20150717

#Renungan

Tiba-tiba seorang teman memberikan saya tulisan ini, saya tertunduk dan menangis. Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya melebihi takaran kemampuan hamba-Nya, saya percaya itu.

***

"Ketika Engkau Menikahi Seorang Istri dari Keluarga yang Tidak Sempurna"
Ketika kau memutuskan untuk menikahi seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali akan ada beberapa orang yang mempertanyakannya. Mungkin orangtua atau orang-orang terdekatmu. Apakah kamu serius dengan keputusan itu? Sudahkah kamu memikirkan semuanya? Tidakkah kamu takut rumah tanggamu akan berjalan tidak baik-baik saja?
Dan ketika kamu teguh dengan keputusan itu, bahkan calon istrimu sendiri mungkin meragukannya: Apakah kau tak akan menyesal di kemudian hari?
Aku mengalami semua itu. Aku pernah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hari ini, aku ingin menjawab dan menjelaskan semuanya…
Ketika kau mengenal seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau baru saja bertemu dengan perempuan dengan kemampuan menghadapi persoalan di atas rata-rata. Ia tumbuh dengan perjuangan untuk selalu bisa tersenyum di hadapan semua orang, berusaha tampak biasa-biasa saja, meskipun ada sesuatu yang menghantam-hantam dari dalam dirinya. Ia mungkin sering menangis, tetapi bukan untuk sesuatu yang remeh-temeh. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi hal-hal sepele yang bisa ia atasi dengan cara dan usahanya sendiri. Ia menangisi sesuatu yang barangkali jika semua itu terjadi kepadamu, kau tak akan pernah bisa menahannya. Ia menangisi sebuah kehilangan.
Apa yang hilang dari dirinya? Barangkali masa kecil dan kebahagiaan yang semestinya mewarnai semua itu. Barangkali rasa bangga yang tetiba diruntuhkan oleh ketidakadilan yang entah mengapa harus menimpa dirinya. Ia menyaksikan kehancuran rumah tangga orangtuanya pada usia yang telalu muda. Barangkali ia harus mendengarkan kekecewaan ibunya sendiri tentang ayah yang dicintainya. Barangkali ia harus menerima kenyataan bahwa cinta bukan satu-satunya syarat untuk mempertahankan semuanya. Pada saat bersamaan, ia harus menutup telinga dari pembicaraan buruk orang-orang tentang keluarganya. Ia dipaksa nasib untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
Tetapi, kedewasaan itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Ia selalu punya cara untuk terlihat biasa-biasa saja di tengah hal-hal buruk yang sedang dihadapinya. Ia tetap bisa tersenyum saat orang lain terlalu lemah untuk bersikap baik-baik saja. Bayangkan, ia membangun semua sistem pertahanan dan rasa percaya diri itu selama bertahun-tahun?
Hari-hari pertama setelah kau menikahi perempuan itu, semuanya akan terasa mudah bagimu. Kau pikir, ia tak perlu banyak waktu untuk belajar menjadi istri yang baik buatmu. Ia begitu menghormatimu. Ia pandai menempatkan diri. Ia begitu pengertian dan penuh kasih. Meski mungkin kau tidak tahu bahwa sebenarnya ia menjalankan semua itu dengan penuh rasa takut dan khawatir. Ia takut hal-hal buruk yang terjadi pada orangtuanya terulang lagi pada dirinya. Ia dihantui rasa khawatir untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin bisa mengembalikan lagi kesedihan yang bertahun-tahun berusaha dikubur di kedalaman perasaannya. Ia menjaga semuanya untuk kebahagiaanmu, untuk kebahagiaannya sendiri, untuk kebahagiaan kalian berdua.
Bulan demi bulan berlalu, kau selalu terpesona dengan keterbukaanya tentang segala sesuatu. Ia terlatih untuk jujur pada dirinya sendiri, sehingga tak memiliki apapun lagi untuk dirahasiakan darimu. Ia bisa dengan mudah menceritakan hal-hal buruk yang pernah menimpanya atau kekurangan dirinya, ia menceritakan apapun tentang keluarganya, ia ingin kau melihat dan mencintainya apa adanya.
Barangkali ia juga sering bersedih, meski mungkin kau jarang mengetahuinya. Ia terbiasa menggigit bagian dalam bibir bawahnya saat kau menceritakan tentang keluargamu: Ayahmu yang lucu, ibumu yang lugu, adik-adikmu yang nakal, atau tradisi liburan keluarga yang bertahun-tahun kau miliki dengan penuh kebahagiaan. Ada perasaan asing yang mengalir dalam dirinya ketika kau menceritakan semua itu. Rasa asing yang mungkin akan membuatnya tidak nyaman, cemburu, marah, atau segala sesuatu di antara semua itu.
Maka ia mulai mencintai ibumu seperti ibunya sendiri, ia akan menghormati ayahmu seperti ayahnya sendiri, ia menjadikan keluargamu sebagai pelabuhan bagi semua mimpinya tentang rumah cinta dan tangga ke surga. Tahun-tahun berikutnya, ketika kalian dikarunia anak-anak, ia akan selalu berusaha menjadi ibu yang sempurna bagi mereka. Ia tak ingin, dan tak ingin, dan tak pernah ingin anak-anaknya mengalami sesuatu yang sama yang pernah ia alami. Dalam daftar prioritas hidupnya, ia tulis hal-hal yang tak akan mengecewakanmu: cinta, kasih sayang, kejujuran, kesetiaan. Hal-hal yang dari semua itu ia letakkan fondasi untuk sesuatu yang kelak kalian akan sebut sebagai ‘rumah’—tempatmu bertolak sekaligus kembali, tempat kalian akan melewati semuanya bersama-sama.
Demikianlah, ketika kau menikahi seorang istri dari keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau telah menikahi seorang perempuan terbaik di dunia… Perempuan yang dengan segala ketidaksempurnaan yang dimilikinya, akan menyempurnakan segala sesuatu yang ada pada dirimu dan semua hal di sekelilingmu.
Ketika kau melihat seorang perempuan dari masa lalu yang tidak sempurna, kau tengah melihat seorang perempuan hebat dengan seluruh keajaiban yang ada dalam hidupnya. 

