20131224

Kajian tentang Bisnis Sosial (Social Entrepreneurship) - Bagian 4 s/d 6 dan Kesimpulan

Peran Universitas dalam Pengembangan Social Entrepreneurship
Sebenarnya tidak perlu diragukan tentang kapabilitas Indonesia dalam menciptakan social entrepreneur, mengingat Indonesia saat ini memiliki pemuda-pemudi (mahasiswa) yang tengah menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi, sebut saja UI, ITB, UGM, UNPAD, ITS, IPB, dan lain-lain. Hal ini merupakan potensi dimana generasi muda yang disebut sebagai social agent ini memiliki pengetahuan dan keahlian yang dapat diberikan kepada masyarakat. Para pemuda yang lebih akrab disebut mahasiswa mampu berkontribusi dengan kemampuan yang dimiliki dan membuka mata terhadap tantangan global, penekanannya pada aspek sosial-ekonomi, yang dihadapi  oleh Indonesia.
Winarto (2008) menyadari sentralnya peran perguruan tinggi atau universitas sebagai pembentuk social entrepreneur. Winarto mencontohkan universitas yang menyenggelarakan pendidikan di bidang social entrepreneurship adalah Asian Institute of Management (AIM), Manila, Filipina dalam program Master in Development Management. AIM unggul dalam menghasilkan social entrepreneur untuk pendidikan dan pelatihan, disamping menghasilkan model pengembangan suatu masyarakat atau daerah. Lalu bagaimana dengan universitas di Indonesia? Kontribusi dari universitas di Indonesia sebagai pencetak agen-agen pembaharuan dinantikan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah memperkenalkan, mengajarkan, serta membudayakan social entrepreneurship di kalangan mahasiswa dan menciptakan social entrepreneur yang unggul.
Apabila mengacu pada Tri Darma Perguruan Tinggi yang memuat pendidikan, penelitian, dan satu komponen penting pula adalah pengabdian masyarakat maka cocok jika social entrepreneurship dijadikan sebagai salah satu bagian dari komponen tersebut. Merupakan kewajiban moral bagi mahasiswa untuk terjun mengatasi persoalan bangsa Indonesia yang bertitik tolak dari masalah ekonomi. Solusinya jelas melalui pengembangan social entrepreneurship sebagai upaya perbaikan kesejahteraan masyarakat secara merata sekaligus wahana penyebaran nilai kepada masyarakat bahwa setiap manusia di dunia mengemban tugas sosial yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan dan kekayaan.
Siti Adiprigandari Adiwoso Suprapto (2006) mengadakan riset dengan menggunakan pendekatan teoritis dan interview yang dilakukan terhadap 300 responden untuk meneliti program pelatihan yang diperuntukkan bagi social entrepreneurship dimana menjadi perhatian dari Pusat Pengembangan dan Inkubator Bisnis, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Hal ini dikarenakan jumlah organisasi non laba meningkat secara eksponensial. Jadi harus diketahui tipe pelatihan seperti apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan dari ranah social entrepreneurship. Universitas umumnya tertarik dengan penelitian dan semacamnya untuk meng-update dan meng-upgrade ilmu pengetahuan yang sebelumnya telah ada. Bahkan Universitas Indonesia telah mendeklarasikan diri sebagai ‘World Research University’ sehingga bagaimana penelitian yang dilakukan oleh universitas sebaiknya  juga diarahkan kepada mencari metode yang tepat untuk mengembangkan social entrepreneurship di Indonesia. 
Pada umumnya di masing-masing universitas memiliki inkubator pengembangan bisnis bagi mahasiswa, misalnya Universitas Indonesia (UI) memiliki CEDS dan Universitas Gajah Mada (UGM) memiliki PMW yaitu Program Mahasiswa Wirausaha. Ahmad Haneef Zuhdy (2011), mahasiswa 2009 Fisipol UGM, menyatakan bahwa pengembangan model social entrepreneurship di UGM belum ada, namun model-model pengembangan mahasiswa wirausaha (business entrepreneur) sudah ada. Ada kemungkinan akan mengembangkan ke ranah social entrepreneurship karena saat ini UGM menggandeng Mien R Uno Foundation.
