20121018

Kisah Tentang Sebongkah Hati

Mungkin ini karena waktu yang cukup lama dan menuntut adanya perubahan, tapi saat perubahan itu datang justru gurat-gurat kekecewaan muncul tanpa pernah diprediksikan. Ini mungkin adalah kisah yang tidak semua orang dapat memahami mengapa harus terjadi, tapi ya harus diakui sebenarnya ini adalah sebuah kisah klasik tentang hati.

Berjalan bersama dan menorehkan kisah, itu biasa. Tapi saat berjalan bersama dan menciptakan kisah, mungkin ini luar biasa. Luar biasa itu sendiri subjektif sebenarnya, bisa saja yang luar biasa menurut seseorang menjadi biasa bahkan tidak ada artinya bagi orang lain. Ya tapi dia sendiri mengakui bahwa ini adalah sebuah kisah yang luar biasa, yang bahkan dia binggung untuk dapat merangkainya melalui kata. Kisah ini bukan lagu picisan tentang perasaan, tapi kisah ini bernada.

Entah sudah berapa detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun yang terlewati bersama. Waktu demi waktu yang tidak lagi dapat dihitung dengan jemari. Sebenarnya ini sebuah kisah yang menjemukan, tapi selalu melahirkan tantangan. Entah apa... kembali dia tidak dapat berkata-kata. 

Bukannya dia tidak bisa melihat sehingga tidak bisa melihat ketulusan hati orang-orang lain. Bukan juga dia tidak dapat mendengar sehingga tidak pernah mampu mendengar kalimat-kalimat yang sesungguhnya lebih menyenangkan dari suara-suara yang bukan miliknya. Pun bukan karena dia tidak dapat berjalan sehingga dia selalu enggan untuk meninggalkan tautan hati yang benar-benar tak mampu lagi memisahkan diri.

"Aku punya pilihan, tapi aku tidak bisa memilih. Karena aku tau bahwa aku sudah memilih, pun meski pilihan itu tidak sejalan dengan logika. Tapi ini tentang hati, sesuatu yang bahkan tidak akan pernah kau paksakan jika logika dan perasaan tidak berkata sama."

"Hhahahhahahaaa..." Dan untuk sepersekian menit dia tertawa, "bukan bukan bukan!!! Aku benar-benar tidak menyimpan alasan, juga tidak memiliki latar belakang. Apa kamu kira aku sedang membuat tulisan seperti biasanya?"

"Lalu?"

"Tidak, bukan seperti itu, pun aku tidak ingin melogikakan apapun tentang ini. Ini berbeda, sesuatu yang tidak pernah aku sangka kemunculannya. Ini berbeda daripada memenangkan sebuah kompetisi yang aku harus berjuang keras untuk mencapainya. Ini pun berbeda dari sekedar menerima sertifikat penghargaan. Ini tentang hati... Aku tidak pernah tau mengapa, tapi aku tau bagaimana ini semua terjadi." Menunduk, lalu dia kembali menegakkan pandangannya menatapku. Dua bola mata yang telah basah, pipi memerah yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. 

"Ada apa?"

"Aku lelah..."

"Lelah kenapa? Bukan kamu yang biasanya..."

"Aku lelah saat orang bertanya mengapa... mengapa... mengapa... Haruskah semua yang aku lakukan memiliki kata 'mengapa'?" Mengusap airmata dan kembali bersikap biasa, "aku hanya ingin melakukan apa yang aku suka. Bukan sesuatu yang direka. Ini masalah hati, bukan sesuatu yang dapat dilogikakan... Jika memang hati ini seperti bongkahan es batu yang enggan mencair, apa harus dipaksakan untuk mencair? Jika memang hati ini seperti bongkahan karang yang tak bisa melunak, haruskah dilunakkan dengan paksa?"

Ini adalah kisah tentang sebongkah hati yang tidak pernah dapat dilogikakan.