20141104

Keyakinan untuk BISA!

Sangat sulit menyakinkan orangtua saat saya memilih apa yang sekarang saya pilih dalam hidup, menjadi sociopreneur. Pergolakan batin terberat saya sekitar 2,5 tahun lalu adalah bagaimana caranya saya tetap bisa memenuhi kebutuhan saya, memiliki standar hidup seperti sebelumnya, namun harus merubah 'gaya' hidup saya. Dan nyatanya tidak bisa, hidup saya menjadi semacam kurva yang menurun secara 'gaya' hidup misal tidak bisa lagi membeli baju di mall, harus jarang-jarang makan di tempat bermerek, dsb. Saya benar-benar fokus pada Dreamdelion dan meninggalkan kesenangan saya menulis.

Sejak 2008 tulisan-tulisan saya cukup baik menghiasi kompetisi demi kompetisi, dari sana saya membiayai sekolah dan Alhamdulillah bisa full membiayai sekolah sejak kelas 2 SMA. Keinginan saya untuk bisa membiayai sekolah sendiri sudah ada sejak SMP, saya berjual stiker, pin, kaos, dan menjadi tutor untuk beberapa adik kelas. Namun saat itu, saya masih cukup bergantung pada orangtua. Terlebih Bapak yang sangat memanjakan saya dan Ibu yang sangat memperhatikan pendidikan saya sehingga saya tidak boleh berkegiatan yang menganggu sekolah. Kompetisi demi kompetisi yang saya jalani sejak SMA yang kata orang mencerminkan sifat ambisius dalam diri saya, sebenarnya adalah salah satu upaya saya agar bisa hidup lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orangtua. Saat itu saya memiliki proyek pribadi, "1 piala, 1 bulan". Karena proyek tersebut, dalam satu bulan saya mengikuti 2-3 kompetisi karena tentu ada probabilita menang dan kalah. Dari proyek tersebut juga saya bisa mendapatkan rata-rata Rp 500.000,- s/d Rp 2.500.000 per bulan yang tentu masih dipotong uang administrasi kompetisi dan transportasi.

Maka menjadi cukup beralasan jika orangtua saya kecewa saat saya memberhentikan segala aktivitas saya yang berhubungan dengan kompetisi penelitian atau penulisan, karena itu artinya saya tidak lagi memiliki pemasukan dan orangtua saya tidak lagi mendengar kabar yang membahagiakan. Tapi saya mencoba meyakinkan orangtua saya bahwa memang sudah waktunya saya melakukan hal lain untuk mengasah 'hati' saya, tidak lagi memikirkan hal-hal yang hanya untuk kepentingan pribadi.

Orangtua saya tidak banyak bicara, tapi saya tau mereka sangat kecewa ketika itu pertengahan tahun 2012. Mereka mengungkapkan kekecewaannya dengan diam, mereka tau membujuk putri sulungnya yang keras kepala ini bukan hal yang mudah. Seperti beberapa tahun sebelumnya, saat saya diminta masuk ke jurusan IPA saat SMA agar menjadi dokter tapi saya tegas ingin ke IPS karena ingin menjadi ekonom. Hampir setiap hari saya mendengar orang-orang sekitar meremehkan karena katanya nih yang masuk IPS hanya anak yang tidak bagus akademiknya, saat itu saya menempati 3 besar di kelas. Tapi apa iya saya harus menjawab sindiran-sindiran mereka? Saya diamkan, lama-lama orangtua mendukung karena saya pelan-pelan coba membuktikan bahwa di IPS pun bisa berprestasi, ya dengan kompetisi-kompetisi tadi. Piala pertama yang menghiasi meja belajar saya, saya dapatkan saat kelas 2 SMA. Saya bukan anak yang pintar, nilai matematika saya pernah 3 sehingga saya dipanggil ke BK saat SMP. Tapi saya coba membuktikan bahwa saat saya memilih sesuatu maka saya tidak akan pernah bermain-main dengan sesuatu itu, saya akan bersungguh-sungguh. Pun begitu saat saya memilih konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia di FEUI, maklum saja konsentrasi yang dianggap bagus itu Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan, sementara hanya belasan orang pada konsentrasi saya. Tapi saya enjoy sekali menjalaninya, saya diajak beberapa proyek penulisan oleh dosen, menjadi asisten pelatihan riset, dan sebagainya. Justru berada di konsentrasi tersebut membuat saya banyak belajar bagaimana mengatur SDM sebagai aset dalam sebuah instansi, kunci sukses sebuah instansi. Saya tidak pernah bermain-main dengan pilihan saya, orangtua saya tau benar hal itu.

