20130206

Wanna Be Like Them, Great Sociopreneurs!


Selamat Ulang Tahun ke-57 Bapak :D


Masih sangat mengingat apa yang orang-orang ceritakan tentangmu. Sosok sederhana, lugu, dan ringan tangan. Aku memang tak begitu mengenal dirimu, tapi banyak cerita tentangmu yang mengalir dan membuatku sangat mengenalmu lebih dari waktu yang Allah sediakan untuk kita saling mengenal. Dan lalu aku memiliki panggilan sayang untukmu, aku memanggilmu Bapak :D

Tahun 1987, Bapak menikahi ibu. Mungkin usia itu cukup larut untuk memulai hubungan bernama rumah tangga. Menjadi satu-satunya anak lelaki dari 7 bersaudara menjadikan tanggungan di pundaknya sangat besar kepada keluarga. Bapak menikahi ibu yang usianya 11 tahun lebih muda darinya saat itu. Dalam penantiannya selama 4 tahun hingga lahirnya aku. Orang bilang, Bapak sangat menyayangiku bahkan hal pertama yang dilakukannya setelah suster memberikan bayi untuk diadzani adalah menangis dengan syukur. Bapak selalu memperlakukanku seperti seorang ratu. Kata ibu apapun yang aku mau selalu diturutin oleh bapak. Sekalinya aku menangis pasti semua keinginanku akan diwujudkan. Bahkan saat aku mencampur air dengan roti satu kaleng pun, Bapak tidak memarahiku karena sayang dan cintanya. Karena itu, aku tidak pernah bisa tidur sebelum bapak mengelus punggungku semasa kecil.

Masih sangat ingat, ketika ibu menyuapiku maka bapak akan memasangkan sepatuku lalu mengantarku ke sekolah. Pernah suatu kali aku ngambek dan akhirnya bermain keluar tanpa izin, padahal bapak tau aku tidak suka bermain keluar rumah, dan lalu bapak menyangka puteri satu-satunya hilang sehingga bertanya dari satu rumah ke rumah lain tentang keberadaanku. Seolah orang satu perumahan akhirnya mencariku, padahal saat itu aku sedang bermain di belakang sawah sendirian karena memang sedang sebal dengan bapak.

Buat aku, Bapak adalah malaikat di dunia yang dikirimkan Allah untuk menjaga dan melindungiku. Ketika itu aku dipindahsekolahkan ke kota yang jauh dari kedua orangtuaku, dan ketika Bapak datang untuk menjenguk lalu beliau menangis. Airmata yang tulus, airmata yang ketakutan akan kehilangan, airmata yang sampai sekarang masih lekat di ingatanku.

Bapak adalah orang pertama yang sangat kebinggungan saat seorang bocah laki-laki datang ke rumah, saat itu aku masih SMP kelas 1. Ya... Bapak tidak memperbolehkan bocah itu itu masuk ke dalam rumah. Dan sejak itu aku pun berjanji tidak akan pernah menjalin hubungan yang namanya ‘pacaran’ sampai dengan lulus SMA, aku menepati itu untuk bapak dan ibu. Sikap protektif Bapak yang membuatku bisa memproteksi diri sendiri. Bapak mengajarkan untuk selalu menjaga harga diri sebagai perempuan, pun begitu dengan Ibu.
Tidak pernah sekalipun Bapak mencubitku apalagi memukul, berkata kasar pun tidak. Kalau pun aku yang salah maka Bapak yang akan meminta maaf. Bapak, engkau lelaki yang terlalu baik untukku. Dan terima kasih Ya Allah mengirimnya sebagai Bapakku. Karena itu Bapak menjadi protektif menjagaku, tidak akan pernah beliau membiarkan orang lain membentak atau menyakiti diriku.