Sumber pembelajaran bagi wirausaha adalah berupa pengalaman, belajar dari pihak lain, kompetensi, dan belajar dari sumber formal. Pada konteks ini, penulis akan menekankan pada belajar dari sumber formal, yaitu universitas. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sendiri misalnya, memiliki mata kuliah pilihan ‘Kewirausahaan’, namun sepengetahuan penulis masih difokuskan ke arah pembuatan business plan yang mengarah pada business entrepreneurship. Pada setiap akhir semester, mahasiswa mata kuliah ‘Kewirausahaan’ diwajibkan membuat rencana bisnis per kelompok yang nantinya dipresentasikan sebagai tugas akhir. Bukan hal yang mustahil jika konsep dari mata kuliah ini diarahkan pada social entrepreneurship dimana mahasiswa diwajibkan membuat tugas akhir berupa social entrepreneurship project guna memacu dalam menciptakan social entrepreneur dari kalangan mahasiswa.
Setelah mendapatkan pembelajaran dari lembaga pendidikan formal seperti melalui mata kuliah, seminar, atau pelatihan yang ditujukan untuk membentuk social entrepreneur maka para mahasiswa tersebut akan memiliki pengalaman dan kompetensi baik secara teoritis maupun praktik sehingga tentu menjadi individu yang berpengalaman. Selanjutnya, mahasiswa tersebut dapat memacu diri sendiri untuk menjadi sosok social entrepreneur dengan terus didukung dengan program-program peningkatan pengetahuan dan keahlian terkait social entrepreneurship. Akhirnya, mahasiswa benar-benar dapat menjadi agen perubahan  yaitu bertindak sebagai social entrepreneur.
Pada umumnya, entrepreneur yang mengenyam pendidikan di level universitas akan lebih berhasil karena dibekali pengetahuan dan keahlian serta pengalaman secara langsung dan tidak langsung sekaligus. Entrepreneur harus mandiri, kritis, kreatif, etos kerja tinggi, dan kepekaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar yang pada akhirnya melahirkan social entrepreneur (Gregorius, 2011).
Kesimpulannya, universitas merupakan lembaga yang berpotensi untuk berperan aktif dalam mengembangkan social entrepreneurship di Indonesia melalui berbagai upaya, misalnya mata kuliah, pelatihan, seminar, kompetisi rencana bisnis, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan riset, dengan memberdayakan mahasiswa yang ada didalamnya sebagai agen perubahan. Seiring berjalannya waktu, penanaman minat dalam social entrepreneurship tidak harus baru dimulai dari level universitas namun sudah harus dimulai dari level pendidikan dasar melalui penyusunan kurikulum kewirausahaan sosial sehingga menjadi pembelajaran semenjak dini bagi para tunas pembangun bangsa.

Mahasiswa dan Gerakan Social Entrepreneurship-nya
Berdasarkan data PSP 2009/2010 diketahui bahwa jumlah anak yang masuk SD/MI di Indonesia adalah 31,05 juta pelajar dan berkurang di jenjang SMP menjadi 12,69 juta pelajar. Secara kuantitas, jumlah anak yang mampu mengenyam pendidikan di level SMA/MA/SMK hanya 9,11 juta pelajar dimana menurun kembali menjadi 5,1 juta pelajar yang mampu menikamti pendidikan di perguruan tinggi.
Data tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa/I adalah kaum terbatas atau lebih sering disebut dengan kaum elite. Namun justru kaum elite ini yang menjadi bagian dari permasalahan bangsa dimana mendominasi angka pengangguran di Indonesia. Pada bulan Februari 2011 tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 6,8 persen atau 8,12 juta jiwa. Angka ini menurun ketimbang periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 8,59 juta orang, turun 470 ribu orang. Februari 2010 pengangguran mencapai 7,41 persen atau sebanyak 8,59 juta jiwa (BPS, 2011). Bappenas (2009) melakukan survei yang menunjukkan bahwa 22,2% dari 21,2 juta angkatan kerja merupakan pengangguran dimana 2 juta dari pengangguran tersebut berasal dari lulusan perguruan tinggi. Mahasiswa sebagai kaum inteletual yang seharusnya menjadi pengentas masalah, justru menjadi bagian dari permasalahan bangsa Indonesia.