Pun dalam setiap pilihan pada hidup saya, Ibu pernah mengatakan "kamu itu kalau tanya sesuatu tapi sebenarnya kamu sudah tau jawabannya. Kamu hanya bertanya untuk meyakinkan bahwa jawaban kamu benar, iya kan?"

Buat saya ketika banyak orang yang meragukan apa yang saya pilih, saya menjadi merasa tertantang untuk melakukan apa yang saya pilih. Merasa, "I can do my best!"

Begitu pula saat saya lulus dari FEUI, saya memiliki kontrak dengan dua instansi yang telah membiayai saya selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Dulu saat saya masih semester 1 kuliah, saya membayangkan ketika lulus nanti saya bisa bekerja di ruangan ber-AC, menggunakan sepatu hak tinggi, blazer, pokoknya berpakaian rapi. Saat saya semester 6, saya mengubah 100% pemikiran saya tersebut. Saya merasa lebih nyaman dengan hidup yang sederhana, bisa menggunakan kaos untuk bekerja, lalu sandal japit, dan bermain dengan orang-orang baru. Dan Ibu bilang, "Kamu boleh menjadi orang hebat, tapi kamu harus bisa menjadi orang hebat yang mau berterima kasih dan punya komitmen". Saya dibesarkan oleh kedua instansi tersebut, bagaimanapun tanpa keduanya mungkin saya bukanlah saya yang sekarang, maka saya jatuh pilihan untuk menjalani kontrak saya. Saya pun menjadi seorang pegawai swasta sudah sekitar 10 bulan terakhir. Tapi saya bilang ke orangtua, saya mau menjadi pegawai swasta tapi saya tetap harus menjadi sociopreneur. Karena disana 'hidup' saya, disana 'semangat' saya, disana saya banyak belajar bahwa ternyata hidup beragam rasa.

Orangtua saya benar-benar demokratis atau lebih tepatnya sudah menyerah menasehati saya untuk hal-hal tertentu. Memang susah membagi waktu antara menjadi pegawai swasta, sociopreneur, keluarga, dan kehidupan pribadi. Saya bisa bilang kalau banyak hal yang menjadi 'kacau' ketika saya berusaha menjalani semua secara bersamaan. "Tuhan saja menciptakan jemari kita tidak sama panjangnya, bagaimana kamu bisa berharap menjadi manusia yang adil?" Karena adil bukan berarti sama. Akhirnya saya coba membagi waktu, mengeliminasi beberapa kegiatan yang saya rasa tidak terlalu perlu dilakukan. Dan salah satu hal yang saya eliminasi adalah hubungan intensif dengan orangtua dan kehidupan pribadi. Sampai akhirnya saya tersadar kalau saya tidak bisa hidup tanpa orangtua. Singkat cerita akhirnya saya bisa menyeimbangkan waktu, membagi peran dengan semampu saya. Konflik demi konflik memang tidak bisa dielakkan. Ini juga mengapa saya harus menolak permintaan menjadi pembicara atau trainer terutama saat weekday, pun saat weekend saya lebih suka bersama teman-teman Dreamdelion atau di rumah.

Sampai sekarang banyak yang menanyakan bagaimana saya bisa melakukan semua hal itu, jawabannya adalah keyakinan untuk bisa melakukannya. Terima kasih :)

20141008

UI Membutuhkan Servant Leader seperti Prof Rhenald Kasali

Pertama kali saya mengetahui daftar 25 calon rektor UI, saya langsung dibuat kaget dengan sebuah nama yang tidak asing bagi saya. Nama tersebut adalah Prof Rhenald Kasali, seseorang yang selama ini menjadi role model bagi saya untuk menjalankan bisnis sosial Dreamdelion yang saya rintis bersama teman-teman sejak 18 Juli 2012, saat itu saya masih berstatus mahasiswi semester akhir di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).

Saya dan Prof Rhenald pada th 2012 di Acara Buka Puasa Bersama Rumah Perubahan

Saya mungkin sama dengan teman-teman lainnya yang menjadi salah satu anak muda yang terinspirasi dengan sosok Prof Rhenald, yang saya hanya bisa lihat di televisi dan tulisannya saya baca di berbagai media. That's it! Sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara buka puasa bersama di Rumah Perubahan dan bertatap langsung dengan Prof Rhenald. Meskipun saya mahasiswi FEUI, namun saya tidak pernah mendapatkan kelas Prof Rhenald karena tidak mengambil konsentrasi Manajemen Pemasaran.