Buatku perjalanan hidup dengan Bapak adalah sebuah perjuangan... Kompetisi pertama yang kuikuti, saat keluargaku tengah dirundung permasalahan. Bapak terus menyemangati dan menyuruhku tetap pergi menggapai mimpi. Pun ketika aku hendak mengurungkan niat menuju UI untuk berkuliah, Bapak dengan kata-katanya mampu membangkitkan semangatku. “Bapak nggak iso ngasih opo-opo ke kamu dan adik, Nduk. Bapak cuma iso ngasih kamu ilmu lewat sekolah. Opo wae sing awake dewe duwe iso didol, sing penting gawe sekolah.” Mungkin kata-kata itu begitu sederhana, tapi membuat aku menjadi lebih hidup dalam kehidupanku ini untuk Bapak, Ibu, dan adikku.

Bapakku adalah seorang sales obat-obatan. Setiap hari beliau harus bekerja keras mengangkat barang dan dari satu toko ke toko lainnya menawarkan barang. Buatku kegigihan bapak menjadi penyemangat. Bapak saja bisa, pun begitu denganku tak boleh kalah semangat! “Wong sing rajin wae gak tentu iso sukses, opo maneh sing males dadi mesti rajin yo Nduk. Saiki ora perlu mikirno kerjo, Bapak sing kerjo. Kowe karo adik sinau wae sing bener ben dadi wong sukses ngko...” Kurang lebih kalimat seperti itu yang selalu diulang-ulang oleh Bapak.

Bapak mengajarkanku untuk totalitas dalam mencintai keluarga. Randomly Bapak pernah bilang, “ojo sampek gawe loro ati wong lanang yo, Nduk. Meski gak seneng kudu apik...” Karena Bapak, suatu saat nanti aku ingin mencintai keluargaku dengan total.

Meskipun pendiam, Bapak tidak pernah tinggal diam setiap kali melihatku tidak tidur. Aku lebih suka di depan komputer dan mengerjakan tugas-tugas hingga sakit karena lupa makan, karena itu bapak selalu masuk kamar sekedar untuk mengantar makanan, teh, susu, dan vitamin agar kelelahanku dapat diminimalisir. Bapak itu ibarat dokter pribadi untukku.

Suatu saat nanti ketika aku sudah berkeluarga, aku akan tetap menjadi putri kecil untuk Bapak yang akan selalu ada di sampingnya. Aku akan mengajak Bapak kemanapun aku pergi, mungkin Bapak adalah orang pertama yang akan tinggal di rumahku nanti. Karena aku dan Bapak tidak terpisahkan.

Hari ini, 5 februari 2013. Usia Bapak telah menginjak 57 tahun. Bapak, semoga Allah terus memberikan kesehatan, umur yang panjang nan bermanfaat, anak-anak yang soleh dan solehah, dan tebarkan kebaikan-kebaikanmu dengan apa adanya. Aku sayang banget sama Bapak, sayang banget Pak :*


Depok, 5 Februari 2013
Dengan sayang,


Anakmu (Alia Noor Anoviar)

Fase Diriku :3




Hallo perkenalkan ini aku saat berusia 21 tahun : ceria, nggak bisa diam, mengaktifkan diri dengan berbagai kegiatan, perfeksionis, akademis-praktisi, dan berusaha semakin mendekatkan diri dengan mimpi-mimpi :)



Nah kalau ini saat aku SMA. Saat itu aku cukup pekerja keras, pendiam dan cenderung tertutup (introvert), namun sangat mudah beradaptasi. Nah kalau yang foto besar itu saat aku masih bayi dan foto kecil di bawah itu saat aku balita. Hobinya nangis hahahahhaaaa



Nah ini saat aku belum satu tahun. Dulu itu saat kecil sangat putih dan bersih, tau nggak karena apa? Kata tante-tanteku, ibu kalau mandiin pakai air aqua. Hahahhaaa nggak ada hubungannya sih :p Dulu saat lahir kata susternya aku bayi paling putih, yang lain bayi dari ras cina dan aku satu-satunya bayi jawa (So What?)