Dear someone,
I know if you're the best
and always do the best for
people around your life.
Keep strong :)
 

20120705

Behind The Scene of Community Empowerment Online Shop (CEO-Shop)

Lebih dari empat bulan sudah aku tidak bertandang ke istana kecil yang aku bangun bersama kedua temanku, Rahma Suci Sentia dan Siti Nurfitriani (Site). Ide awal terbentuknya istana kecil yang kami beri nama "Sanggar Anak Manggarai (SANGGARAI) ini lahir dari Site dan kami mencoba mengkonsepnya dalam sebuah kompetisi di level fakultas "3th Student Research Days" dalam bidang PKM Pengabdian Masyarakat. Kami pun menyabet Juara ke-2, namun menjadi yang kedua tidak menjadika kami sebatas menjadi konseptor, kami ingin mengimplementasikannya dalam bentuk riil seperti torehan pena yang kami konsepkan sebelumnya. Namun berbagai halangan, implementasi tidak juga berjalan sampai akhirnya justru aku harus pergi ke Thailand untuk exchange. Sebulan pertama di Thailand, aku mendengar kabar bahagia... "SANGGARAI" benar-benar ada sekarang dengan gerakan masif dari Sentia dan kawan-kawan. Alhamdulillah... 

"Ada rasa sesak pada perasaanku, apa iya aku cuma bisa jadi penulis, pengonsep, kaya ide tapi miskin implementasi, dan tidak bisa bergerak secara nyata? Aku malu, lebih tepatnya aku malu pada diriku sendiri. Sangat egois!"

Hari ini (27/05/2012) akhirnya menjadi momen pertama kali aku bisa bertemu dengan anak-anak setelah pulang dari Thailand. Dan aku pun benar-benar kikuk dihadapkan dengan lebih dari 20 anak yang terlihat sangat lincah dan 'ramai' entah kenapa kepalaku cenat-cenut dan merasa tidak sanggup seketika. Tapi ahaaaa kayaknya ga 'woman'  (lawannya gentle :p) banget deh kalau nyerah sama para cabe rawit ini.

Saat sentia mengenalkanku pada anak-anak yang menghampiri dan mencium tanganku, satu persatu dengan antusias, mereka seolah memiliki "teman" baru bahkan beberapa dengan akrabnya memanggilku "kakak" atau "ibu".

"Ini namanya kakak alia, baru pulang dari Thailand lhooo... Dulu pernah kesini juga, tapi udah lama ya kak? hehe"

Tampaknya setelah 20 menit berlalu aku sudah bisa mengendalikan perasaanku sendiri haahhaaaa... Mengendalikan perasaan sebelum mengendalikan ini bocah-bocah yang sangat aktif. Awalnya aku cuma mendekati dua orang bocah yang sedang membaca buku berbahasa inggris, menanyakan apakah mereka mengerti. Tapi biar lebih seru akhirnya aku bermain tebak-tebakkan dari isi buku itu. Aku mulai dengan kata "BODY" dan menantang mereka menyebutkan anggota tubuh dengan menggunakan bahasa inggris. Yayyyy ternyata cara ini efektif untuk membuat 5 orang duduk super anteng di hadapanku, kami pun bermain ENGLISH WORDS yang berawal dari body lanjut nyanyi alphabet (nyanyian yang dulu ibu ajarkan padaku). Mereka sangat antusias dan aku merasa sangat puas (IMPAS!!!) hahahaha...

 
Kelompok Belajar Bahasa Inggris

Berawal dari 5 orang yang semakin ramai akhirnya membius teman-teman di sekitarnya untuk belajar hal yang sama, aku pun tersenyum senang karena bisa membuat mereka senang >> Ternyata senang itu sederhana ya teman?