Benar saja, pertemuan pertama saya dengan Prof Rhenald mampu menciptakan AHA Moment, saya terinspirasi dengan konsep Rumah Perubahan yang merupakan bentuk bisnis sosial yang mampu mensejahterahkan banyak orang, terutama warga sekitar lokasi tersebut. Hal inilah yang membuat saya semakin yakin menjalankan bisnis sosial yang saya dan teman-teman rintis yaitu Dreamdelion. Saat ini Dreamdelion sudah berada di 3 kota dengan 5 lokasi, juga memiliki ratusan volunteers, dan mampu memberikan manfaat kepada ratusan warga Alhamdulillah. Mungkin akan berbeda cerita Dreamdelion ini jika saat itu saya tidak bertemu dengan Prof Rhenald, seorang guru besar UI yang dengan kerendahan hatinya membantu membesarkan Dreamdelion meskipun saat itu beliau tidak sama sekali mengenal saya.  Melalui tulisan sederhana ini saya ingin berterima kasih atas segala kontribusi Prof Rhenald untuk Dreamdelion.

***


Sekitar dua bulan setelah Dreamdelion berjalan, tidak ada progress berarti, modal semakin menipis, tim yang kami bangun mulai runtuh. Lengkaplah tantangan demi tantangan yang harus kami lewati. Sampai akhirnya ada sesi diskusi di Rumah Perubahan yang melibatkan Young Fellow Rumah Perubahan (perkumpulan mahasiswa Univ Indonesia yang memiliki ketertarikan untuk berkontribusi di masyarakat), ada Prof Rhenald dalam sesi diskusi itu. Setelah sesi diskusi selesai saya meminta waktu beberapa menit, yang akhirnya menjadi hampir satu jam, untuk menceritakan tantangan yang dihadapi Dreamdelion, setelahnya perasaan saya menjadi tenang dan menjadi lebih optimis. Prof Rhenald memberikan sebuah mesin jahit untuk Dreamdelion karena kami selama ini hanya bisa memproduksi produk secara manual. Siapa sangka satu mesin jahit tersebut mampu menghidupkan Dreamdelion sampai sekarang, bahkan kami Alhamdulillah dapat memperluas area pemberdayaan tidak hanya di Jakarta namun juga di Jogjakarta dan Ngawi. Satu mesin jahit tersebut bermakna sekali bagi kami, mampu mematik semangat kami yang sedikit lagi redup tanpa sisa. Satu mesin jahit itu saat ini telah menjadi cikal bakal mesin-mesin jahit kami lainnya, sangat sederhana bukan? Satu mesin jahit yang mampu menjadi motivasi komunitas bisnis sosial seperti kami menjadi berkembang dan berkelanjutan.

Tidak berhenti pada mesin jahit, saya dikejutkan dengan ajakan sebuah kementrian untuk melibatkan Dreamdelion sebagai pelatih program mereka. Saya bingung ketika itu karena kami belum punya brand yang baik saat ditawari, ternyata Prof Rhenald lah yang merekomendasikan kami. Padahal lagi-lagi saat itu, Prof Rhenald belum terlalu mengenal kami namun beliau memberikan kepercayaan kepada kami. Sejak saat itu kami semakin menyadari pentingnya kolaborasi untuk mengembangkan bisnis sosial kami, kurang dari 2 tahun sudah 60 instansi bekerjasama dengan Dreamdelion. Tentu selalu ada cerita awalan, dulu siapa yang mau bekerjasama dengan komunitas bisnis sosial pemula seperti kami, semuanya dimulai dari kesempatan yang dibuka oleh Prof Rhenald.

Masih banyak lagi yang beliau lakukan untuk membantu komunitas bisnis sosial seperti Dreamdelion dan saya yakin tidak hanya Dreamdelion, salah satu crowdfunding terbesar di Indonesia yaitu kitabisa.com juga salah satu komunitas yang dibina oleh Prof Rhenald. Sampai saat ini pun ketika Dreamdelion membuat sebuah event bernama NSBCamp (www.nsbcamp.com) yang hampir saja tidak terlaksana karena kekurangan pendanaan, Prof Rhenald melalui Rumah Perubahan turun tangan tidak dengan memberikan 'ikan' pada kami tapi dengan memberikan 'kail'-nya, cara beliau mendidik kami yang membuat kami sangat terbantu dengan tetap harus mandiri. Event ini pun untuk pre-event nya saja seperti National Seminar di Balai Sidang UI 17 September 2014 lalu dipadati oleh peserta lebih dari ekspektasi, dari awalnya hanya 300 target pendaftar menjadi lebih dari 450 pendaftar. Secara tidak langsung kami bersama-sama menghidupkan kepekaan sosial dalam masyarakat terutama peserta yang mayoritas anak muda atau anak kuliahan untuk turun tangan  berkontribusi menyelesaikan masalah sosial melalui pendekatan bisnis sosial.

Prof Rhenald Kasali menjadi keynote Speaker dalam National Seminar NSBCamp di Balai Sidang, Universitas Indonesia, pada 17 September 2014

Disela-sela kesibukannya, Prof Rhenald selalu memberikan ruang untuk mendengarkan kami yang ingin banyak belajar dari beliau dengan Rumah Perubahan-nya.dan karya-karya membangun bangsa lainnya.



