20140304

Ternyata Belajar itu (SELALU) Menyenangkan!


Tiba-tiba aja malam ini saya pengen menulis tentang pengalaman tiga bulan saya belajar tentang perbankan. Tapi tulisan ini tidak akan bercerita tentang perbankan XoXo 

Malam ini, pukul 11.45 PM di hari Selasa (04032014), dengan lampu yang sengaja saya matikan biar bisa tidur tapi ternyata tetap aja nggak bisa tidur hahahaaa mungkin memang disuruh Allah untuk menulis (iya kan, Allah?)

Sudah 3 bulan berjalan, menuju bulan ke-4, saya belajar tentang perbankan. Latar belakang saya sebagai sarjana Manajemen Sumber Daya Manusia membuat saya cukup kesulitan mencerna apa yang diajarkan oleh instruktur. Apalagi saat awal belajar Basic Banking dengan 2 minggu penuh materi Financial & Accounting, rasa-rasanya saya pengen terjunnnnn bebasssssss! Nafsu makan jadi menurun, badan panas dingin setiap hari, pikiran melayang-layang takut ujian nanti harus jawab apa *agak lebay dan sok mendramatisir sih ini*

Tapi yasudahlah hidup kan harus dijalani, tantangan harus dihadapi bukan diratapi, iya bukan?

Keyakinan saya yang belum 100% dan kesungguhan saya yang benar-benar harus dipertanyakan saat itu menjadikan tekanan tambahan dalam diri, demotivasi atau apalah itu namanya. Saya tidak merasa harus 'DO MY BEST' seperti biasanya. Akhirnya ujian pertama pun tiba, saya benar-benar menyesal saat hari itu datang karena saya merasa tidak siap. Meskipun  2 minggu terakhir bersikeras mengejar materi yang tertinggal karena masih mempertanyakan 'IS IT THE BEST FOR ME?' belum terjawab. Saya mati-matian mengejar ketertinggalan, satu persatu materi coba saya baca... saya ulangi... makin dibaca bukannya malah paham, dan akhirnya tesss tesss tesss... airmata pun menetes *senjata andalan saat merasa tidak mampu melakukan sesuatu, menangis di telpon sama Ibu*

Benar saja, malam sebelum ujian badan saya sudah demam. Mual-mual sampai pagi harinya, masuk kelas untuk ujian dengan muka pucat. Mungkin saya terlambat menyadari tentang sesuatu, tapi untungnya saya hanya terlambat bukan tidak pernah tau. Terlambat membuat saya belajar dari kesalahan, sementara tidak pernah tau apalagi tidak pernah mau tau menjadikan saya tersesat dalam kesalahan. Saya bersyukur untuk keterlambatan itu.

Cintai apa yang kita lakukan, tidak hanya melakukan apa yang kita cintai. Karena hanya dengan itu kita bisa memberikan yang terbaik dari diri kita, bagaimana bisa memberikan yang terbaik bila tidak ada cinta ketika melakukannya? - oleh saya, malam ini :p

Ada 80 soal yang coba saya kerjakan dalam waktu 80 menit. Suasana kelas sunyi seketika, tidak ada penjaga ruang ujian tapi ada CCTV hahaha... 

Dua jam kemudian pengumuman siapa yang lulus dan yang tidak, Alhamdulillah saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu yang lulus. Tapi sedih sekali saat ada yang tidak lulus karena yaaa sedih aja, belajarnya bersama jadi menurut saya ya harus lulus bersama!

Ketika besoknya diumumkan berapa nilainya, hmmm benar saja nilai saya bisa dibilang pas-pasan. Kalau saja saya lebih berusaha, pasti lebih baik! Kenapa saya tidak berusaha dengan maksimal saat itu? Karena pikiran saya masih kerdil, saya merasa tidak suka yasudah tidak saya lakukan dengan usaha terbaik (bahkan tidak saya lakukan dengan baik). Saya menyesal, meskipun saya bersyukur karena nilainya bisa dibilang di atas rata-rata.