Tapi ada sedikit kesedihan saat aku melihat mereka, 20 anak ini dihandle dengan 2 orang padahal kalau mereka setidaknya bisa dihandle dengan 4 orang pasti akan sangat efektif belajarnya. Ya, dana masih terbatas. Buku-buku yang ada di perpustakaan kami pun hasil sumbangsih dari gerakan #BeriBuku-nya kak Risma dkk angkatan 2008 FEUI senilai 5 juta. Dahsyat!!! Luar Biasa!!! Buku-buku yang banyak dan mencerdaskan ini pun masih belum bisa diakses secara bebas, mereka hanya bisa mengaksesnya setiap kali kami datang. Padahal mereka ingin membaca setiap waktu, buku adalah jendela dunia yang harusnya tidak memiliki batasan waktu untuk menikmatinya. Ya, kami bukan warga setempat 'area Manggarai' dan kami butuh seseorang untuk bisa menjaga perpustakaan, kami perlu dana.

Aku masih mencari jawaban : Darimana dana bisa akudapatkan? Belum kerja, masih kuliah, mengandalkan beasiswa lagi, dan sangat tidak etis saat meminta bantuan orangtua untuk keinginan pribadi. Baiklah harus buat bisnis, tapi bisnis apa?

Akhirnya aku mendapatkan sebuah pekerjaan part time untuk 5 hari, pameran produk perbankan. Aku pun mulai bergeliat mencari celah, banyak produk disini dan pasti ada yang bisa menjadi inspirasi. Dan benar, ada stand yang menjual beberapa tas jeans dari bahan jeans bekas namun masih sangat standar, bahkan tas cewek tidak diberi penutup atau risleting sehingga cukup bahaya. Aku mencoba menjualnya dan Alhamdulillah dalam 3 hari laku 10 tas dengan harga 35-40rb. Aku pun melihat, ya ini jawabannya!!! 

Menjadi teringat perjalananku di Thailand, melihat sebuah stand penjual berbagai model tas jeans yang dijual dengan harga sangat mahal. Bahkan aku membeli dengan harga sekitar 120.000 padahal modelnya sangat sederhana. Tapi saya tetap membeli (bukan karena lg banyak duit karena emang ngepas sebenarnya duitnya hahaha...) karena tasnya lucu dan menurut saya kreatif. Sempat terpikir  membuat seperti ini di Indonesia, tapi terlupa karena kesibukan pasca pulang yang cukup meribetkan. 

Yepppp IT's THE TIME TO ACT!!!

Akhirnya berlatarbelakang seperti itu dan mendapatkan bantuan dana dari Om yang masih dalam proses, dengan sistem bagi hasil, aku memberanikan diri untuk mulai meniti jalan mencari dana melalui COMMUNITY EMPOWERMENT ONLINE SHOP (CEO-Shop). 

Kenapa namanya CEO-Shop?

1. Pada beberapa bulan pertama, produk akan disupply oleh salah satu yayasan yang mempekerjakan anak2 putus sekolah dan disekolahkan. Pada prosesnya, produk utamanya berupa tas dan baju jeans akan diproduksi oleh ibu-ibu di bantaran kali manggarai. (sampai saat ini masih dalam proses pencarian bahan dan mesin) Tujuannya adalah memberikan penghasilan kepada mereka karena rata-rata menganggur di rumah. They need something to empower them :) Tapi akan dijual beberapa produk lain yang diambil dari vendor misalnya aksesoris.

2. 20% dari profit akan dialokasikan untuk pengembangan SANGGARAI. semoga bisa cukup untuk setidaknya memiliki 2 pengajar baru dan penjaga perpustakaan. Pastinya akan berproses :) Bismillah... Kalau ada yang tanya kenapa cuma 20% karena aku sendiri bekerjasama dengan beberapa investor untuk pendanaan dengan sistem bagi hasil, insyaAllah ke depannya akan bisa menyisihkan lebih banyak tabungan buat adik-adik.