***

Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sosok Prof Rhenald Kasali adalah seorang servant leader. ‘Servant Leader’ yaitu pemimpin yang melayani, pemimpin yang memimpin bukan sekedar untuk mendapatkan jabatan semata, tapi juga dengan niatan mengabdikan diri untuk masyarakat yang dipimpinnya, pemimpin yang mau mendengarkan tidak hanya berbicara atas dasar kemauan dan kepentingannya sendiri, dan pemimpin yang jika masyarakatnya kesusahan tidak berpangku tangan tapi justru mencari-cari jalan mengatasinya. Indonesia jelas sudah memiliki sosok-sosok seperti itu seperti Bu Risma di Surabaya, Pak Ridwan Kamil di Bandung, Pak Ahok di Jakarta, dulu kita mengenal sosok Pak Jokowi di Solo yang saat ini menjadi Presiden RI 2014-2019, juga Prof Rhenald Kasali dengan Rumah Perubahan-nya selama ini.

Teman-teman pasti tahu bagaimana seorang servant leader bekerja, mereka tidak segan-segan langsung turun ke lapangan untuk membantu menyelesaikan masalah. Jabatan atau posisi seringkali membuat mereka sulit dijangkau, namun mereka menjadi berbeda karena masyarakat yang mereka pimpin begitu mudahnya menemui mereka ketika kita membutuhkan bantuan mereka.

Dan menurut saya, Universitas Indonesia yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia membutuhkan seorang servant leader dalam kepemimpinannya. Saya sebagai alumni berulangkali mengalami bagaimana rumitnya birokrasi di kampus yang kata orang laksana menara gading tersebut, saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana buruknya fasilitas bagi mahasiswa/i meskipun katanya salah satu universitas di Indonesia yang paling lengkap fasilitasnya, belum lagi infratruktur yang sudah rusak sana dan sini yang tentunya butuh perbaikan, dan masih banyak lagi hal yang membutuhkan pembenahan di Universitas Indonesia. Tentu hal-hal seperti itu tidak bisa dilakukan oleh pemimpin yang biasa-biasa saja, Universitas Indonesia (sekali lagi) membutuhkan seorang servant leader yang mau berbuat banyak untuk memajukan kampus ini, tentu juga orang yang sudah memiliki track record sebagai servant leader sebelumnya. Saya percaya dan mendukung Prof Rhenald Kasali menjadi Rektor Universitas Indonesia, semoga ketika terpilih nanti Prof mampu membawa Universitas Indonesia menjadi kampus kerakyatan yang benar-benar berkualitas Internasional, bukan sekedar slogan semata.


Jakarta, 9 Oktober 2014

Alia Noor Anoviar
CP. 081210311876
Email : alia@dreamdelion.com
LinkedIn : https://www.linkedin.com/pub/alia-noor-anoviar/70/9a1/9b1

20140801

Generationpreneur Club! (2)

Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan sambutan positif terkait ide GENERATIONPRENEUR CLUB, inshaAllah ini menjadi bukti banyaknya calon ibu yang sudah memikirkan masa depan anaknya semenjak dini bahkan ketika belum menikah sekalipun. Fresh idea from the oven : Generationpreneur Club!

Beberapa tanggapan terkait Generationpreneur dari twitter sesaat setelah saya kultweet tentang #Generationpreneur :)

@sitinurul : @sovafadillah boleh tuh ka buka parenting school huhu sebelum nikah, biar jadi Ibu yang diimpikan diri sendiri 
@dawinwinda : @alianooranoviar mauuuuk 
@dinputri : @alianooranoviar mau! How to join then? :3 
@sovafadillah : unyu banget deh malam ini ngobrolin parenting ama calon ibu-ibu hebat. 
@tasyatobing : <3 blockquote="" nbsp="">
@nadyamissun : kereeen kak! mau mau ikutan
  
Diskusi terkait Generationpreneur Club pun dibahas khusus lho di grup kakak-kakak Dreamdelion Cerdas, dilanjutkan diskusi di grup team Dreamdelion. Wah serius banget inshaAllah kami mempersiapkan Generationpreneur Club :)

Berbagai masukan saya terima dari teman-teman baik internal Dreamdelion maupun dari pihak eksternal yang Alhamdulillah semakin memberikan inspirasi tentang konsep Generationpreneur Club.

Namun tentunya ada yang mengganjal dari konsep Generationpreneur, mungkin karena pemahamannya belum satu hehe... Jadi beberapa teman mengkritik terkait kata 'entrepreneur' yang diartikan mengarahkan anak menjadi pebisnis, jadi semacam membatasi masa depan anak --- anak harus jadi pebisnis. Oh bukan begitu teman-teman :3 Coba kita lihat definisi entrepreneur dulu yuk!

Entrepreneur is someone who exercise initiative by organizing a venture to take benefit of an opportunity and, as the decision maker, decides what, how, and how much of a good or service will be produced (www.businessdictionary.com)

Jadi entrepeneur pada kata 'Generationpreneur' tidak berarti sempit diartikan bagaimana seorang ibu akan menjadikan anak-anaknya menjadi pebisnis, tapi bagaimana mereka (anak-anak) bisa memiliki jiwa entrepeneur apapun profesinya. Bahkan pada pekerjaan saya sekarang di sektor perbankan ada lho jabatan 'BME' atau 'Branch Manager Entrepreneur'. Nah sekarang inshaAllah semakin jelas kan?