Nah ini saat aku TK... Hahhahaa jangan tanya kenapa kurus banget ---___---
Jadi dulu sebenarnya aku baru gendut saat SD dan itu juga gara-gara vitamin dari dokter yang sukses menyulap diriku menjadi bocah super gembul :3

20130127

Ketika itu, Bertemu dengan Para Semangaters :p










Mimpi dan Target!

Hidup ini adalah sebuah pembelajaran tentang mimpi dan target. Kemarin (27/01/2012), saya dipercaya sebagai pembicara sebuah acara bedah kampus TOBK Gamabeta 2013 di Jember bersama Kak Big Zaman (Fasilkom UI 2007) dan dimoderatori oleh Faiqa Himma Emalia (FIK UI 2010). Saya lebih menceritakan tentang kehidupan kampus, sementara Kak Big tentang mimpi dan bagaimana mencapainya. Banyak sekali hal-hal yang menyentuh hati selama proses ini, saya sangat tersentuh dengan kisah perjuangan sukses seorang Kak Big Zaman, pun saya tersentuh dengan semangat ratusan anak-anak SMA di Jember yang menjadi peserta. 

Saya, Kak Big, dan Dek Fay

Teringat 5 tahun lalu saat saya pun masih menggunakan seragam putih abu-abu. Saat itu saya masih kelas 2 SMA. Nyaris menjadi seorang anak yang tanpa mimpi dan target dalam hidupnya. Pertanyaan saya saat itu mungkin adalah, "apakah seorang saya pantas memiliki mimpi dan target dalam hidup?"

Kemarin adalah seorang adik SMA yang menanyakan, "Bagaimana cara mengembangkan diri?". Pertanyaan ini sangat cocok untuk menjelaskan bagaimana langkah pertama yang saya coba jejakkan 5 tahun lalu. Sebenarnya keinginan saya memiliki sebuah piala sudah sangat lama, terutama ketika melihat di rumah beberapa teman ada piala-piala berjajar. Tapi itu kan mimpi seorang bocah kecil, namun ternyata bocah itu membawa mimpinya menjadi sebuah target untuk dapat diimplementasikan.

Beberapa Perjuangan Semasa SMA yang Terbingkai
Berbicara tentang mengembangkan diri sementara ada rasa tidak percaya diri yang menggerogoti diri kita sendiri, lalu bagaimana bisa kita mengembangkan diri dengan kondisi seperti itu. Saya masih ingat dengan lomba penulisan pertama saya di KOMPeK 2008 FEUI. Ketika itu saya sedang dirundung sebuah permasalahan keluarga yang membuat otak saya nyaris tidak dapat berpikir rasional. Salah satu buah dari ketidakrasionalan tersebut adalah mengikuti kompetisi ini dengan semua kenekatan yang saya miliki. Segala sesuatunya berproses, hasilnya bisa baik namun juga bisa tidak sesuai dengan harapan kita. Alhamdulillah kompetisi pertama tersebut pun menjadikan meja belajar saya lebih cantik karena ada satu piala pertama yang berdiri di atasnya. Maka sejak itu, saya memulai untuk mendapatkan piala-piala lainnya. Semua berawal dari mimpi yang sangat sederhana, lalu  menjadi target yang saya internalisasikan dalam diri saya. Mungkin terlambat memulai semuanya di bangku kelas 2 SMA, tapi lebih baik daripada tidak. Inilah cara saya mengembangkan diri, sementara rasa percaya diri itu sedikit demi sedikit akan tumbuh sendiri dengan proses yang berjalan dalam kehidupan kita.