Reasonable people adapt themselves to the world. Unreasonable people attempt to adapt the world to themselves. All progress, therefore, depends on unreasonable people. - George Bernard Shaw-

Terdapat dua pilihan bagi mahasiswa, beraksi sebagai reasonable people atau unreasonable people? Beberapa dari kalangan intelektual ini jelas memilih being a reasonable people dimana mereka harus beradaptasi dengan dunia untuk mampu bertahan dan berkembang dalam zona aman dan nyaman. Namun, beberapa lebih memilih menjadi unreasonable people yang menurut Nurul Setia Pertiwi (2011) merupakan ‘suatu gambaran akan generasi yang dibutuhkan dunia untuk menciptakan transformasi besar yang radikal dan menyeluruh. Generasi yang ambisius, senantiasa ingin mengubah sistem, digerakkan emosi, menganggap mengetahui masa depan, mengabaikan stereotip yang ada, dan segala hal yang akhirnya menggerakkan mereka untuk menjadi bibit perubah dunia’. Seharusnya mahasiswa masuk dalam golongan unreasonable people karena merupakan agent of change yang salah satu wujudnya adalah menjadi social entrepreneur.
Dhiora Bintang (2011) menyatakan pendapatnya tentang model social entrepreneur dari basis mahasiswa. Pemberdayaan berbasis komunitas merupakan kuncinya dimana selama ini mahasiswa mengembangkan ragam komunitas di multi sektor, tapi peningkatan ke level social entrepreneurship masih kurang. Pertama, proyek-proyek sosial mahasiswa harus dikonversikan kedalam social enterpreneur. Proyek “Bina Desa” misalnya, dilakukan secara komprehensif. Mulai dari pendidikan, sanitasi yang berkaitan dengan kesehatan, hingga ekonominya. Kedua,  universitas bisa memfasilitasi lewat insentif, misalnya program yang telah dijalankan bisa dituangkan dalam setiap tugas akhir atau skripsi dan bisa menjadi bagian dari pengurangan sks. Ketiga, peran pemerintah yang memberi stimulus dalam hal dana jika proyek yang dilakukan layak dijalankan. Pada akhirnya, mahasiswa dan komunitas yang telah diberdayakan akan menjalankan usaha dalam social entrepreneurship tersebut. Gerakan mahasiswa ini akan membantu pemerintah untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia.
Pada bahasan ini, penulis hendak menyuguhkan beberapa social entrepreneur yang berasal dari kalangan mahasiswa dimana mulai merintis usaha semenjak di bangku kuliah yang diharapkan dapat memacu semangat pembaca untuk mengikuti jejak para mahasiswa pendahulu ini. Gerakan mahasiswa ini bisa disebut dengan Intelectual Social Responsibility (ISR), sedangkan bagi swasta disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR).

Kaya bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan diri sendiri, tetapi mengenai sejauh mana kita bisa memberdayakan orang lain agar turut berkarya dan berpenghasilan. -Presiden Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB 2010/2011-
         
          Jaya Hidayat, mahasiswa akuntansi angkatan 2008 dari Universitas Hasanuddin, penerima beastudi etos, memperoleh kesempatan menjadi salah satu deklarator Pengusaha Mahasiswa Indonesia pada 14-15 Juni 2011. Jaya menjadi entrepreneur di usia muda dengan mendirikan CV Angkasa Mulia dengan empat anak usaha yang melibatkan etoser di Makassar dalam kepegawaiannya. Kini Jaya tengah menelurkan program social entrepreneurship dimana memberi beasiswa bagi mereka yang tidak mampu yang ingin melanjutkan kuliah dengan jurusan Kedokteran, Teknik Sipil, Akuntansi yang sebagian waktunya bisa langsung bekerja di cabang perusahaan yang akan dikembangkannya. Hal ini menjadi contoh konkret bagaimana saat mendirikan usaha maka akan ada kebermanfaatan bagi orang lain atau mampu memfasilitasi orang lain dengan menjadi social entrepreneur.
Penulis berkesempatan menghadiri seminar yang diadakan oleh CEDS Universitas Indonesia yang mendatangkan social entrepreneur, salah satunya yang berasal dari kalangan mahasiswa adalah Yoga Rokhmana. Berlatarbelakang S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan melanjutkan S2 di FKM Universitas Indonesia, mahasiswa ini menjadi pemasar boneka horta. Menurutnya mahasiswa biasa menjadi tangan dibawah dengan mengharapkan beasiswa atau bantuan-bantuan pendidikan dan biaya hidup dalam menunjang. Mindset inilah yang harus diubah dimana mahasiswa yang menjadi tangan dibawah menjadi mahasiswa menjadi tangan diatas melalui gerakan social entrepreneurship-nya.