InsyaAllah tanggal 13 Juli, CEO-Shop akan segera di launching produk-produknya lewat facebook dan twitter :D

Semoga aja keberadaan CEO-Shop benar-benar bisa memberikan oase baru buat meng-empower perempuan dan anak-anak yang insyaAllah memiliki masa depan cerah itu :)

Dukung CEO-Shop yaaaa dan jangan lupa beli produknya mulai tanggal 13 Juli 2012 nanti !!! :D


With love to them,


CEO-Shop :)



20120619

SUMA SINDO 19/06/2012 : Runtuhnya Kedaulatan Energi di Indonesia

“Gerak adalah sumber kehidupan dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang.”

Begitulah kalimat yang diucapkan Bung Karno pada 1960 di mana aksi politik kedaulatan modal yang diterapkannya telah dimulai sejak 1957. Bung Karno menganggap bahwa penguasa energi adalah pemenang dan menurutnya Indonesia memiliki banyak minyak dan pasar yang luas sehingga Indonesia adalah bangsa yang berpotensi besar menjadi pemenang dengan menciptakan sendiri kemakmurannya.

UU No 40 Tahun 1960 menyatakan bahwa seluruh minyak dan gas alam dikelola oleh negara atau perusahaan negara.UU tersebut tentunya menjadi hambatan bagi keberadaan MNC’s seperti Stanvac, Caltex (sekarang Chevron), dan Shell yang beroperasi di Indonesia.Bung Karno membuat UU tersebut menjadi landasan hukum agar tidak terbuka celah bagi perusahaan asing yang ada di Indonesia untuk berbuat kerugian dan adanya kewajiban bagi perusahaan asing tersebut untuk mampu memberikan kemakmuran bagi bangsa Indonesia atas investasinya, jika tidak maka akan dilakukan nasionalisasi perusahaan asing.

Bung Karno berambisi untuk menjadikan Permina, yang berganti nama menjadi Pertamina, menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia. Perjuangan Bung Karno menjadikan Indonesia memiliki kedaulatan modal di mana kedaulatan energi menjadi misi penting di dalamnya, ternyata menjadi sesuatu yang kurang diperjuangkan oleh pemimpin setelahnya.

Pengelolaan energi di Indonesia dari hulu (eksplorasi) hingga hilir (penjualan) terlihat sangat memprihatinkan. Runtuhnya kedaulatan energi di Indonesia tengah menjadi bahan perbincangan berbagai kalangan masyarakat yang disinyalir timbul akibat kepemimpinan yang lemah dan korup, mentalitas dan paradigma, serta sistem pengelolaan kapitalisme yang digunakan (M. Hatta, 2012).

Chevron yang keberadaannya dulu dibatasi di masa Bung Karno, saat ini telah berani mengkalim menjadi perusahaan energi terbesar di Indonesia. Runtuhnya kedaulatan energi di Indonesia merupakan wujud pengingkaran terhadap Pasal 33 UUD 1945 di mana seharusnya energi menjadi komoditas strategis yang dikuasai negara dan digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan sekadar komoditas komersial yang dengan mudahnya dikuasai pihak asing seolah-olah Indonesia tidak memiliki kemampuan domestik dalam mengelola sumber daya energi tersebut. Bergerak untuk merebut kedaulatan energi di Indonesia menjelang 67 tahun kemerdekaan merupakan sebuah urgensi. ●

ALIA NOOR ANOVIAR
Mahasiswi Manajemen Sumber Daya Manusia,
FEUI, 2009. Penerima Beasiswa Unggulan CIMB Niaga   


Link
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/504347/

20120615

Arah Gerak Baru Perlawanan Korupsi

“Keprihatinan terhadap masalah korupsi pendidikan mendorong BEM KM 2012 untuk memperkuat upaya mencegah korupsi di bidang pendidikan,” ujar Supiandi, selaku ketua panitia. Atas dasar itu, BEM KM UGM menyelenggarakan Pelatihan Anti Korupsi Mahasiswa dan Siswa Anti Korupsi Indonesia (MAHASAKSI), Minggu (10/6) pagi. Acara dimulai pukul 09.00 di Ruang T 102 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM. “Mari Bantu Negara Selesaikan Masalah Korupsi” menjadi semboyan yang digaungkan BEM dalam 1st School for Indonesian Anti Coruption Ambassador ini.