Lalu juga ada peserta yang menanyakan tentang Dreamdelion, saya pun mencoba menjelaskannya secara singkat mulai dari bagaimana awal berdiri sampai dengan program-programnya. Dulu saat saya masih kecil sampai sekarang, Ibu dan Bapak selalu mengajarkan tentang semangat mengajar dan berbagi. Saya pernah menuliskan mimpi saya dalam sebuah notes facebook sekitar 1,5 tahun lalu (facebook pertama saya yang di hack =_=). Dan ternyata mimpi untuk berbagi dan mengajar tersebut pun terinternalisasi dalam diri menjadi sebuah target yang saat ini sudah berjalan sejak 18 Juli 2012 : Dreamdelion :D Ada konsep berbaginya dan konsep mengajarkan. Kalau Dreamdelion Alhamdulillah bukan hanya mimpi dan target pribadi, namun juga mimpi dan target bersama rekan-rekan Dreamers.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kalau mereka ingin melakukan passion yang bukan non akademis? Yang ada di pikiran saya adalah passion harus dijalani karena beda lho melakukan hal yang menjadi passion dengan hal yang sebenarnya hanya tuntutan. Kalau memang lebih condong ke arah non akademis ya dijalani dan ditelateni saja, tanpa mengesampingkan hal-hal akademis. Menulis dan sociopreneurship yang menjadi passion saya termasuk dua hal non akademis yang saya coba jalani dengan tetap me-mantain nilai-nilai akademis. Saya pernah mendengar ungkapan ini, "saat kamu sibuk, justru itu tandanya kamu masih sangat dibutuhkan dan berharga. Menjadi sebaliknya, saat kamu berleha-leha sebenarnya apakah kamu pernah mempertanyakan tentang bagaimana masa depan akan berjalan?" Memiliki mimpi menjadi seseorang dengan passion kita, lalu membuatnya menjadi target sehingga kita dapat membuat langkah-langkah apa sajakah yang harus kita jalani untuk menyeimbangkan passion dan tanggung jawab.

Perlu diingat, saat kita melaksanakan sesuatu yang entah itu 'passion' atau sekedar 'tuntutan' maka harus melaksanakannya dengan bertanggung jawab. "Mungkin yang terbaik bagimu tidak baik menurut Allah, namun yang terburuk menurutmu menjadi baik menurut Allah". Manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin melangkahkan langkahnya dalam kebaikan-kebaikanNya dan biarkan Allah yang memutuskan mana yang terbaik dalam kehidupan kita. Bangun reputasi dalam diri kalian sehingga menjadi sosok yang tidak diragukan (saya pun mencoba untuk bisa kearah sana).

Nah pertanyaan terakhir yang masuk adalah bagaimana menyeimbangkan antara kegiatan akademis dan non akademis? Cukup susah menjawabnya karena saya sendiri bisa stress saat memang ada kegiatan akademis dan non akademis (misal : kompetisi) yang deadline-nya pada saat yang sama. Awalnya memang susah sekali, lalu menjadi susah, dan sekarang levelnya cukup susah. Semua hal kan butuh pembiasaan ya? Dulu saat SMA harus mutar otak dan tenaga buat mewujudkan mimpi punya piala di rumah yang tidak hanya satu dan tetap mencapai target bisa menjadi peringkat satu di sekolah. Pun begitu saat kuliah, harus menyesuaikan diri dengan kegiatan-kegiatan yang jauh berbeda dengan saat SMA, aturan-aturan yang lebih ketat (saya jamin kalau kalian kuliah di FEUI tidak bisa melakukan contek-contekan sedikitpun selama ujian), dan teman-teman yang nyaris sangat berbeda dengan saat di SMA. Lalu saya harus mengesampingkan passion saya dalam kegiatan-kegiatan non akademis. Sumpah itu menyiksa banget! Akhirnya lambat laun mencoba menyeimbangkannya, ya ada masanya keteteran tapi untungnya saya bukan deadliners jadi tidak terlalu berat saat menyeimbangkannya. Jadi yuk biasakan diri untuk memanajemen waktu kalian dengan baik, itu waktu kalian lho, waktu milik kalian! Dan sekali lagi coba tulis mimpi-mimpi kalian dalam sebuah kertas dan buat coretan-coretan itu menjadi target yang harus kalian capai. InsyaAllah, Allah memudahkan :D