Boneka horta sendiri merupakan buah dari penelitian yang berjudul ‘Perakitan Boneka Tanaman sebagai Mainan Edukatif untuk Mengajarkan Kecintaan Pertanian terhadap Anak-anak’. Penggagasnya adalah mahasiswa –mahasiswa dari IPB, yaitu Gigih (Jurusan Holtikultura IPB bersama Asep, Imam, Rhamatullah, Nissa Rahmadia, Nurhaedi, dan Agustina. Bahan baku dari boneka horta adalah serbuk kayu, pupuk, dan benih tanaman. Setelah melalui proses penelitian akhirnya Gigih bersama seorang teman wirausahanya membuat usaha boneka yang menjadi media tumbuh tanaman dan akhirnya diberi label ‘boneka horta’. Bisnis boneka horta ini dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga di daerah Ciomas yang sebelumnya menganggur artinya memberdayakan ibu-ibu yang sebelumnya pasif dalam bekerja menjadi aktif sehingga mampu menyokong kebutuhan keluarga. Para ibu rumah tangga tersebut dibekali keterampilan membuat boneka horta, terutama mengingat permintaan yang meluas tidak hanya dari daerah Bogor saja.
IPB tidak hanya memiliki social entrepreneur sebagaimana yang sebelumnya dipaparkan oleh penulis, satu nama lagi yang membahana karena gerakannya sebagai mahasiswa dalam membangun perumahan bagi orang miskin. Menurutnya hal ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan kehidupan, tidak hanya fokus pada yang kaya saja. Impian Elang sangat mulia yaitu membentuk organisasi Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan 100 ribu orang. Motivasinya adalah menjadi teladan bagi generasi muda untuk peduli pada masyarakat sekitar dan mulia baik di dunia maupun akhirat. Act as an social entrepreneur make our life balance.
Social entrepreneur lainnya adalah Goris Mustaqim yang berinisiatif mendirikan ASGAR MUDA di Garut saat masih menjadi mahasiswa ITB. Namanya mencuat saat menjadi satu dari 10 orang yang diundang oleh Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dalam Presidential Summit on Enterpreneurship di Amerika Serikat. Semboyannya yang dikenal adalah membangun dari desa. ASGAR MUDA menjadi simbol pemberdayaan generasi muda Garut untuk membangun desanya menuju kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik. Proyek sosial yang patut untuk menjadi teladan bagi mahasiswa-mahasiswa lain di daerahnya masing-masing. Apalagi mengingat saat ini pemerintah daerah sering membiayai proyek pemberdayaan mahasiswa di daerah atau Dikti yang aktif memberi bantuan bagi proposal bisnis yang layak, termasuk Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang rutin diadakan setiap tahunnya.
Masih banyak lagi mahasiswa dan gerakannya dalam kerangka social entrepreneurship yang tidak dapat dijabarkan satu persatu oleh penulis. Beberapa contoh di atas, yaitu Jaya Hidayat dari Universitas Hasanuddin, Yoga Rokhmana, Gigih, dan Elang Gumilang dari Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Goris Mustaqim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan social entrepreneur yang memulai usahanya sejak duduk di bangku universitas serta bisa merepresentasikan gerakan mahasiswa horizontal yang ditujukan untuk pemberdayaan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Apabila memang tidak berminat menjadi social entrepreneur, setidaknya mahasiswa memacu munculnya social entrepreneurship. Banyak cara yang dapat ditempuh, misalnya membuat kegiatan-kegiatan seperti seminar, pelatihan, konfrensi mahasiswa, dan ajang kompetisi bisnis yang mengarah ke ranah sosial. IEC ITB 2011 dengan seminar nasionalnya sudah memegang peran dalam memperkenalkan dan memacu tumbuhnya social entrepreneur di Indonesia dari kalangan mahasiswa. Universitas Brawijaya (Gambar 3) melalui business plan competition 2011 yang mengangkat tema ‘Social Business : Entrepreneurship that Empower’ yang finalnya akan diadakan pada 4Oktober 2011 juga bukti nyata bagaimana eksistensi social entrepreneur, yang notabene adalah mahasiswa, semakin diakui. Konfrensi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KMIUI) 2011 juga merupakan salah satu wadah untuk menunjukkan bahwa social entrepreneurship menjadi arah revitalisasi gerakan mahasiswa di era global saat ini.

