saya memasuki circle baru, dunia para bankers yang totally different dengan circle-circle yang saya masuki sebelumnya.

Pada akhirnya saya ingin bicara bahwa menjadikan aktif dan berkarya sebagai gaya hidup (LIFESTYLE) adalah sebuah keharusan. Lelah itu memang terasa tapi rasa senangnya mengalahkan. Terutama bagi perempuan (sekali lagi bukannya mau main gender ya), kita nantinya akan menjadi pendidik, membangun peradaban, pencipta karya-karya hebat, dan orang-orang yang akan merawat calon penerus bangsa ini agar bisa menjadi bangsa yang hebat. 

Keren nggak sih saat kita sebagai perempuan bisa menceritakan kepada anak-anak kita nanti bukan cerita tentang cinderella, snow white, atau film-film kartun? Namun kita bisa menceritakan tentang kehidupan nyata, perjalanan-perjalanan hebat, pengalaman-pengalaman dengan berbagai nilai di dalamnya, dan segala sesuatu yang memang kita alami, bukan hanya bersumber dari buku atau cerita orang lain. Sepertinya sangat indah dan tidak mudah melakukannya, tapi saya optimis bahwa kita (perempuan) bisa! Kita (perempuan) pasti bisa menjadikan aktif dan berkarya sebagai gaya hidup untuk membangun peradaban yang lebih baik lagi bagi generasi masa depan. #PerempuanHarusOptimis!


Karakteristik istimewa peradaban modern adalah tak terbatasnya bermacam-macam keinginan manusia. Karakteristik peradaban kuno adalah larangan keras dan aturan tegas terhadap keinginan-keinginan itu - Mahatma Gandhi

Ditulis Oleh :

Alia Noor Anoviar 







Ternyata Saya Orang 'ENTJ'

Iseng-iseng mengikuti tes online kepribadian beberapa hari lalu, ketika ada seseorang yang memberi tau tipe kepribadiannya berdasarkan tes MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Nah buat yang mau tau apa itu MBTI bisa lihat pada link ini : What is MBTI?


Personality represent those characteristic of the person that account for consistent pattern of feeling, thinking, and behaving - Pervin (2000)

Nah indikator-indikator dalam MBTI sendiri tergambarkan pada tabel gambar di atas. Saya ternyata bertipe kepribadian ENTJ (Extrovert, Intuition, Thinking, Judging).


82 % dominasi Extrovert dalam ENTJ pada diri saya sepertinya memang sangat benar. Saya menulis ini secara subjektif ya hehe jadi mungkin tidak semua extrovert berperilaku atau bersikap seperti ini, juga tidak semua orang dengan tipe ENTJ seperti apa yang saya tuliskan.

Ada beberapa hal yang saya suka dan tidak suka, mungkin ini dipengaruhi oleh tipe kepribadian saya haha banyak kata 'mungkin' :3

Pertama, saya sangat suka berada dalam lingkungan yang berkelompok, mengandalkan kerjasama, cerita. Ketika kondisi-kondisi tersebut tidak bisa saya dapatkan maka biasanya saya yang akan mencoba menghidupkan suasana, meskipun kadang garing krik krik krik... Karena itu mungkin saya merasa hidup ketika ada dalam sebuah komunitas, bertemu dengan beragam orang. Pernah dalam satu hari saya ganti baju berulang kali karena harus menemui orang-orang berbeda, mulai dari yang ada di bantaran kali sampai dengan hotel bintang lima. Buat saya hal-hal seperti itu sangat menyenangkan dan menggambarkan diri saya yang sebenarnya, hahaaa mungkin ini juga dipengaruhi karena saya suka travelling dan nggak betah kalau cuma di rumah.

Kedua, saya cukup mudah berinteraksi dengan orang-orang baru, beradaptasi dengan sangat cepat kepada orang-orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya, dan seringkali sok kenal hahaha... Tapi saya bisa jadi orang paling diam dan salah tingkah pada situasi tertentu. Pada situasi tertentu saya akan mengejar jawaban yang saya tidak tau dan saya akan terus bertanya "Mengapa?" sampai mendapatkan jawabannya. Rasa kepo saya cukup berlebihan, dari kecil saya suka jadi detektif hingga akhirnya menyalurkan potensi itu (cieeee potensi kepo maksudnya) melalui kegiatan jurnalistik. 