@alianooranoviar
081210311876
alianooranoviar@gmail.com


Salam, 
Alia Noor Anoviar
Jember, 28 Januari 2013

20121226

Makna Sebuah Nama : Alia Noor Anoviar


Terima kasih untuk ibu dan bapak yang sudah menunggu kehadiranku dalam 4 tahun penantian. Mungkin jika kalian lelah menanti, aku tidak akan pernah hadir di dunia ini dan menikmati setiap detik kehidupanku dengan orangtua yang sangat hebat seperti kalian. Buat ibu yang sudah menitipkan sebuah nama sarat makna untukku, terima kasih ibu. Semoga nama ini yang menghantarkan aku pada sebuah masa dimana aku benar-benar tumbuh untuk memberikan cahaya pada kehidupan kita, setidaknya menerangi hari tua ibu dan bapak seperti kandungan makna dalam nama.

Banyak yang bertanya, “nama kamu itu bahasa arab dan bahasa latin ya?” atau “kenapa Noor bukan Nur?” atau “Anoviar nama apaan?” atau “kan nama kamu Alia kenapa dipanggil Via?” dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan menyangkut nama. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis artikel ini “Makna Sebuah Nama : Alia Noor Anoviar”. Pertanyaan itu juga muncul dari Pak Ali Sadikin, Ketua Pelaksana Harian KICK Andy, saat aku sedang menjalani seleksi panel Young Change Maker Ashoka 2012.

Surabaya, 13 Agustus 1991. Lahir seorang bayi perempuan tepat pukul 18.15 berjenis kelamin perempuan dengan persalinan normal padahal sebelumnya sudah mau dioperasi. Saat itu suster mengatakan kepada ibu, “ibu bayinya paling putih padahal teman-temannya anak orang cina semua dan nangisnya paling kenceng jadi ngebangunin teman-temannya.” Hahahaaaaa jadi ternyata bakat cerewet dan rame itu sudah bawaan dari bayi :3

Ibu waktu itu harus pulang dulu ke rumah, sementara aku masih di boks bayi rumah sakit karena masih harus dirawat. Tapi cerita ibu, “ibu pulang paginya terus sore sudah ke rumah sakit lagi lihat kamu. Ndak tega anak ibu belum bisa pulang.” Maklumlah ya sindrom ibu yang baru punya anak jadi gelisah seringkali menghampiri. Sampai usia 2 tahun aku harus menjalani pengobatan dengan dokter spesialis anak dan berlanjut sampai 4 tahun karena bapak berusaha tidak meminumkan obat akibat aku yang selalu menangis setiap meminum obat dan akhirnya harus mengulang pengobatan dari awal. Jadi kalau dari kecil aku keluar masuk tempat pemeriksaan dokter, bahkan seringkali masuk UGD itu bukan hal yang lagi membuat aku takut karena aku sudah terbiasa dengan obat-obatan, karena memang tubuhku lemah tapi itu insyaAllah tidak menjadikanku lemah.

Oiya lain ibu lain bapak, karena aku adalah anak pertama waktu suster nyuruh bapak buat meng-adzan-i eh bapak malah nangis terus akhirnya suster ragu apa aku udah di-adzan-i apa belum jadi om aku disuruh mengulang untuk meng-adzan-i. Jadi menurut perkiraanku, aku di-adzan-i dua kali yaitu sama bapak dan sama om makanya aku sayang banget sama dua orang lelaki ini. 

Nah sebenarnya esensi dari tulisan ini kan ngomongin tentang apa arti dari nama aku. Sebenarnya proses penamaan pun sempat binggung gitu si ibu, “ibu itu awalnya kasih nama kamu Alia Noor Laila yang artinya cahaya malam yang tinggi. Tapi bapakmu nggak mau karena waktu itu lagi beken penyanyi era 90-an si Laila jadi ya akhirnya ibu kasih nama kamu Alia Noor Anoviar” cerita ibu waktu aku masih SD.