Tantangan Mahasiswa sebagai Social Entrepreneur
One of the things I'm most focused now on, with the Case Foundation, is the notion of social entrepreneurship. I'm an entrepreneur. I like building companies, but I also like building projects, and one of the things I learned in the last five years is it's easy to start new things, particularly in the not-for-profit world. It's harder to scale them, and so we're trying to figure out a way to work with some of the not-for-profit organizations -- around maybe ten years, or already well led, already well respected -- on how to kind of get them over that tipping point where they really become more mainstream phenomena. One statistic that was startling to me is if you look at the top 20 companies, and you look at the list 20 years ago and you look at the list today, about half of the companies change every 20 years, because 20 years ago CISCO and Microsoft and some of the other companies didn't really exist. Wal-Mart. And so in the business world there's this process of constant change and evolution and a list changes. In the not-for-profit world, if you look at the top 20 not-for-profits 20 years ago and today, 19 of them are the same. One has broken through, which is Habitat for Humanity, which is a great group that we work closely with. -Steve Case-
Memang bukan perkara mudah untuk memulai menjadi seorang social entrepreneur, apalagi bagi mahasiswa yang juga memiliki tanggung jawab dalam hal akademik. Namun apa salahnya jika kita sebagai mahasiswa mencoba sebelum menyatakan diri gagal melaksanakannya?
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh mahasiswa adalah masalah konsistensi dalam menjalankan usahanya sebagai social entrepreneur. Seperti yang sudah-sudah, awalnya mahasiswa bertindak idealis dan berubah menjadi pragmatis. Misalnya niat awal adalah menjadi social entrepreneur, lalu setelah berjalannya waktu tidak lagi fokus pada pemberdayaan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, tetapi beralih kearah business entrepreneur. Apalagi menyangkut pelibatan waktu dari mahasiswa yang tidak sedikit jika menjalankan social entrepreneurship yang digagasnya.Oleh karena itu dalam social entrepreneurship harus dimasukkan unsur etika dan moral dalam menjaga konsistensi mahasiswa menjadi social entrepreneur.
Kedua, tantangan dari pihak masyarakat juga ada misalnya masyarakat mau atau tidak untuk menjadi bagian dari pemberdayaan oleh social entrepreneur. Saat mahasiswa telah bersungguh-sungguh, sementara masyarakat atau elemen yang akan ditangani tidak menunjukkan minat untuk melakukannya bersama-sama maka kesuksesan program-program untuk menjalankan social entrepreneurship itu menjadi kurang maksimal.
Ketiga, saat social entrepreneur yang dalam hal ini adalah mahasiswa dan masyarakat sebagai objek sekaligus subjek pemberdayaan dalam kerangka social entrepreneurship telah dalam kondisi yang baik maka tantangan selanjutnya adalah pendanaan yang terbatas. Masalah dana kerap kali menjadi tantangan yang terberat saat mahasiswa menjalankan proyek-proyek yang berhubungan dengan community development, apalagi social entrepreneurship yang saat ini masih bisa dibilang baru menjadi trend di kalangan mahasiswa. Banyak sekali program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa sehingga pemberi dana juga mungkin telah mengalokasikan untuk program-program tertentu. Penulis belum menemukan baik dari pihak pemerintah yang dalam hal ini dikti maupun swasta dengan program CSR-nya yang fokus memberikan bantuan dana untuk menyokong kegiatan yang dilakukan oleh social entrepreneur.
Keempat, manajemen pelaksanaan dari social entrepreneurship yang dijalankan oleh mahasiswa. Mahasiswa memiliki beberapa constrain secara personal, misalnya (1) waktu antara kuliah, penanganan proyek sebagai social entrepreneur, dan kegiatan kemahasiswaan lainnya; (2) profesionalitas dari mahasiswa dalam melaksanakan proyek social entrepreneurship-nya, misalnya tidak adanya pendampingan dari tenaga ahli atau yang berpengalaman sehingga keberhasilan proyek hanya setengah-setengah.
Empat tantangan yang telah dijabarkan oleh penulis dimana menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk berkarya sebagai social entrepreneur memang bukan menjadi hal yang perlu terlalu dikhawatirkan, namun tentu perlu strategi dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Hal ini karena keyakinan penulis bahwa mahasiswa merupakan individu-individu yang visioner dalam melakukan proyek-proyek yang direncanakan, termasuk memacu pengembangan social entrepreneurship di Indonesia. Optimisme tumbuhnya bibit-bibit social entrepreneur dalam kalangan mahasiswa harus disambut dengan aksi nyata gerakan mahasiswa, bukan sekedar trend wacana.

Penutup : Kesimpulan dan Rekomendasi Penulis
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa social entrepreneurship di Indonesia memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan dengan melihat potensi yang dimiliki Indonesia dalam kapasitas sumber daya alam berlimpah maupun kuantitas sumber daya manusia, namun belum mampu dioptimalkan sehingga manfaat positifnya pun belum terlihat maksimal. Social entrepreneurship tidak hanya fokus pada kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga kemampuan untuk memberdayakan masyarakat sehingga memiliki kemandirian untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan.