Saat saya kuliah dulu, saya juga tidak suka ekonomi, saya tidak suka dengan segala sesuatu yang ada matematika! Tapi saya jalani, bukan karena saya tidak bisa masuk ke jurusan yang saya inginkan (Psikologi atau Komunikasi), tapi karena saya percaya bahwa diterima melalui jalur PPKB UI di Manajemen adalah amanah Allah yang harus dijaga. Saya memilih Manajemen karena nasehat Guru BK SMA saya, bukan karena pilihan saya. Tapi saya lakukan sebaik yang saya bisa lakukan, ya meskipun saya tidak suka! Mendengarkan dengan baik di kelas, mengerjakan semua tugas, berusaha tidak lalai mengikuti asistensi, jujur dalam ujian tanpa pernah mencontek sekalipun. Hasilnya, Alhamdulillah. Ibu saya yang datang saat itu di yudisium FEUI bisa pulang dengan senyumnya dan wajahnya yang berseri-seri bahagia. "Bukankah saya (seharusnya) bisa melakukan hal yang sama saat ini dengan apa yang dulu saya lakukan?" Tanya saya pada diri sendiri

Masuklah saya pada modul ke-2, Consumer Banking. Hari pertama dibuka oleh seseorang yang entah kenapa sejak dulu awal bertemu pada masa Induction sudah sangat saya idolakan, nama beliau adalah Pak Tony Tardjo. Menurut saya beliau adalah sosok yang sangat bersemangat, optimis, cerdas, dan aura pemimpin dalam dirinya membuat saya ikut bersemangat hari itu dan hari-hari selanjutnya. Modul Consumer Banking hanya berjalan 2 minggu lebih dan akan dilanjutkan dengan OJT. Kebetulan saya mendapatkan area Jawa Tengah selama 1 bulan, mohon doanya ya :) 

Oiya dan benar saja, saat pengumuman nilai written test (04-03-2014), Alhamdulillah lebih baik dibandingkan yang pertama. Ini bukti dari Allah kalau PASTI BISA kalau MAU dan mencoba MAMPU!




Singkat cerita, tulisan ini saya buat untuk menggambarkan bahwa tidak ada ruginya mau belajar. Karena mau menjadikan kita mampu, jika mau itu didukung dengan usaha terbaik, ikhtiar terbaik. Dan ternyata belajar itu (SELALU) menyenangkan! Hahahaaa saya sudah mencobanya, mencoba melawan ego saya untuk belajar apa yang tidak saya suka, untuk melakukan apa yang menurut saya tidak menyenangkan. Bagaimana dengan kamu?

Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma, which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of other's opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to  become. Everything else is secondary. (Steve Jobs)

So Guys, follow your HEART and INTUITION. Tapi jangan melimitasi diri kita dengan pikiran "TIDAK SUKA", "TIDAK MAU", dan "TIDAK BISA". Karena tiga hal itu yang meracuni kenyataan hidup kita dan akhirnya menjadikan asumsi menjadi realita. BE POSITIVE THINKER!


5 Maret 2014


00.25 :) Selamat Pagi Dunia!






20140221

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Peternakan, Setitik Cita untuk Kampung Halaman

"Sedih!"


Mungkin satu kata itu cukup menggambarkan bagaimana rasa hati ini, setiap kali mendengar hal-hal yang kurang pantas ada di kampung halaman sendiri. "Jauh-jauh ke Ibukota, menuntut ilmu untuk mendapatkan sebuah titel sarjana, tidak pernah terpikirkan apapun untuk membangun kampung halaman sendiri..." rutuk saya saat itu.

Tidak sekali dua kali mendengar Ibu saya yang berprofesi sebagai guru bercerita tentang anak-anak didiknya yang (maaf) hamil diluar nikah. Belum lagi kondisi yang saya lihat dimana banyak masyarakat yang kekurangan dan pendidikan anak-anak menjadi pilihan untuk tidak dipentingkan. Banyak anak lulusan SD dan SMP yang tidak lagi melanjutkan pendidikannya, beberapa dari mereka dinikahkan atau dikirim ke kota sebagai pembantu rumah tangga.

Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu memberikan warna dalam hidup saya. Meskipun hanya 3 tahun tinggal disana selama SMP, saya merasa sangat berutang dengan kota tersebut karena saya belajar untuk bisa bergaul pertama kalinya di sana, saya belajar mandiri dan anti manja pertama kali di sana, saya belajar menghargai orang lain pertama kalinya di sana, terutama saya belajar menjadi diri saya yang sekarang ini dari sana.