Seperti apa sih karakter seorang entrepreneur? Teman-teman bisa mengetahuinya dengan membaca : Karakter Entrepreneur

Nah semoga Generationpreneur Club bisa menjadi sarana silahturahmi kita yaaa, Ladies! Berbagi ilmu untuk bekal kita nanti sebagai ibu, inshaAllah.



20140731

Dreamdelion : Dream with Purpose (1)

Melewati 2 tahun lebih kebersamaan bersama Dreamdelion. Melaju dari satu cerita ke cerita lainnya bersama teman-teman dan masyarakat yang berdaya bersama kami. Melewati fase demi fase yang tidak jarang membuat kami diliputi canda tawa, tangis duka, atau sekedar perasaan lega dan tidak enak rasa. Perjalanan ini tentu masih sangat panjang, masih banyak mimpi-mimpi yang belum kami realisasikan, masih banyak yang baru sekedar menjadi rencana dan cita-cita.

Orang bertanya apa yang sebenarnya kami cari dari perjalanan ini? Mereka melihat kami berletih-letih, tanpa imbalan yang berarti. Tapi justru untuk kami, bisa berbuat walau sedikit untuk orang-orang yang membutuhkan adalah sebuah prestasi. Ketika kami belum punya apa-apa, ketika kami bukan siapa-siapa, terutama ketika kami masih dengan semangat idealisme untuk tidak egois memikirkan diri sendiri.

Satu demi satu cerita terukir dengan manisnya, saya senang bisa menjadi bagian di dalamnya. Menjadi bagian dari sejarah sudah biasa, mengapa kita tidak menciptakan sejarah? 

***

Mengawali kisah Dreamdelion jujur saya katakan bukan hal yang mudah, mengalami penolakan demi penolakan dari masyarakat yang menjadi sasaran program pemberdayaan. Masyarakat yang tinggal pada lingkungan kumuh perkotaan seperti Manggarai (Jakarta Selatan) biasa dihadapkan dengan bantuan-bantuan instan berbentuk charity. Mereka sudah berada pada comfort zone-nya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka rasakan. Menjadi lebih baik seolah bukan pilihan, apalagi janji-janji surga yang menawarkan perubahan hidup lebih baik bagi mereka sebelum Dreamdelion datang membuat mereka menjadi tawar terhadap kata 'perubahan'.

Bersyukur pernah diberikan bekal kenekatan untuk memasuki gang demi gang, meskipun sambutan kurang menyenangkan datang dari mereka. Gang-gang sempit yang nyaris tanpa penerangan, karena rumah-rumah saling berdempetan sehingga tidak menyisakan ruang untuk matahari masuk ke dalamnya, menjadi saksi kesungguhan ingin melakukan perubahan. Saat itu saya mengajak mereka untuk berkumpul di Balai PAUD, saya bilang akan memberikan pelatihan kerajinan tangan kepada masyarakat untuk selanjutnya dijual. Berbagai tanggapan datang, tapi ada tanggapan dari salah satu warga yang tidak pernah saya lupa sampai sekarang, hal ini yang menjadi pelecut untuk tidak hanya sekedar memberikan harapan.

"Mbak yang dulu kan? Aduh mbak sudah lama, sudah 4 bulan... Dulu mbak janji mau ngajarin kita bikin sajadah terus dijual, kita tunggu-tunggu sampai bosen dan lupa. Eh sekarang nawarin lagi, mahasiswa mah emang gitu janji doang..." ujar salah satu warga.

Degh...!

Saya mencoba mengingat-ingat, empat bulan lalu saya masih di Thailand. Rasa-rasanya juga baru kali ini saya menawarkan program pemberdayaan kepada masyarakat. Dan sajadah? Bahkan saya tidak pernah merasa menawarkannya.

Lalu saya pun mencoba menjelaskan dan benar saja ternyata karena sama-sama menggunakan jilbab sehingga si ibu tadi mengira saya adalah seseorang yang muncul 4 bulan lalu. Ini hanya salah satu alasan mengapa sulit mengajak masyarakat ketika itu untuk tergerak, terlebih saya yang tidak tau bagaimana cara pendekatan yang tepat bagi mereka.

***

Motivasi terbesar saya ketika itu hanya untuk mendapatkan pendanaan agar sanggar belajar dapat terus berjalan. Bantuan dari pihak lain yang tidak kontinyu, tabungan semakin menipis, dan jumlah pengajar yang mau terlibat kegiatan sangat minim membuat gerak sanggar tidak sesuai yang diharapkan. Saya sebagai mahasiswi fakultas ekonomi tidak paham bagaimana mengajar anak-anak sehingga yang saya lakukan setiap kesana hanya mendiamkan anak yang menangis, bertengkar kadang sampai main pukul-pukulan, dan beragam tingkah lainnya dari mereka.

Berbicara tentang sanggar belajar, awalnya difokuskan untuk memberikan pendidikan karakter. Namun pada proses berjalannya sama saja memberikan kelas-kelas pelajaran yang juga dipelajari di sekolah. Anak-anak yang ditangani pun sangat unik, mereka sangat sulit diminta menurut. Hal ni diakui oleh para pengajar terutama yang tidak hanya mengajar di sanggar belajar kami ketika itu. Kehilangan kesabaran akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi saja kegiatan yang ada, sampai saatnya tiba di hari dimana saya ingin menyampaikan keputusan itu pada anak-anak terjadi percakapan antara kami, percakapan yang membuat Dreamdelion ada sampai saat ini dan inshaAllah seterusnya.