Apabila hal ini dikaitkan dengan peran pemuda yang dalam hal ini adalah mahasiswa maka gerakan mahasiswa yang dulunya lebih bersifat vertikal dimana destruktif-anarkis berubah menjadi lebih fokus pada gerakan yang bersifat horizontal dimana bersentuhan secara langsung dengan masyarakat. Telah terjadi revitalisasi gerakan mahasiswa yang salah satunya bergerak dalam community development pada kerangka sosial-ekonomi, yaitu social entrepreneurship. Bagaimanapun juga terdapat persamaan yang menonjol antara gerakan mahasiswa angkatan 1998 dan angkatan selanjutnya dimana mahasiswa bertindak sebagai motor penggerak pembaharuan serta kepedulian dan keberpihakan terhadap masyarakat. Namun mahasiswa di Indonesia menghadapi tantangan-tantangan dalam bertindak sebagai social entrepreneur, yaitu terkait konsistensi dalam menjalankan usaha, minat masyarakat, keterbatasan dana, dan manajemen pelaksanaan usaha. Apalagi jika mengingat bahwa social entrepreneurship di Indonesia belum terkenal selayaknya business entrepreneurship sehingga masih dianggap sebatas trend dalam masyarakat terutama jika yang menjalankan adalah mahasiswa.
Berangkat dari sebuah pemikiran sederhana, rekomendasi atau strategi yang dapat penulis berikan terkait bagaimana mahasiswa di Indonesia mengatasi berbagai tantangan yang ada dalam menjalankan social entrepreneurship agar dapat dieksekusi dengan hasil maksimal adalah sebagai berikut.
Rekomendasi pertama ditujukan untuk menjawab tantangan konsistensi mahasiswa sebagai social entrepreneur yang masih dipertanyakan karena social entrepreneurship sendiri masih dianggap sekedar trend di kalangan mahasiswa, selain itu juga membutuhkan perhatian khusus dalam eksekusinya karena melibatkan elemen masyarakat tertentu. Bisa saja terjadi perubahan niat setelah melihat besarnya keuntungan yang diraup dari usaha, padahal awalnya dalam usaha tersebut terkandung tujuan pemberdayaan masyarakat. Hal yang perlu menjadi perhatian juga adalah fleksibilitas waktu dari mahasiswa karena harus membagi waktu antara kuliah, kegiatan ekstrakurikuler perkuliahan, dan social entrepreneurship-nya.  Oleh karena itu, hendaknya dibentuk kelompok gerakan mahasiswa. Artinya mahasiswa tidak hanya bertindak secara individual sebagai social entrepreneur, namun membentu kelompok yang terdiri dari individu-individu dengan fokus social entrepreneurship dalam bidang yang sama. Dengan dibentuknya kelompok gerakan mahasiswa dalam social entrepreneurship maka saat konsistensi salah satu luntur maka individu  lainnya bisa memotivasi dan melanjutkan gerakan yang telah digagas, setidaknya bisa saling mengingatkan untuk konsisten pada niat mulia sebagai social entrepreneur dan mengambil peran sentral dalam upaya memberdayakan masyarakat sekitar. Selain itu, jika dibentuk kelompok maka bisa dilakukan pembagian tugas sehingga saat salah satu pihak memiliki kepentingan lain maka rekan kelompoknya bisa menggantikan tugas yang ada dan setiap individu bisa fokus pada bagian masing-masing, misalnya sesuai disiplin ilmu yang digeluti. Adapula yang mengatakan bahwa ‘dua otak lebih baik dibandingkan satu otak’ artinya pemikiran-pemikiran kreatif dapat muncul dimana individu-individu tersebut bisa melakukan brainstorming ide-ide untuk melaksanakan kegiatan social entrepreneurship-nya.