Ketiga, saya seringkali merasa tidak enak dan seringkali merasa bersalah meski kadang-kadang saya tidak tau apa salah saya. Meskipun katanya saya itu berkepribadian 'Thinking', namun pada prakteknya saya lebih mengandalkan 'Feeling'. Saya lebih suka mengandalkan kata hati atau firasat dibandingkan menuruti kemana logika berjalan. Cara berpikir saya cukup kompleks, sangat memperhatikan detail, namun lagi lagi sangat memperhatikan dampak dari apa yang saya lakukan pada perasaan orang lain -saya sendiri tipikal orang yang sangat sensitif sehingga saya mengasumsikan semua orang juga sesensitif saya- hahahaaaa

Keempat, saya selalu berpikir tentang masa depan nah kata orang lain sih saya visioner. Saya berpikir bahwa setiap pertanyaan itu harus ada jawabannya, pun begitu dengan masa depan tentu bukan perihal yang sederhana sehingga harus benar-benar dipikirkan. Saya suka berpikir tentang hal-hal yang luas lalu membuat strategi untuk bisa mencapai hal-hal yang luas itu dengan detail yang sangat matang dan rapi. Dan saya suka ditantang, suka melakukan hal-hal yang orang berpikir saya tidak bisa melakukannya. Kompetisi sejak SMA, masuk ke FEUI, dapat beasiswa CIMB Niaga, Dreamdelion, dan masih banyak hal lainnya bermula dari kalimat "Memangnya kamu bisa?" Ya saya sangat suka kalimat tantangan itu, rasanya bisa nambah energi saya berkali-kali lipat.

Kelima, saya ambisius tapi realistis. Sifat yang satu ini seringkali membuat orang-orang di sekeliling saya merasa tidak nyaman dan terintimidasi. Meskipun kalau boleh membela diri, saya selalu punya alasan ketika berambisi dan selalu mencari tau bagaimana strategi untuk mencapai ambisi --- mungkin lebih baik disebut dengan mimpi. 

Hahahaaa setelah menulis sepanjang ini saya baru sadar, ngapain banget saya nulis ini ya? -_- LOL 



Dalam sebuah ruang imajinasi,

Alia Noor Anoviar

20140417

Memandang Perempuan dari Kacamata Pria

Ada yang mengatakan bahwa kita tidak dapat menilai diri kita secara pribadi. Yang dapat menilai tentang kita adalah orang lain seperti teman, orang tua, pacar, atau tetangga. Apakah hal ini juga berlaku pada perempuan? Dalam artian perempuan tidak bisa memberikan kesan yang proporsional terhadap makna perempuan. Perempuan seringkali memandang dirinya dan sesamanya sebagai sosok yang tanpa cela, padahal nobody is perfect. Jika ada pernyataan yang mendiskreditkan kaum mereka, misalnya anggapan bahwa perempuan itu matrealistis, maka mereka langsung berusaha mengelak dengan memberikan pernyataan bandingan yang membuat sekelilingnya berpikir ulang, “perempuan tidak matrealistis, tetapi realistis.” Dan yang sering penulis temukan dalam dunia nyata saat perempuan telah berani mendua, gender dengan populasi lebih besar daripada pria di dunia ini dapat menjawab dengan entengnya, “kan sekarang jaman emansipasi. Pria saja bisa punya 4 istri, kenapa perempuan tidak?” Jika ada yang lebih memikirkan karir dan menunda-nunda untuk menjalankan sunah Nabi Muhammad SAW, mereka pun memiliki alasan yang dirasa tepat dimana tidak ingin bergantung pada pria pasca menikah nanti sehingga sekarang membanting tulang dan memeras keringat demi mengejar materi.

Lalu bagaimana pria memandang sosok yang konon merupakan salah satu dari kelemahan darinya. Santer terdengar ada 3A yang dapat menjatuhkan para adam entah benar entah salah, yaitu hartA, tahtA, dan wanitA. Penulis mencoba menanyakan kepada dua pria dari profesi dan asal usul yang berbeda untuk memberikan pendapat mengenai perempuan pasca emansipasi dan bagaimana perempuan yang lebih suka berkarir daripada memikirkan keluarga dari kacamata pria.