Ibu memberikan nama Alia Noor yang berasal dari nama dari istri ke-3 dan ke-4 dari King Hussein dari Jordania. Queen Alia adalah istri King Hussein yang ke-3 dimana berpisah dari dua istri sebelumnya karena perceraian, Queen Alia merupakan sosok yang menarik karena dia adalah ratu pertama di Jordania yang membangun peran dari seorang ratu di Jordania (cara kerja modern yang saat ini dicontoh oleh Queen Rania), ratu yang cantik dan unik. Namun Queen Alia meninggal pada tahun 1977 karena kecelakaan helicopter meninggalkan tiga anak yaitu Haya dan Ali serta seorang anak adopsi yaitu Abir. 


Lalu King Hussein menikah dengan Queen Noor pada tahun 1978 yang bertemu saat dia sedang bekerja untuk membangun ‘Queen Alia International Airport’ di Jordania. Queen Noor adalah seorang ratu yang multitalenta, cantik dan cerdas, serta memperjuangkan hak-hak perempuan. Noor Al Hussein Foundation yang dimiliki oleh Queen Noor berfokus pada human security challenges di Jordania dan wilayah disekitarnya, memberikan pembiayaan mikro untuk wirausaha khususnya perempuan, serta isu-isu lainnya.


Sementara Anoviar adalah nama gabungan ‘Aquarius-murdjoNO’ (bapak) dan ‘VIrgo-sunARsih’ (ibu) meskipun beberapa saat kemudian ibu baru menyadari bahwa zodiaknya bukan virgo tapi leo. Hahahaaaa ibu kreatif sekali ya? 

Akhirnya nama Alia Noor Anoviar itu berarti ‘Cahaya yang Tinggi’ bukan lagi Alia Noor Laila yang berarti ‘Cahaya Malam yang Tinggi’ karena ibu ingin anak sulungnya tidak hanya menjadi cahaya yang tinggi di saat malam menyapa, tapi juga menjadi cahaya yang tinggi kapanpun dan dimanapun dia berada. Dan semoga sisipan nama Anoviar yang berasal dari gabungan kedua orangtuaku bisa menjadi sebuah arti tersendiri, menjadi cahaya yang tinggi yang akan menjadi penerang jalan orangtuanya di dunia dan akherat kelak. Amin Ya Allah, Amin Ya Rabbal Al Amin.


Itulah arti namaku dan tentang nama panggilan via itu berasal dari anoVIAr karena kata ibu sudah banyak anak yang dipanggil dengan nama Lia dan Nur jadi biar nggak tertukar manggilnya. Sederhana banget ya dan ibu terlihat sangat cerdas saat memberikan nama sarat makna ini. Terima kasih ibu, terima kasih bapak. Semoga aku bisa menjadi cahaya yang tinggi untuk kalian, dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan dunia dan akhirat-nya, juga memberi makna bagi orang-orang di sekitarku. Dan bisa meneladani sosok Queen Alia dan Queen Noor.