Rekomendasi kedua, integrasi antar elemen atau stakeholders yang terlibat dalam social entrepreneurship yang digagas oleh mahasiswa tersebut. Tahap awal, mahasiswa yang telah dibuat kelompok, sebagaimana rekomendasi pertama, terdiri dari individu-individu yang berbeda sehingga secara internal harus diintegrasikan. Lalu masyarakat sebagai objek sekaligus subjek yang bekerjasama dengan mahasiswa untuk mensukseskan usaha juga harus diintegrasikan. Mahasiswa harus membuat semacam divisi litbang untuk mengetahui kebutuhan dari masyarakat yang hendak dilakukan dan dicocokkan dengan program social entrepreneurship yang telah dirancang, harus dilakukan penyesuaian terhadap salah satunya. Ada pilihan menyesuaikan program dengan masyarakat terlebih dahulu yang berarti memilih masyarakat mana yang hendak diberdayakan baru membuat program social entrepreneurship yang sesuai untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat tersebut. Pilihan kedua adalah membuat program terlebih dahulu yang berarti setelah program disusun maka mencari masyarakat yang sesuai atau setidaknya mau kooperatif dalam pelaksanaan program yang disusun. Dalam hal ini antara mahasiswa dan masyarakat tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena terdapat korelasi dimana mahasiswa bertindak sebagai social entrepreneur yang melibatkan masyarakat didalamnya untuk memiliki kemandirian dalam memberdayakan dirinya, akhirnya masyarakat tersebut memiliki keinginan pula menjadi social entrepreneur dan terjadi efek multiplier dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Jika masyarakat enggan menjadi bagian dari social entrepreneurship yang digagas mahasiswa maka program yang telah disusun tidak mungkin terlaksana, begitu sebaliknya saat mahasiswa tidak mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Rekomendasi ketiga, kerjasama antara pemerintah, swasta dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dimiliki, masyarakat, dan mahasiswa sebagai tokoh utama untuk bersama-sama dalam mengatasi masalah pendanaan. Pemerintah melalui Dikti misalnya dapat menggelontorkan dana untuk membantu mahasiswa dalam melakukan community development terutama social entrepreneurship. Swasta dapat dipacu untuk untuk memfokuskan CSR-nya untuk membantu social entrepreneur di Indonesia. Masyarakat yang diberdayakan juga harus tau berapa dana yang dibutuhkan untuk melakukan program dari mahasiswa sebagai social entrepreneur, lalu jika mampu membantu dalam hal pendanaan pula karena manfaat positifnya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat tersebut. Mahasiswa sendiri bisa melakukan penggalangan dana dari kalangan mahasiswa atau membuat proposal mengenai program social entrepreneurship yang akan dijalankan lalu diajukan kepada pemerintah dan swasta. Pemerintah pasti akan mendukung karena pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu dari tiga kluster penanggulangan kemiskinan di Indonesia, selain itu swasta pun akan tergerak dalam pendanaan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat yang mungkin merupakan bagian dari konsumen produk perusahaan tersebut. Banyak alternatif yang dapat dilaksanakan untuk mendukung pendanaan bagi social entrepreneur, asalkan program yang hendak dilaksanakan layak secara konsep maupun saat dipraktekkan.
Rekomendasi keempat, melibatkan ahli yang merupakan praktisi maupun akademisi untuk membantu mahasiswa sebagai social entrepreneur. Pendampingan ini tentu seharusnya dari awal perencanaan, eksekusi, dan evaluasi kegiatan. Hal ini dimaksud untuk mendukung kelompok gerakan mahasiswa dalam social entrepreneurship, masyarakat yang telah kooperatif dengan mahasiswa, serta pemerintah maupun swasta yang telah mendukung dalam pendanaan. Misalnya melibatkan Tri Mumpuni, Goris Mustaqim, Elang Gumilang, Sandiaga S. Uno, dan social entrepreneurs lainnya di Indonesia.
Penulis berharap makalah dengan judul “Gejolak Revitalisasi Gerakan Mahasiswa di Indonesia dalam Kerangka Social Entrepreneurship” ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan pandangan, kepada mahasiswa khususnya, untuk melakukan gerakan dalam bidang social entrepreneurship sehingga menciptakan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Optimisme tumbuhnya social entrepreneur dalam kalangan mahasiswa harus disambut dengan aksi nyata, bukan sekedar trend wacana. Penulis optimis jika mahasiswa yang digadang-gadang merupakan agent of change atau lebih spesifik lagi merupakan social agent dapat berperan aktif menjadi social entrepreneur sebagai salah satu bentuk revitalisasi gerakan mahasiswa yang berdampak positif bagi masyarakat sekaligus penggerak perekonomian Indonesia di era globalisasi.


DAFTAR PUSTAKA


Adman. 2005. Pergerakan Mahasiswa. Disampaikan pada Kegiatan LDKM Himpunan Mahasiswa  Program Studi Manajemen Perkantoran, Jum’at, Oktober  2006.
Anoviar, Alia Noor. 2009. Membangun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Guna Mengatasi Tingginya Angka Pengangguran di Indonesia. Economic Research Paper (ERP) : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok.