Dimas Bagus Farizky, Bandar Lampung, Mahasiswa UNDIP. “Sekarang perempuan lebih kelihatan berkarakter dan kemampuannya nggak cuma di rumah, masak dan jaga anak. Tapi ya jangan sampai kebablasan aja mau ngelebihin pria. Kan kodratnya pelayan suami. Perempuan yang harus dibasmi itu kalau perempuan lebih suka karir daripada mikirin keluarga.”
Yakub Utama, Solo, Dosen ATMI. “Perempuan itu dianugerahi Tuhan posisi krusial sebagai co creator atau asisten dalam penciptaan di dunia ini. Maka fungsi ini tidak boleh dilupakan. Dalam kaitan itu segala atribut lain yang dikejarnya seperti karir dan seterusnya tidak boleh meninggalkan kesadaran akan fungsi tersebut. Pria dan perempuan bisa sama dalam hal emansipasi fungsi, namun jangan lupa kodrat dasar sebagai perempuan. Perempuan nggak harus tomboy ketika mulai punya kesadaran tentang gender. Nggak harus terlihat unggul dari pria di depan umum.” Dia mencontohkan istrinya yang berprofesi sebagai pegawai bank dimana berangkat jam 7 pagi minimal pulang bada magrib, tetapi tidak melupakan fungsinya sebagai istri dan ibu dari dua balita yang masih membutuhkan curahan kasih sayang.

Bagaimanapun pria memandangnya, tentu perempuan memiliki penilaian sendiri atas pribadi masing-masing. Perempuan dan pria memiliki kacamata yang berbeda, sudut pandang yang kadang bertolak belakang, dan pemahaman yang acap kali tak sama.

Meluruskan Emansipasi Salah Arti

Perempuan Indonesia tidak dapat dipandang remeh keberadaannya. Sebut saja Megawati Soekarno Putri yang membuktikannya dengan keberhasilan memangku jabatan RI 1 pasca turunnya Gusdur. Sejak dulu perempuan memang pantas diakui kehebatannya, sebut saja pejuang sekelas Cut Nyak Dien. Perempuan masa kini pun bisa menjadi apa yang mereka inginkan, seperti menteri (Sri Mulyani), profesor (Sulastri Surono, FE-UI), dan pengusaha sekaligus motivator (Wulan Ayodya). Bahkan banyak pula perempuan multitalenta berprofesi ganda di Indonesia, salah satunya Nova Riyanti Yusuf yang merupakan anggota DPR, dokter spesialis jiwa, novelis, sekaligus atlet (Jawa Pos edisi Senin, 17/01/2011).
Perempuan ibarat setangkai bunga beribu makna dimana merupakan simbol kasih sayang. Bunga semakin lama akan menutup pesonanya dengan menjadi layu jika tidak dirawat dengan baik. Begitu pula dengan perempuan, penulis merefleksikannya dengan ungkapan: Jangan biarkan perempuan layu oleh emansipasi yang berlebihan.

Sejenak menelaah konsep emansipasi yang digelorakan oleh perjuangan Kartini, apakah sesuai dengan kondisi masa kini? Sepertinya saat ini telah disalaharti sehingga menempatkan perempuan tidak pada fungsi, kodrat, dan peranan konkritnya. Pada kenyataanya perempuan memang tidak akan pernah sejajar derajatnya dengan pria. Begitu pula dengan pria tidak akan sejajar derajatnya dengan perempuan. Mengutip pernyataan Napoleon Bonaparte, yaitu kemajuan perempuan merupakan ukuran kemajuan negeri dimana dapat menggoyangkan buaya dengan tangan kirinya, namun dapat pula menggoyangkan dunia dengan tangan kanannya. Hal ini tentu menempatkan perempuan pada posisi yang spesial.