Saat itu satu hari pasca Yudisium FEUI di bulan Agustus 2013, saya mengajak Ibu ke Bogor bersama teman-teman Dreamdelion untuk mengajar masyarakat sesuai dengan permintaan salah satu komunitas rekan-rekan beragama Buddha.

Sepulang dari sana, Ibu yang sebelumnya bertanya-tanya tentang "apa yang sebenarnya dilakukan Dreamdelion?" menjadi mendukung penuh langkah saya untuk menekuni dunia kewirausahaan sosial. Akhirnya sebuah permintaan Ibu yang tidak bisa saya tolak, memberdayakan masyarakat di kampung halaman kedua orangtua saya di Ngawi.

Saya mulai berpikir-pikir, "apa yang bisa saya lakukan di sana? Kalaupun ada 'apa'-nya, lantas bagaimana saya bisa melakukannya?"

Kondisi rumah masyarakat sekitar

Kondisi rumah masyarakat sekitar

Akhirnya ide itu pun lahir karena percakapan singkat antara saya dan Ibu melalui telpon, Ibu bercerita tentang masyarakat desa yang 'bertangan dingin' terutama dalam peternakan dan pertanian. Saya mulai berpikir, "pertanian?" butuh modal yang cukup besar untuk membeli maupun menyewa lahan, membeli bibit dan mesin-mesin pertanian, dan belum lagi resiko besar mengingat iklim dan hama. Akhirnya saya pikir, mungkin "peternakan".

Dan cerita pun dimulai...

Apa kira-kira bidang peternakan yang bisa saya jangkau dengan segala keterbatasan?

Menimbang-nimbang segala kemungkinan, saya pertama berpikir peternakan ayam. Namun ternyata berternak ayam tidak mudah, belum lagi isu flu burung dan baunya yang menganggu, tidak enak dengan tetangga. Berpikir peternakan sapi, ternyata butuh modal yang tidak sedikit, saya belum sanggup untuk memodalinya karena tidak mungkin hanya membeli 1 atau 2 sapi menurut saya karena perkembangannya akan lambat jika seperti itu. Akhirnya setelah menimbang-nimbang terpikir peternakan kambing, Alhamdulillah Allah memudahkannya.



Alhamdulillah, ini kambing pertama saya :)

Ibu sepertinya berusaha menantang saya dan Alhamdulillah saya memiliki sosok seperti beliau. Ibu menyewa sebuah rumah untuk membuat tempat perawatan kambing.

Awal Januari, Ibu dengan bangga memberitahu saya bahwa ada seseorang yang menitipkan kambing untuk dikelola (investor) dan Ibu membeli kambing dari uangnya sendiri. Saya pun mulai menabung lagi, benar juga sebuah langkah besar harus dimulai dengan langkah kecil, kalau hanya menunggu entah sampai kapan sebuah hal yang dicitakan dapat terealisasi.

Akhirnya di akhir Februari saya mulai bisa membeli kambing sendiri dan Alhamdulillah tidak disangka ada pencairan dana penulisan buku dari dosen saya Bu Riani (dosen favorit dan kesayangan saya sesama kuliah). Saya coba pergunakan baik-baik dana tersebut untuk bisa lebih mengembangkan program di Ngawi tersebut. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan, pun masih bisa dihitung jari jumlah masyarakat setempat yang bisa mendapatkan amanah memelihara kambing dengan sistem bagi hasil tersebut. Tapi saya senang, saat Ibu bercerita jika masyarakat setempat satu persatu datang untuk menawarkan diri memelihara kambing padahal sebelumnya saat ditawarkan pertama kali justru ada kecenderungan menolak. Saya senang saat salah satu pemeliharanya adalah seorang Bapak yang sedang memperjuangkan pendidikan untuk anaknya, agar anaknya bisa mengejar cita, melanjutkan pendidikan SMK. Saya senang, Alhamdulillah senang meskipun masih banyak yang sebenarnya ingin saya lakukan namun belum mampu, inshaAllah Allah akan memampukan saya pada waktu yang tepat tentu dengan bantuan berbagai pihak.