Pelatihan dihadiri oleh mahasiswa dan siswa SMA. Program ini merupakan upaya pembentukan komunitas dan pemberian pelatihan bagi mahasiswa dan siswa SMA dari seluruh Indonesia. Tujuannya untuk menguatkan budaya antikorupsi sejak muda. “Para peserta akan menjadi Duta Anti Korupsi (Anti Corruption Student Ambassador) yang akan kembali ke daerah masing-masing dan menyebarkan pemikiran antikorupsi di daerahnya,” papar Reza S. Zaki sebagai pendiri sekaligus koordinator pertama MAHASAKSI Indonesia.

Menurut pemaparan Zaki, komunitas ini memiliki beberapa prinsip yang diangkat. Pertama, menggabungkan sinergisme antar kampus dan sekolah di Indonesia. Kedua, membangun kesetaraan gender dalam isu pemberantasan korupsi. Ketiga, membangun kesadaran bahwa negara tidak bisa sendiri menyelesaikan tanggung jawab ini. “Masyarakat sipil yang diwakili oleh mahasiswa dan siswa ini harus mampu secara moral menuntaskan persoalan korupsi di Indonesia,” imbuhnya.

BEM KM bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) FH UGM, Indonesian Coruption Watch, dan Institute for Development and Economic Assistance (IDEA). Sunarjo perwakilan IDEA menjelaskan perihal celah korupsi yang memungkinkan pada proses penyusunan anggaran. Ia memaparkan ketimpangan anggaran pelayanan publik yang lebih kecil dibandingkan anggaran belanja gaji pejabat pemerintah. “Contohnya saja pendidikan, anggaran pendidikan dari APBN yang 20% nyatanya 80%nya digunakan untuk gaji guru,” ujarnya.

Yudi Purnomo perwakilan KPK menjelaskan dalam sisi pemberantasan korupsi. Ia memaparkan tiga proses dalam usaha menyelidiki kasus-kasus korupsi; investigasi, penyadapan, dan pelaporan kasus korupsi. “Ketiga proses itu sangat menentukan bagi kita dalam usaha memecahkan masalah korupsi,” ujarnya. Materi keterbukaan informasi publik disampaikan Laras Susanti, perwakilan Pukat FH UGM. Ia menuturkan, korupsi bermula dari ketidakterbukaan informasi publik. “Jika tidak ada apa-apa, harusnya data publik bisa diakses dengan mudah,” imbuhnya.

Selain penyampaian materi, peserta juga diajak berdiskusi lewat film garapan KPK, K vs K. Setelahnya diadakan group discussion untuk membahas action plan para peserta di daerah masing-masing. “Setelah keluar dari ruangan ini, setiap peserta kami harapkan mampu berperan dalam mengatasi perkara korupsi di daerah masing-masing,” tutur Zaki. Festival hari anti korupsi se-dunia, lomba film dokumenter, orasi ilmiah, memecahkan rekor MURI dengan tajuk “Orasi Perempuan Melawan Korupsi” merupakan target jangka panjang yang ingin dicapai. Supiandi menambahkan “Kami belum memikirkan lebih lanjut tindakan real yang akan diambil oleh komunitas ini,” ujarnya.

Pada akhir acara, Fatimah Nopriardy, Mahasiswi Fakultas Mipa’11 berhasil menyandang gelar sebagai The 1st Chair of Ambassador. “Pemilihan ini berdasarkan tingkat keaktifan peserta di kelas,” ujar Supiandi. Pada pelatihan satu hari ini, dipilih pula tiga penulis esai terbaik. Aryo Dwi Harprayudi mahasiswa UGM, Alia Noor Anoviar mahasiswi UI, dan Abdul Jabbar Jawwadurrohman siswa SMA 3 Malang.

