20140221

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Peternakan, Setitik Cita untuk Kampung Halaman

"Sedih!"


Mungkin satu kata itu cukup menggambarkan bagaimana rasa hati ini, setiap kali mendengar hal-hal yang kurang pantas ada di kampung halaman sendiri. "Jauh-jauh ke Ibukota, menuntut ilmu untuk mendapatkan sebuah titel sarjana, tidak pernah terpikirkan apapun untuk membangun kampung halaman sendiri..." rutuk saya saat itu.

Tidak sekali dua kali mendengar Ibu saya yang berprofesi sebagai guru bercerita tentang anak-anak didiknya yang (maaf) hamil diluar nikah. Belum lagi kondisi yang saya lihat dimana banyak masyarakat yang kekurangan dan pendidikan anak-anak menjadi pilihan untuk tidak dipentingkan. Banyak anak lulusan SD dan SMP yang tidak lagi melanjutkan pendidikannya, beberapa dari mereka dinikahkan atau dikirim ke kota sebagai pembantu rumah tangga.

Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu memberikan warna dalam hidup saya. Meskipun hanya 3 tahun tinggal disana selama SMP, saya merasa sangat berutang dengan kota tersebut karena saya belajar untuk bisa bergaul pertama kalinya di sana, saya belajar mandiri dan anti manja pertama kali di sana, saya belajar menghargai orang lain pertama kalinya di sana, terutama saya belajar menjadi diri saya yang sekarang ini dari sana.

Saat itu satu hari pasca Yudisium FEUI di bulan Agustus 2013, saya mengajak Ibu ke Bogor bersama teman-teman Dreamdelion untuk mengajar masyarakat sesuai dengan permintaan salah satu komunitas rekan-rekan beragama Buddha.

Sepulang dari sana, Ibu yang sebelumnya bertanya-tanya tentang "apa yang sebenarnya dilakukan Dreamdelion?" menjadi mendukung penuh langkah saya untuk menekuni dunia kewirausahaan sosial. Akhirnya sebuah permintaan Ibu yang tidak bisa saya tolak, memberdayakan masyarakat di kampung halaman kedua orangtua saya di Ngawi.

Saya mulai berpikir-pikir, "apa yang bisa saya lakukan di sana? Kalaupun ada 'apa'-nya, lantas bagaimana saya bisa melakukannya?"

Kondisi rumah masyarakat sekitar

Kondisi rumah masyarakat sekitar

Akhirnya ide itu pun lahir karena percakapan singkat antara saya dan Ibu melalui telpon, Ibu bercerita tentang masyarakat desa yang 'bertangan dingin' terutama dalam peternakan dan pertanian. Saya mulai berpikir, "pertanian?" butuh modal yang cukup besar untuk membeli maupun menyewa lahan, membeli bibit dan mesin-mesin pertanian, dan belum lagi resiko besar mengingat iklim dan hama. Akhirnya saya pikir, mungkin "peternakan".

Dan cerita pun dimulai...

Apa kira-kira bidang peternakan yang bisa saya jangkau dengan segala keterbatasan?

Menimbang-nimbang segala kemungkinan, saya pertama berpikir peternakan ayam. Namun ternyata berternak ayam tidak mudah, belum lagi isu flu burung dan baunya yang menganggu, tidak enak dengan tetangga. Berpikir peternakan sapi, ternyata butuh modal yang tidak sedikit, saya belum sanggup untuk memodalinya karena tidak mungkin hanya membeli 1 atau 2 sapi menurut saya karena perkembangannya akan lambat jika seperti itu. Akhirnya setelah menimbang-nimbang terpikir peternakan kambing, Alhamdulillah Allah memudahkannya.



Alhamdulillah, ini kambing pertama saya :)

Ibu sepertinya berusaha menantang saya dan Alhamdulillah saya memiliki sosok seperti beliau. Ibu menyewa sebuah rumah untuk membuat tempat perawatan kambing.

Awal Januari, Ibu dengan bangga memberitahu saya bahwa ada seseorang yang menitipkan kambing untuk dikelola (investor) dan Ibu membeli kambing dari uangnya sendiri. Saya pun mulai menabung lagi, benar juga sebuah langkah besar harus dimulai dengan langkah kecil, kalau hanya menunggu entah sampai kapan sebuah hal yang dicitakan dapat terealisasi.

Akhirnya di akhir Februari saya mulai bisa membeli kambing sendiri dan Alhamdulillah tidak disangka ada pencairan dana penulisan buku dari dosen saya Bu Riani (dosen favorit dan kesayangan saya sesama kuliah). Saya coba pergunakan baik-baik dana tersebut untuk bisa lebih mengembangkan program di Ngawi tersebut. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan, pun masih bisa dihitung jari jumlah masyarakat setempat yang bisa mendapatkan amanah memelihara kambing dengan sistem bagi hasil tersebut. Tapi saya senang, saat Ibu bercerita jika masyarakat setempat satu persatu datang untuk menawarkan diri memelihara kambing padahal sebelumnya saat ditawarkan pertama kali justru ada kecenderungan menolak. Saya senang saat salah satu pemeliharanya adalah seorang Bapak yang sedang memperjuangkan pendidikan untuk anaknya, agar anaknya bisa mengejar cita, melanjutkan pendidikan SMK. Saya senang, Alhamdulillah senang meskipun masih banyak yang sebenarnya ingin saya lakukan namun belum mampu, inshaAllah Allah akan memampukan saya pada waktu yang tepat tentu dengan bantuan berbagai pihak.



Kandang sederhana untuk The Kambings :p

Boleh bermimpi setinggi langit, tapi apa gunanya bermimpi tanpa kemauan merealisasikan? Dan tak ada yang tak mungkin karena saya yakin Allah selalu memiliki cara untuk kita dapat merealisasikan mimpi-mimpi kita, terutama mimpi untuk berbagi kebermanfaatan. Selamat berbagi dan bermanfaat!


2 comments:

Nur Azizah Widyaningsih said...

Ka Alia.. Suka banget sama kata-kata di paragraf terakhir. Saya juga punya banyak mimpi kak, tapi terkadang terlalu banyak alasan untuk menunda 'eksekusi'. Segala sesuatunya memang harus dimulai dari langkah kecil ya kak :)

My Life, My Dream, My Creativity said...

iya dek, ayo wujudkan mimpi kita :D