Kandang sederhana untuk The Kambings :p

Boleh bermimpi setinggi langit, tapi apa gunanya bermimpi tanpa kemauan merealisasikan? Dan tak ada yang tak mungkin karena saya yakin Allah selalu memiliki cara untuk kita dapat merealisasikan mimpi-mimpi kita, terutama mimpi untuk berbagi kebermanfaatan. Selamat berbagi dan bermanfaat!


20140125

Definisi Menjadi yang Terbaik :)

Gue sebenarnya masih sering bingung sama definisi menjadi yang terbaik. Setiap fase kehidupan mengajarkan pada diri gue kalau definisi ini berubah-ubah. Sebagai tipikal manusia dominan (berdasarkan hasil psikotest) dan suka dipuji (sifat dasar manusia yang mau nggak mau jadi sifat dasar gue juga kali yaaa hahahaa) tentu gue pengen jadi yang terbaik dimanapun gue berada. Tujuan gue sih sederhana, menjadi yang terbaik berarti membuat diri gue punya satu nilai plus, punya cerita, punya sesuatu yang membanggakan untuk dibagi ke orang lain, terutama buat dua orang spesial dalam hidup gue --- Ibu dan Bapak.

Waktu gue masih kecil, menjadi yang terbaik seringkali gue artikan sebagai menang kalau lagi bertengkar sama adik, menang kalau lagi rebutan televisi, menang kalau bisa bikin adik gue dimarahin Ibu, yaaaa terbaik itu menang ngelawan adik. Meskipun Ibu super disiplin, tapi jadi yang terbaik masa lampau banget itu (kesannya tua banget) nggak pernah gue artikan dengan bisa jadi nomer satu di kelas karena itu nggak mungkin, hahahhaaa pas SD gue punya temen cowok yang pinternya nggak bisa ditandingi dan entah kenapa dia hobi banget juara 1.

Lalu melangkah ke bangku SMP, jadi yang terbaik versi gue itu adalah nge-gank sama cewek-cewek yang populer (survei membuktikan seperti itu, dulu, hahhahahaa). Terus gue bisa menang kalau pas lagi berantem sama temen, pokoknya mau jadi super hero-nya cewek-cewek hahahaaa... Dulu juga pas SMP, jadi yang terbaik itu kalau bisa jadi anak kesayangan guru, terutama guru biologi sama guru ekonomi :3 *super nyebelin*

Pas SMA, mulai agak beneran dikit nih, terbaik itu kalau bisa jadi juara kelas dan menang kompetisi. Merasa jadi terbaik pas bisa jadi ketua ekstrakurikuler jurnalistik dan jadi kakak kelas yang terkenal *kenal nama doang nggak kenal orangnya, ckckkckkk kelakuan adik-adik kelas hahahaha*

Masuk ke dunia yang penuh retorika #Tsahhhhhhh masa kuliah. Jadi yang terbaik itu apa yaaa? Gue mulai bingung nih sama definisi Terbaik!!! Sekedar punya IPK tinggi, pernah exchange, bolak balik menang lomba, jadi aktifis ternyata nggak lantas bisa gue bilang sebagai indikator menjadi yang terbaik *sok ilmiah hahahaaa* Tahun ke-4 kuliah gue baru tau definisi jadi yang terbaik, ternyata bisa jadi 'merasa' terbaik itu kalau bisa ketemu sama teman-teman yang baik, karena teman yang baik akan menularkan kebaikan ke kita.

Ternyata setelah gue mencari-cari definisi terbaik, gue bisa dapetin itu di akhir-akhir masa kuliah, ya menjadi yang terbaik adalah berteman dengan orang-orang baik sehingga bisa memotivasi gue buat jadi orang baik, tapi ternyata jadi orang baik itu nggak gampang ya hehe semoga teman-teman gue yang baik bisa selalu menularkan kebaikan mereka ke gue. Amin Ya Allah.

Pssssssss mungkin ini subjektif, jadi silahkan mencari definisi menjadi yang terbaik versi kalian sendiri yaaaa :D Salam terbaik!!!


20140119

Saya Hanya Ingin Belajar!

Tidak ada hal yang paling menyesakkan selain ketika kita tidak bisa melakukan hal yang kita suka, ditambah harus melakukan hal yang sama sekali tidak kita suka. Ya, sepertinya itu yang sedang saya rasakan sekarang.