Fenomena yang paling sering terjadi adalah perempuan melupakan kodratnya sebagai ibu, bahkan lebih memilih menjadi sosok workaholic women. Dengan mudahnya mengganti peran perempuan sebagai ibu menjadi penggaji pembantu. Bahkan terang-terangan enggan menikah atau memiliki anak untuk melaju bersama karir dalam genggaman. Melalui tulisan sederhana ini, penulis ingin memberi gambaran mengenai perempuan Indonesia yang kurang tepat mengartikan emansipasi dan tentu berharap pembaca (perempuan) dapat meluruskan pola pikir secepat mungkin. Tulisan ini tidak bermaksud mendoktrin bahwa pola pikir perempuan saat ini salah.

Mengutip pernyataan Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku Panggil Aku Kartini Saja, “Bersama-sama hidup mandiri, kami pun akan berjuang keras memajukan, membangkitkan bangsa kami dari kehinaan. Hidup kami kaya akan jasa dan penuh dengan cita-cita.” (30 September 1901). Perempuan era Kartini tidak memiliki kebebasan, dapur menjadi tempat yang dianggap pantas untuk keseharian perempuan sebagai kaum lemah. Eksploitasi tanpa batas dilakukan oleh para bangsawan. Hukum adat dan pengaruh kolonialisme memperburuk kondisi mereka. Kartini terus berjuang, darah bangsawan yang mengalir tidak membuatnya menutup mata melihat ketidakadilan. Akhirnya Kartini berhasil memperjuangkan perempuan untuk mendapatkan pendidikan pada awalnya, hingga lahirnya persamaan-persamaan lain dengan pria.

Kondisi sekarang dengan tempo dimana Kartini berada tentu sangat berbeda.Masa kini yang serba modern telah nyata memberi ruang bagi perempuan untuk melakukan hal yang dulunya hanya bisa dilakukan oleh pria. Meskipun masih juga sering disiarkan oleh media berbagai bentuk penindasan pada perempuan. Perempuan memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas dan benar; kepercayaan diri akan kemampuan; juga memiliki harkat dan martabat. Semakin indah dipandang jika perempuan dapat menghormati diri sendiri dengan tidak melakukan emansipasi yang berlebih. Keharusan perempuan untuk mencerdaskan diri sehingga mampu melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai perempuan secara proporsional merupakan emansipasi versi cita-cita Kartini. Saat itu tentu Kartini tidak bermaksud menjadikan perempuan melupakan kodrat sebagai bagian dari tulang rusuk kaum pria, melupakan peran perempuan yang sesungguhnya, lalu menjadi angkuh karena menganggap diri memiliki senjata emansipasi.
Perempuan Bukan Komoditas!!![1]

Mengutip tulisan Arda Dinata (2010), “Perempuan diciptakan Tuhan bukan dari tulang tengkorak pria sehingga hanya bisa menjadi pemikir. Bukan pula dari tulang kaki, yang hanya menurut untuk berjalan. Bukan pula dari tulang tangan yang hanya bisa menengadah dan mengharap belas kasihan. Akan tetapi, perempuan diciptakan dari rongga dada seorang pria atau tulang rusuk dimana seluruh pusat kehidupan dimulai dan harus dilindungi.” Ungkapan yang mengatakan bahwa perempuan adalah tiang negara dan surga berada di bawah telapak kaki ibu yang notabene adalah perempuan jelas menempatkan perempuan menjadi kaum yang istimewa. Satu lagi, perempuan diidentikan pula dengan bidadari dunia karena kecantikannya, kelembutannya, kesantunannya, dan seksi ala 3B (Body, Brain, and Behavior).

Berbagai keistimewaan yang dimiliki oleh perempuan tak jarang disalahgunakan atau lebih tepat dieksploitasi secara berlebihan. Sungguh ironi saat penulis membaca berita bersambung ala Radar Jember yang dimulai pada tanggal 6 Januari 2011 dengan topik Menguak “Bisnis Esek-Esek ‘Ayam Kampus’ di Jember”. Dengan gamblang dan jelas pada artikel, para ayam kampus yang bekerja karena desakan ekonomi bahkan adapula yang menikmati pekerjaannya karena materi berlimpah dari cinta satu malam yang dijalani. Bahkan pada edisi 13 diuraikan bahwa kupu-kupu malam kampus tersebut memiliki ‘germo ayam kampus’ yang ternyata juga masih berstatus mahasiswi universitas di Jember.
Penulis meyakini bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Jember, tetapi juga kota-kota lainnya di Indonesia sebagaimana pernah diangkat dalam rubrik sosial Majalah Economica edisi 44, BOE Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dimana penulis bernaung. “Di antara hingar bingar kesibukan buku, pesta, dan cinta, masih ada satu cerita lain yang hadir menyelingi hiruk pikuknya kehidupan unik kampus. Mereka nyata dan ada di sekitar kita. Sebagian orang tidak ingin mengambil pusing cerita tentang mereka dan sebagian lain inginkan mencari kepuasan dari mereka,” begitu kutipan pembuka artikel dengan judul Area Abu-Abu, Ayam, dan Kampus pada halaman 7 Majalah Economica Edisi 44.