Hari itu anak-anak sangat manis tidak seperti biasanya, tenaga saya tidak terkuras seperti biasanya juga meskipun hanya sendiri menghadapi sekitar 15 anak. Saat jam sanggar sudah akan berakhir, kami pun duduk melingkar. Muncullah celetukan-celetukan mereka, mereka ingin kegiatan sanggar tidak hanya satu kali seminggu karena mereka suka. 

Saya tidak pernah menyangka akan muncul kesan yang sangat baik dalam diri mereka terhadap kegiatan sanggar, mengingat hampir setiap minggu kesana saya selalu marah-marah dan ngambek karena mereka nakal. Akhhh hari itu, satu persatu memeluk saya dengan gaya merajuk khas anak-anak. Saya tidak menjanjikan apa-apa kepada mereka, tapi jelas apa yang mereka inginkan juga menjadi keinginan saya agar kegiatan kami tidak hanya di hari minggu pagi, seminggu sekali.

***

Berkeliling gang, mengundang ibu-ibu setempat untuk hadir. Sesuai jadwal jam 11.00 pagi di hari minggu ketika itu, saya hanya mendapati 7 orang hadir yang terdiri dari 5 ibu, 1 anak SMK, dan 1 anak yang sudah putus sekolah. Padahal sekitar 40 rumah saya datangi dimana satu rumah bisa terdiri dari 1-3 KK. Saya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan, 

Langkah pertama memang selalu terasa sangat berat, namun langkah selanjutnya tidak akan tercipta tanpa adanya langkah pertama bukan?

Menjelaskan kepada mereka tentunya bukan pekerjaan yang mudah, yang ditanyakan pasti tidak jauh-jauh dari 'uang'. Sekali lagi jangan menjanjikan agar jika tidak dapat memenuhinya, tidak ada yang merasa kecewa. Melihat semangat 7 orang yang hadir nyatanya bisa mengubah mood saya sebelumnya, ya inshaAllah bisa. Harus optimis!

Apa saja yang dijelaskan pada pertemuan pertama?

1. Model kegiatan yang akan dilaksanakan misalnya kegiatan dilakukan berapa kali dalam satu minggu dan pada hari apa juga berapa jam dan kegiatan yang dilaksanakan seperti apa (menjahit/melukis/menggambar dll).

2. Tujuan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dimana harus ditekankan pada kebermanfaatan masyarakat sasaran dan tidak hanya menekankan pada aspek finansial tapi juga non finansial seperti keahlian yang akan didapatkan oleh mereka.

3. Sistem insentif atau manfaat yang akan diterima dimana harus jelas peraturan dari awal seperti kalau di Dreamdelion yang bekerja akan mendapatkan bahan baku lalu bisa dikerjakan di rumah dan diperiksa setiap minggu, yang lolos standar bisa dijual akan mendapatkan insentif per pcs produk sesuai kesepakatan di depan.

4. Lama program berjalan, siapa yang akan terlibat, dan sejauh apa peran masyarakat yang mendapatkan program tersebut.

Pelatihan pertama Dreamdelion.

Terdapat beberapa hal yang harus diantisipasi sejak awal seperti bagaimana menjaga motivasi masyarakat agar tetap bersemangat melaksanakan program, terutama bagaimana menjaga motivasi diri sendiri dan tim yang terlibat karena ini sangat penting. Kedua, ketersediaan modal untuk melaksanakan program dan sebanyak apa error diperbolehkan terjadi. Ketiga, bagaimana menjaga kegiatan dapat terus berlangsung misalnya kalau di Dreamdelion berarti pemasaran produknya harus kemana dan setiap bulan harus terjual berapa agar operasional tidak terganggu.

(Con't)


info@dreamdelion.com
www.dreamdelion.com

20140728

Generationpreneur Club!

Randomly, saya punya ide di hari raya ini hahaha... Sejak ada Dreamdelion yang pelan tapi pasti mewujudkan ide-ide saya dan teman-teman, saya semakin merasa bebas dan berani untuk memiliki ide karena inshaAllah merealisasikannya hanya menunggu komitmen dan waktu saja.

Sejak ada Dreamdelion juga dan sanggar belajar Dreamdelion Cerdas mengadakan kegiatan entrepreneurship dan kelas profesi untuk anak-anak di Manggarai, saya jadi pengen punya semacam Mompreneur Club. Anw emang saya itu orangnya gampang pengenan hahaha jadi jangan kaget kalau ada yang nyeletuk sesuatu di Dreamdelion, saya langsung asal tunjuk buat yang bilang agar bisa merealisasikannya (klo kata anak-anak Dreamdelion "Hati-hati ngomong di depan kak via..." Hahaha...)