Saya sangat suka belajar, dari kecil sebelum teman-teman selesai membaca sebuah buku pasti saya sudah menyelesaikannya terlebih dahulu dan bisa menceritakan isi buku itu dengan baik. Kebiasan gemar belajar yang memang ditanamkan Ibu sejak saya masih kecil, tapi ternyata kebiasaan itu tidak bekerja kali ini. Saya begitu sulit mencerna apapun yang disampaikan oleh instruktur, entahlah karena saya tidak suka saja atau lebih dalam lagi, karena saya tidak nyaman dengan pekerjaan ini?

Sudah berada pada sebuah zona nyaman membuat saya berpikir mungkin saatnya mengubah haluan, bukan tanpa pertimbangan. Berusaha menelusuri keinginan orangtua untuk masa depan saya kelak, akhirnya saya pun mengiyakan. "Kalaupun saya tidak pernah bisa mencintai pekerjaan ini, semoga pekerjaan ini dapat membuat saya membahagiakan beliau berdua yang hari-harinya telah digunakan untuk kebahagiaan saya dan semoga Allah menguatkan saya, untuk kebahagiaan Ibu dan Bapak..."

Dulu sekali, beberapa tahun lalu, saya pernah terpikir akan berada di posisi ini - dengan pekerjaan yang sama. Susah payah saya berusaha mencapainya, mencapai sesuatu yang terlihat tidak mungkin saat itu. Dengan kemampuan yang serba terbatas, terutama kemampuan bahasa inggris saya yang seadanya. Tapi saya tidak menyerah, berusaha memantaskan diri, saya pasti bisa! Waktu berlalu dan ternyata saya sudah beralih pada dunia lainnya, pekerjaan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, pekerjaan yang sebenarnya justru mendekatkan saya pada orang-orang baik terutama mendekatkan saya pada-Nya. Saya sungguh mencintai pekerjaan itu, meskipun pekerjaan itu tidak pernah membuat kantung saya setebal sebelumnya. Pekerjaan itu tidak sekali membuat saya harus meneteskan airmata, membuat saya dalam masa-masa sulit, membuat saya kadang (atau sering) lalai pada diri saya sendiri. Tapi sungguh rasa cinta terhadap pekerjaan itu membuat saya sedapat mungkin melakukan hal yang terbaik, hal terbaik yang bisa saya lakukan.

Obrolan panjang dengan Ibu, diskusi yang diselangi sesenguk tangis dengan beberapa teman, dan waktu-waktu sunyi saya dengan-Nya. Berbagai hal beradu menjadi satu, kadang sulit untuk mencerna semuanya... saya pikir yang namanya perasaan itu tidak penting untuk diperhitungkan, dan saya pun menyesal. Bukan hal yang sulit untuk mencari pekerjaan sebenarnya, bahkan di saat saya belum saatnya mencari pekerjaan nyatanya pekerjaan-pekerjaan selalu datang menawar. Hingga saatnya saya harus bekerja, ini bukan hanya tentang mengisi perut atau mencari bongkahan emas -tentu saya tidak bekerja untuk itu-, tapi ini tentang mimpi-mimpi dua orang yang sangat saya sayangi -orangtua yang kasihnya terus mengalir dalam kehidupan saya-. Mimpi yang beliau berdua titipkan kepada saya, mimpi yang harus saya wujudkan untuk membalas (bahkan tidak mungkin) pengorbanan-pengorbanan yang telah beliau berdua lakukan untuk saya.

Dan akhirnya ketika tangan saya harus menggoreskan tinta di atas kertas bermaterai itu, ya saya melakukannya. Setelah hari-hari yang panjang untuk 'melarikan diri', akhirnya saya melakukannya. Kalaupun saya tidak pernah bisa mencintai pekerjaan ini dan lebih menginginkan pekerjaan itu, semoga pekerjaan ini dapat membawa kebaikan-kebaikan untuk masa depan saya, untuk orang-orang di sekitar saya, terutama untuk Ibu dan Bapak yang menitipkan mimpi mereka kepada saya.