Metropolis, Jawa Pos (18/01/2011), menguraikan dalam salah satu artikel dengan judul “Dikira Wartawan, Diusir Keluarga Korban” mengenai Solikuniyah, psikolog pendamping korban pemerkosaan dan trafficking. Disebutkan bahwa perempuan yang menjadi korban semakin banyak dimana berusia kurang dari 20 tahun. Tentu sulit untuk menyembuhkan trauma yang dialami korban dan membutuhkan waktu yang tidak singkat, bahkan dari segelintir korban tak jarang yang menjerumuskan diri sebagai kupu-kupu malam permanen karena merasa dirinya terlanjur kotor pasca dijual atau dihinakan.
Ada yang menjerumuskan diri dengan berbagai dalih dan ada yang terjerumuskan dalam profesi yang dianggap oleh masyarakat sebagai profesi sampah. Tentu keberadaan mereka menimbulkan pro-kontra sebagaimana petikan lirik lagu “Kupu-Kupu Malam” ciptaan Titik Puspa yang dipopulerkan oleh Ariel Peterpan, musisi yang menistakan perempuan di titik terendah dengan skandal video porno tidak hanya dengan satu perempuan, “Ada yang benci dirinya. Ada yang butuh dirinya. Ada yang berluntut mencintainya. Adapula yang kejam menyiksa dirinya.”Perempuan yang bekerja dan dipekerjakan selayaknya tuna susila tentu merupakan eksploitasi nyata dimana menjadikan perempuan komoditas murah meriah yang mudah dipindahtangankan.

Tidak hanya berprofesi sebagai penghibur sesaat, seringkali ditemui pula perempuan yang suka rela membuat dirinya sendiri pantas dianggap rendah misalnya dengan bergoyang seronok, memakai pakaian yang sangat minim, dan berlaku genit kepada kaum adam seperti yang dilakoni para remaja dalam masa pencarian jati dirinya, juga para punggawa layar kaca.

Seorang mengatakan pada penulis, “perempuan itu layaknya pajangan di toko. Bisa terlihat mewah dan diinginkan jika berada dalam etalase tertutup dan harganya pasti akan mahal. Beda dengan pajangan yang berada di luar dan bisa disentuh oleh semua pembeli yang biasanya akan dihargai jauh lebih murah.” Namun tentunya apa yang dinyatakan oleh orang tersebut tidak membenarkan perempuan yang selama ini diperjualbelikan layaknya komoditas.

Perempuan bukan komoditas. Komoditas ekonomi yang seringkali dibarter dengan beberapa lembar ratus ribu rupiah. Komoditas politik yang menjadi magnet penarik massa terutama saat pemilu berlangsung dimana perempuan menjadi ikon panggung penghibur. Komoditas sosial yang termakan oleh globalisasi sehingga menggunakan pakaian tak layak guna. Bukan pula sebagai komoditas budaya dimana menggunakan konsep tradisional, dikekang oleh pria dan hidup tanpa kebebasan. Perempuan laksana berlian jika diasah dengan benar dan dapat pula menjadi arang jika dibiarkan hidup dalam kenistaan.

Depok, 16 Februari 2011. Pukul 22.57.

[1] Modifikasi, sebelumnya dimuat dalam Jawa Pos Edisi Senin, 7 Februari 2011 pada rubrik Jawa Pos For Her 500 Kata ke Amerika dengan judul : Perempuan Bukan Komoditas.