Tapi saya waktu itu mikir, ntarlah bikin Mompreneur Club kalau sudah punya anak sendiri. Mmm tapi kayaknya terlalu lama kalau nunggu itu ya, jadi saya pikir kalau niat baik itu harus banget disegerakan. Niat baik buat bikin Mompreneur Club maksudnya! Nah tapi ternyata sudah ada >>> Website Mompreneur Berarti harus cari nama yang lain dong ya dan konsepnya juga harus berbeda, kalau mompreneur.com fokusnya ke ibu-ibu rumah tangga yang juga pebisnis nih, menarik banget kalau buat yang mau belajar dan cari inspirasi. 

Saya sebenarnya terkesan dengan cerita Ibu saya beberapa bulan lalu yang akhirnya memberikan ide baru untuk saya, menjadikan adik saya Musa sebagai percobaan untuk proyek yang akan saya buat ini...

Musa punya ayam di rumah dan ayamnya bertelur lebih dari 10 telur. Ceritanya dia lagi pengen sesuatu untuk dibeli nih tapi Ibu nggak mau beliin dia. Dan tau saudara-saudara apa yang dia perbuat? Dia akhirnya mengajak Ibu untuk keliling dari rumah ke rumah menjual telur-telur ayam tersebut. Nah dari situ dia dapat uang lebih dari Rp 100.000,- lho entah memang harganya atau orang kasih dia karena kegigihannya. Waktu telpon, dia cerita dengan bahagianya hahaha si adek :3 Akhirnya saya dapat ide, pengen banget mencetak adik-adik saya menjadi entrepreneur. But, I'm still have no idea to make it real -_- 
Sampai akhirnya Ibu cerita kalau adek sudah berani bantu untuk mandiin kambing, sudah tau kan kalau ada Dreamdelion Ngawi? Meskipun belum seberapa karena masih sekitar 5 kk yang mendapatkan program ini, namun inshaAllah optimis akan berkembang dengan baik. Nah memang ada beberapa kambing yang letak kandangnya pas di belakang rumah, Musa sebenarnya takut sama kambing tapi sekarang sudah berani, hebat yaaa adek! 
Musa setiap kali telpon selalu minta mainan, yaudah saya bilang aja ke Ibu gimana kalau setiap mandiin kambing maka dia mendapatkan insentif jadi nggak kebiasaan minta tapi mengusahakan sesuatu yang dia inginkan. InshaAllah cara itu akan bikin dia lebih mandiri kan? Bukan karena tak sayang, justru karena sayang banget sama adek sendiri jadi nggak boleh manjain adek hahaha... In the next 5 years from now, my target is make him as an independent entrepreneur! That's means he has his own capital for his business.

Musa saat masih takut sama kambing :3

And now I proudly present :

GENERATIONPRENEUR CLUB

Generationpreneur Club merupakan kumpulan dari calon ibu yang ingin belajar menjadi wirausaha dan menjadikan anak-anaknya wirausaha di masa depan (belajar untuk menciptakan generasi entrepreneur). Being a mom is a big deal, ladies. We must prepare our best until that moment happen :)

Kapan launching-nya dan bagaimana konsepnya? Tunggu saja inshaAllah tanggal 18 Agustus 2014 akan saya share yaaa :D Hahaha... Hopefully banyak yang tertarik dan mau gabung :) 


20140720

Bagaimana Rasanya Menjadi Ibu? (2)

"Rasa-rasanya ini pengalaman pertama saya benar-benar menjadi Ibu untuk mereka. Akkkkkhhhh saya tidak memungkiri bagaimana sulitnya mengatur mereka, tapi saya bahagia setiap kali mereka menurut tanpa menangis dan tanpa menunjukkan wajah masam. Apalagi ketika apa yang saya katakan disambut dengan tawa, sebenarnya senyum mereka saja lebih dari cukup untuk saya, aihhh manis sekali anak-anak ini!"

Sepulang dari acara A Walk to Share dari KHI, kami pun dengan suka cita pulang bersama. Ya yaaa yaaaa tentu anak-anak sangat senang karena mereka masing-masing mendapat tas baru dan alat sekolah.

"Kalian Happy?"
"Happyyyyy kakkkkk" dengan wajah berseri-seri.

Anak-anak mendapatkan makanan kotak, sementara saya dan marissa tidak hahaaaa lupa nggak ambil makanan sehingga kami memutuskan ke KFC. Makan bersama disana, sepanjang makan mereka tidak berhenti untuk menceritakan semua yang mereka jalani hari ini. Mereka membahas semuanya, terlebih Uma dan Dias yang membuka kado mereka ternyata untuk orotan pensil hehe :)

Mereka makan puding dan es krim setelah makan sekotak nasi yang diberikan panitia, ketika ada yang tidak menghabiskan makanannya maka yang lain menasehati. Aduhhh anak-anak pintar sekali yaaa.

Kali ini kami pun menunggu kereta menuju Manggarai. Sempat terpisah saya dan Emil lalu marissa bersama Uma, Dias, dan Dandi. Sempat panik lalu saya dan Emil pun menunggu di Stasiun Jayakarta. Alhamdulillah perjalanan yang menyenangkan, saya dan marissa senang sekali, anak-anak Alhamdulillah sangat senang inshaAllah. Mengantar mereka sampai rumah, semoga menjadi pengalaman yang baik untuk Dias, Uma, Kemil, dan Dandi.

(end)