Boneka Panda Aurora


Masih terus berjalan, jalanan ini benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. “Kakek menjanjikan sebuah boneka panda yang sangat lucu kepadaku, Bunda. Dan mengapa aku harus berjalan sejauh ini untuk mendapatkannya? Bukankah kakek berjanji memberikannya...”
Bunda mendengar tanpa menanggapi tanya gadis kecilnya.
“...Bunda bayangkan ini kaki aku sudah capek banget, Bunda. Bunda pun terlihat sangat letih dan pucat. Kenapa kita tidak berhenti dan kembali ke rumah lalu bilang kepada Kakek bahwa kita tidak bisa menemukan letak boneka panda itu. Kakek harus mencarinya sendiri karena dia yang berjanji padaku.”
“Aurora sayang, kita sudah berjalan sejauh ini. Bunda memang merasakan letih, apalagi perbekalan kita yang semakin menipis. Tapi bayangkan saja, jika kita kembali tanpa apa yang kita harapkan, apakah perjalanan ini akan sia-sia saja?”
“Aduhhhh Bunda...” Aurora terus mengeluh sepanjang perjalanan sambil mempercepat langkahnya mencari boneka panda seperti yang sang kakek janjikan.
Sama seperti Aurora, kita pasti memiliki sebuah keinginan yang untuk mendapatkannya dibutuhkan waktu yang berproses, tidak dapat mengandalkan hal-hal instan. Setiap dari kita pasti punya keinginan, namun ada yang menjadi realita dan tidak jarang sebagian hanya menjadi sebatas mimpi belaka.
“Coba kamu tidak mengeluh dan terus konsisten menatap keinginan kamu mendapatkan boneka panda dari Kakek, pasti capeknya hilang. Karena untuk mencapai sesuatu memang harus ada pengorbanan. Sekarang apa pengorbanan Aurora?”
“Berjalan Bunda?”
“Iya berjalan... Ini pengorbanan. Aurora tidak boleh menjadi gadis kecil yang manja, harus jadi anak Bunda yang kuat. Aurora punya mimpi kan?”
Aurora mengangguk dengan yakin, “Aurora mau jadi presiden, Bunda. Biar negara ini makin makmur, tidak ada lagi masyarakat miskin, juga tidak ada temen-temen kecil Aurora yang menjadi pengemis di jalanan.”
“Nahhhh Aurora punya mimpi yang besar, tapi tidak mudah menjadi seorang presiden. Presiden itu pemimpin, pemimpin itu seharusnya bisa memimpin dirinya sendiri. Kalau untuk mendapatkan boneka dari Kakek saja membuat Aurora terus mengeluh sama Bunda, apakah Aurora pantas menjadi pemimpin?”
Aurora menunduk, pipinya memerah. Lalu dia mengamit tangan Bunda, “Ayooo Bunda, kita harus cepat menuju tempatnya. Bunda tunjukin dimana tempat boneka dari Kakek ya, Aurora janji tidak akan mengeluh lagi!” Bocah berkucir kuda ini terlihat sangat bersemangat.
Kekuatan sebuah mimpi, akan ada dua tipikal manusia di dunia ini. Pertama yang akan menjadi pemimpin dan kedua yang akan terus menjadi pemimpi. Mana pilihanmu?
Kini Aurora sudah tiba, di tempat dimana boneka panda pemberian Kakek disimpan. Wajah bocah ini terlihat heran, dahinya mengerut tanda sedang berpikir.
“Bunda... Bukankah ini rumah kita?”
Bunda mengangguk.
“Lalu?”
“Lalu kita masuk dan mengambil kado dari Kakek.”
Kakek tiba-tiba membuka pintu sesaat setelah Bunda membunyikan lonceng. Tampak raut wajah suka cita menyambut kedatangan cucu mungilnya, Aurora. Lalu Kakek menyodorkan sebuah boneka panda berwarna biru yang sangat lucu, seperti permintaan Aurora.
“Lho?” Aurora masih terlihat binggung.
“Cucuku sayang, untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan maka kamu harus berusaha. Berusaha dengan caramu sendiri, cara yang benar untuk mendapatkannya. Kamu harus melampaui rintangan-rintangan yang ada. Kadang tidak mudah, oleh karena itu kamu tidak boleh pernah berputus asa. Kadang kita harus melewati jalan yang sama, tempat yang sama. Kadang mimpi kita sangat dekat dengan kita, namun kita tidak menyadarinya sehingga harus berjalan sejauh mungkin untuk mendapatkannya.” Pesan Kakek sembari menggendong Aurora dan mengajaknya masuk ke rumah, bermain bersama boneka panda barunya.


Tamini, 26-12-2012
Alia Noor Anoviar