Komentar datang dari Abdul Jabbar Jawwadurrohman, motivasi utamanya mengikuti pelatihan ini ialah untuk menjadi agen pembebasan Indonesia dari masalah korupsi. “Namun sangat disayangkan, pelatihannya sangat singkat,” tutur Jabbar. Ia menambahkan pesertanya kurang beragam karena kebanyakan hanya dari UGM sendiri. Supiandi mengaku dari lima puluh peserta yang hadir hanya ada tiga siswa dari SMA 3 Malang, satu mahasiswa dari UI, lima mahasiswa UNY, tiga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Alia Noor Anoviar pun turut menyatakan kekecewaannya, “Pelatihan hari ini hanya diajarin teori saja, pembicaranya pun kurang greget,” ujar mahasiswa asal UI itu. [Danny Izza, Mukhammad Faisol Amir]
Link :
http://www.balairungpress.com/2012/06/arah-gerak-baru-perlawanan-korupsi/

20120609

Perempuan Bukan Sekedar Boneka Politik : Menagih Partisipasi Perempuan di Kancah Politik dan Perannya dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tipikor di Indonesia




Mulai dari top level hingga functional level di pemerintahan terjerat tindak pidana korupsi (tipikor). Elite politik yang kerap berbicara tentang bagaimana menciptakan pemerintahan bersih pun terbukti melakukan tipikor. ‘Uang panas’ beredar untuk memenangkan tahta dan akhirnya membuat mereka melenggang bebas merampas uang rakyat yang seharusnya dapat dialokasikan untuk pembangunan dalam kerangka pemerataan kesejahteraan. Memanasnya kasus Nazaruddin mengungkap korupsi berjama’ah di tubuh pemerintahan dan menyeret nama tokoh-tokoh politik di Indonesia memunculkan sebuah pertanyaan menggelitik, masih adakah integritas di negeri ini?

Mempertanyakan integritas dalam dunia politik berarti mempertanyakan sebuah retorika. Para pemangku kepentingan seringkali tidak mengatakan seluruh kebenaran, lalu melakukan pengingkaran yang dibuat masuk akal sehingga publik menilai mereka berada pada jalur yang benar sebagai pemangku kepentingan. Menjadi tidak bijaksana jika citra politik digeneralisasikan, namun fakta menunjukkan pengingkaran tersebut nyata terjadi. Saat integritas dijunjung dalam dunia politik Indonesia, justru kecaman dan tuntutan lengser jabatan menghadang, seperti dialami oleh Sri Mulyani.

Tingkat pemberantasan korupsi di Indonesia secara global menduduki peringkat ke-47 dan peringkat ke-2 terbawah di Asia Pasifik (United Press International, 2011). Ketua KPK Busyro Muqodas (2011) menyatakan bahwa upaya pemberantasan korupsi terus dilakukan, misalnya KPK tengah menunggu izin presiden untuk memeriksa 158 pejabat yang diduga terkait dengan korupsi dan 245 tersangka korupsi telah ditangani KPK. Masih ingatkah dengan kasus Gayus Tambunan, Arthalita Suryani, juga rekening gendut para jenderal polri? Indonesia, ladang strategis tipikor.