Media Indonesia. Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi Masih Solid dan Kritis. Jumat, 3 April 2003. Kolom 8-9.
Pituduh, Imam. 2006. Social Entrepreneurship Harus Mengakui Hukum Pasar. Sumber : Menggali Konsep ‘Social Entrepreneurship’, Suatu Riset Pustaka. Jurnal Galang, Vol.1 No.4 Juli 2006, PIRAC, 2006, Opini Hal 125 – 133.
Santosa, Setyanto P. 2007. Peran Social Entrepreneurship dalam Pembangunan. Dipaparkan dalam acara dialog “Membangun Sinergisitas Bangsa Menuju Indonesia yang Inovatif, Inventif dan Kompetitif” diselenggarakan oleh Himpunan IESP FE-Universitas Brawijaya. Malang, 14 Mei 2007.
Suprapto, Siti Adiprigandari Adiwoso. 2006. Defining a Training Program for Social Entrepreneurship in Indonesia. Volume II, Issue 4 SPECIAL ISSUE - INITIATE 21, Brisbane - © 2006, Journal of Asia Entrepreneurship and Sustainability.
Winarto. 2008. Membangun Kewirausahaan Sosial : Meruntuhkan dan Menciptakan Sistem Secara Kreatif. Makalah untuk Seminar: Membangun Kewirausahaan Sosial: “Meruntuhkan dan Menciptakan Sistem secara Kreatif?”. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta, 22 Februari 2008.

Sumber Internet :
BPS. 2011. Pada Bulan Maret 2011 Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Mencapai 30,02 Juta Orang. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 15.39 WIB melalui http://www.bps.go.id/index.php?news=861.
Destyanto, Arry Rahmawan. 2010. Social Entrepreneur, Langkah Nyata Mahasiswa Masa Kini. Diunduh pada 19 Agustus 2011 Pukul 21.15 WIB melalui http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/745
Dhiora. 2011. Menggagas Social Entrepreneur. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 16.22 WIB melalui http://dhioradanbintang.blogspot.com/2011/07/menggagas-social-enterpreneur.html.
Greensand. 2008. Belajar dari Elang Gumilang, Mahasiswa Beromzet 17 Milyar. Diunduh pada 24 Agustus 2011 Pukul 08.54 melalui http://greensand.wordpress.com/2008/06/17/belajar-dari-elang-gumilang-mahasiswa-beromzet-17-milyar/.
Hapsari, Endah. 2011. Strategi Jitu untuk Produk Unik. Diunduh pada 24 Agustus 2011 Pukul 08.56 melalui http://bataviase.co.id/node/616510.
IPA Voices. 2011. Peluncuran ‘Social Innovation & Entrepreneurship Awards’ untuk Inovator dan Pengusaha Sosial Indonesia di Singapura. Diunduh pada 18 Agustus 2011 pukul 14.51 WIB melalui http://www.indonesiaberprestasi.web.id/?p=7756.
Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Republika. 2011. Etoser Makassar Temui Boediono. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 14.35 WIB melalui http://anaketos.blogspot.com/2011/06/etoser-makasar-temui-boediono.html
Pamungkas, Rheza Andhika. 2010. Sulitnya Mencari Social Entrepreneur di Indonesia! Okezone.com. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 17.13 WIB melalui http://celebrity.okezone.com/read/2010/06/18/320/344270/sulitnya-mencari-social-entrepreneur-di-indonesia.
Pertiwi, Nurul Setia. 2011. Sociopreneur untuk Indonesia. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 16.47 WIB melalui http://km.itb.ac.id/site/forums/index.php?topic=17.0 .
Republika. 2010. Peluang Besar Social Entrepreneurship. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 17.00 WIB melalui http://bataviase.co.id/node/201495.
Suhenda, Ankga. 2011. Membangun Gerakan Alternatif Mahasiswa. Diunduh pada 19 Agustus 2011 Pukul 21.22 WIB melalui http://datuklimo.blogspot.com/2011/06/membangun-gerakan-alternatif-mahasiswa.html
Wicaksana, Gregorius Agung. 2011. Kewirausahaan Sosial: Urgensi Mahasiswa Indonesia. Diunduh pada 18 Agustus 2011 Pukul 17.10 WIB melalui http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/05/07/kewirausahaan-sosial-urgensi-mahasiswa-indonesia/.



[1] Winarto. 2008. Membangun Kewirausahaan Sosial : Meruntuhkan dan Menciptakan Sistem Secara Kreatif.