Pada saat rezim Soeharto berkuasa, peran orang-orang yang bukan merupakan kerabat Soeharto menjadi kurang signifikan terutama perempuan. Perempuan dianggap masih tabu, lemah dan seringkali termarginalkan, dan dianggap lebih pantas menjadi ibu rumah tangga daripada berpolitik. Akhirnya perempuan pada era orde baru berjuang dengan berbagai tuntutan agar mendapatkan hak berpolitik, namun perjuangan tersebut tidak mendapatkan hasil. Jerih payah tersebut justru dirasakan di era reformasi, keterwakilan wanita dapat diajukan paling sedikit 30 persen setiap partai politik peserta pemilu anggota DPR, DPR provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, serta terdapat peningkatan partisipasi perempuan dalam perpolitikan (Grafik). Pembahasan korupsi dan analisis gender pertamakali dilakukan oleh para pakar pemberantasan korupsi seperti Danang Widoyoko (ICW), Erry Riana (Mantan Wakil Ketua KPK), dan Effendi Gazali (#SaveUI).

Jurnal Perempuan edisi 72 (2012) memandang perlu menyoroti soal korupsi dan kaitannya dengan isu gender mengingat buruknya dampak korupsi. Hal paling dasar yang dikaji adalah bagaimana praktek korupsi menjadi sebuah kebudayaan yang akhirnya mengikutsertakan perempuan menjadi koruptor, namun sangat sedikit literatur yang membahas soal korupsi dan gender, padahal kini masalah korupsi sudah mewabah di Indonesia dan telah menyeret sejumlah perempuan menjadi pelaku korupsi. Sebut saja kasus-kasus besar yang melibatkan perempuan sebagai aktris koruptor seperti kasus suap Wisma Atlet dan Kemendiknas yang melibatkan Angelina Sondakh; penggelapan dana nasabah Citi Bank oleh Melinda Dee; dan cek pelawat dalam pemilihan gubernur senior BI yang menunjuk Miranda Goeltom sebagai tahanan KPK.

Padahal, perempuan merupakan pihak yang paling banyak menerima dampak korupsi karena posisinya di masyarakat dimana hal penanganan korupsi, perempuan kurang diperhitungkan dampaknya. Kalaupun perempuan mengetahui ada ketidakadilan akibat korupsi, perempuan tidak bisa bicara sekeras laki-laki ketika melawan korupsi. Pembahasan korupsi dianggap pembahasan yang maskulin. Saat perempuan menjadi terdakwa korupsi, umumnya bukan isu tentang korupsi yang menjadi liputan media, namun isu-isu mengenai gaya hidup yang dijalaninya.

Namun koruptor masih didominasi oleh laki-laki dimana jumlahnya lebih dari 90% (Mariana Amiruddin, 2012). Saat ketidakpastian hukum merajalela, maka kemungkinan besar perempuan yang menjadi pejabat publik akan terseret sebagai pelaku korupsi. Artinya, semakin banyak perempuan yang duduk dalam jabatan publik dan ketidakpastian hukum, maka sebagaimana laki-laki, perempuan pun akan mudah menjadi pelaku kejahatan korupsi, meskipun koruptor kakap masih didominasi oleh laki-laki.

Perwakilan KPP-PA Sunarti (2012) menyatakan bahwa masalah perempuan dan korupsi tidak ada hubungannya dengan identitas perempuan tersebut dimana korupsi adalah semata-mata persoalan kekuasaan dan kesempatan. Perempuan berperan sentral dalam pemberantasan korupsi yang dimulai dengan menjadi pendidik dalam keluarga untuk mendorong generasi muda untuk bertindak jujur dimana hal ini terbukti pada negara-negara Skandinavia yang memiliki peringkat korupsi terendah. Menurut Erry (2012), setelah ditelusuri ternyata masyarakat negara Skandinavia memiliki nilai-nilai budaya yang mengajarkan warga negaranya sejak kecil untuk membedakan mana yang privat dan yang publik, atau mana yang menjadi kepentingan pribadi dan publik.

Danang Widoyoko (2012) berpendapat bahwa terdapat kaitan erat antara korupsi dan perempuan, serta mengapa sejauh ini tidak dianggap penting dan tidak diakui dalam perbincangan pemberantasan korupsi. Menurutnya persoalan korupsi dan gender adalah sebuah bab yang hilang dimana seolah-olah korupsi adalah entitas yang normal, tidak ada persoalan dimensi gender. Wacana tentang korupsi lebih dominan dipandang secara hukum dimana gender tidak disebutkan dalam perangkat hukum kita dan digeneralisasi. Fakta menunjukkan bahwa bukan mustahil bagi perempuan melakukan korupsi hanya karena perempuan dianggap tidak memiliki karakter agresif dan kompetitif. Buktinya, di negara-negara dengan tingkat keterwakilan perempuan yang tinggi, jumlah koruptor perempuannya juga tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang keterwakilan perempuannya rendah.

Negara-negara skandanavia memiliki peringkat korupsi terendah bukan karena banyaknya perempuan yang terlibat, namun sistem politiknya. Perempuan yang menduduki jabatan publik tidak otomatis berkuasa, atau belum tentu secara substansial dapat menguasai. Terdapat misteri terkait jaringan di belakang praktek korupsi. Apabila perempuan menjadi pejabat publik maka dia tidak otomatis masuk atau menggunakan jaringan tersebut, perempuan justru diekslusi dan secara substansial tidak menjadi pengambilan keputusan. Hal ini mengindikasikan bahwa perempuan cenderung sekedar menjadi alat politik yang mengarahkan pada tipikor.

Tidak dapat digeneralisasi bahwa pejabat dan birokrat perempuan memiliki tendensi untuk menjadi koruptor. Pemberantasan korupsi sendiri merupakan kepentingan politik perempuan karena selama ini perempuan menjadi korban utama, bukan pelaku utama. Rocky Gerung di dalam Jurnal Perempuan (2012) menegaskan bahwa kepekaan moral, rasa keadilan, kepedulian etis, dapat diajukan sebagai keunggulan natural perempuan, suatu dasar antropologi untuk mewujudkan pemerintahan anti korupsi. Sri Mulyani menunjukkan sosok birokrat yang melakukan terobosan-terobosan pemberantasan praktik korupsi dari institusinya, namun sayangnya justru terdepak dari pemerintahan. Dr. Ratna Sitompul, Dekan FKUI, yang gigih menyuarkan anti korupsi di kampus UI dan menjadi bagian dari Gerakan #SaveUI. Saat terdapat gerakan bersama perempuan yang dimulai dari level keluarga hingga level pemerintahan untuk berkomitmen mencegah dan memberantas tipikor dengan hak politiknya, maka bukan mustahil praktek busuk ini dapat dibumihanguskan di Indonesia khususnya. Perempuan-perempuan yang menjadi pemimpin perlu melakukan gebrakan dan menunjukkan komitmennya untuk memberantas korupsi karena sekali lagi perempuan merupakan korban utama, bukan pelaku utama tipikor di Indonesia.

Dibuat untuk mengikuti :
1st The School for Indonesia Anti Corruption Student Ambassador
Mahasaksi, Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta, 10 Juni 2012

Alia Noor Anoviar

Mahasiswi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia

20120530

When I Taught My Friend How to Use Veil :)



I was surprised when Mama Nong told me if she want to know how to use veil (hijab). Then, she asked me to help her learn about it. Actually I am not kind of women that creative in using a veil than my friends, so I only can teach basic hijab style to her.


Finally, after we finished our travelling to Khao Yai, Farm Chokchai, kap Kinkhawyen thi Chao Phraya River, I teach her how to use hijab in her house :) 

Tralalalallaaaaaa.... She look so beautiful right? She who use blue shirt in picture above is Mama Nong :)


Then her daugher also my friend, June, interested to use hijab too. Wowwwwwww, June looked so beautiful :) It's wonderful :p ^^ June, I miss you so much :)))


Have Fun a Whole Day with June and Mama Nong :*


I Can't Forget a Lot of Fun with June and Mama Nong :)))

June... Thank You so Much for Taking My Pics :p


Link Pics : 
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.269570746473751.56886.100002624835312&type=3