Saya hanya ingin belajar, suka atau tidak suka. Hidup ini memang bukan hanya tentang apa yang kita citakan, tapi tentang apa yang ingin kita perjuangkan dan saya inshaAllah akan memperjuangkan pekerjaan ini, melakukan yang terbaik untuk pekerjaan ini, dan belajar banyak hal dari pekerjaan ini. Toh belum tentu ini buruk, dan ketika ini buruk saya yakin Allah akan membantu saya untuk keluar dari keburukan tersebut. Suka atau tidak suka, semoga pekerjaan ini dapat membahagiakan dua orang yang sangat berharga di kehidupan saya.

Tidak hanya melakukan pekerjaan yang saya cintai, saat ini dunia berbicara bahwa saya harus mencintai pekerjaan yang saya lakukan. Semoga Allah selalui meridhai, Amin Ya Allah.


Jakarta, 19 Januari 2014
Saat merenung, terima kasih Ibu & Bapak
Juga teman-teman yang sudah menguatkan :)

20140117

Nostalgia & Harapan #SejenakDiam #8

Hal yang paling menyenangkan dalam hidup menurut gue adalah dinamisasinya, ngerasa nggak sih kalau kita itu hidup di berbagai masa yang berbeda dengan sangat cepat? Dan kadang ketika kita sampai di sebuah masa yang baru sering timbul celetukan, "Perasaan gue dulu masih disana deh, sekarang udah disini..." Ya ternyata hidup itu berjalan secepat waktu berlari.

Waktu TK inget banget selalu dijemput dan anter sama Pak Sukur, tukang becak, masih digendong melewati sawah-sawah. Lalu menuju masa selanjutnya di SD karena nggak bisa pakai bahasa madura akhirnya gue sering banget di bully sama temen-temen sampai dipalakin, dan nurut begitu aja. Masa SMP banyak membawa perubahan terutama dari sisi sikap, yang dulunya manja banget jadi belajar buat nggak manja, mulai punya peer group yang dekat banget padahal sebelumnya tipe anak sekolah-pulang-belajar-sekolah lagi hahahaaaa alias cupu. Waktu di SMA mulai aktif di organisasi dan kompetisi, seru bangetlah! Bisa ngerayain sweet 17-th di 3 pulau di Makassar juga saat itu, pengalaman pertama naik pesawat dan keluar negeri. Memasuki masa kuliah, harus struggle banget kalau mau bertahan karena selain mata kuliah dengan tugas-tugas dan ujian yang kurang manusiawi hahahaaa, kondisi lingkungan yang 180 derajat berbeda di Ibukota dengan tempat-tempat sebelumnya gue berada, juga harus menghadapi berbagai tipe orang yang beragam dan kadang sulit dipahami. Alhamdulillah-nya adalah setiap kali menyelesaikan satu tahapan nggak terlalu binggung dengan 'what's the next?' karena gue selalu binggung duluan dibandingkan temen-temen gue kalau mau masuk ke tahap kehidupan selanjutnya, misalnya gue itu udah tau bakal masuk jurusan IPS di SMA karena dari SMP gue udah menentukan hal itu terus gue udah memutuskan masuk FEUI dari kelas 2 SMA. Kadang gue capek juga sih karena akhirnya sering mikir juga, "pikiran lo ribet banget sih, Vi?" Akhirnya gue selalu mencoba berpikir positif, life is about preparation!

Sekarang gue udah mulai kerja, FYI banyak banget hal dalam setiap tahap kehidupan gue yang nggak sesuai dengan apa yang gue pengenin, banyak banget tantangannya, dan selalu ada masa dimana gue menyerah terus nangis-nangis pas menghadapi tantangan di setiap tahap atau fasenya. Setiap kali bisa melewati tantangan hidup jadi suka ketawa-ketawa ternyata lucu juga, misalnya dulu waktu kuliah sering nangis setiap kali memasuki masa UTS/UAS dan sampai pernah jatuh di tangga asrama karena malamnya nggak tidur belajar statistika.

Hidup itu benar-benar cepat, umur gue terus berkurang dan entah sampai kapan. Dan yang bikin gue selalu takut adalah menghadapi kematian, gue sekarang sering kebayang meninggal terus takut semua amalan nggak cukup buat kehidupan gue di akhirat. Tujuan hidup gue jelas bisa ketemu sama orang-orang yang gue sayang di surga, tapi how to go there-nya itu yang binggung karena banyak banget ngelakuin kesalahan di dunia ini. Semoga saja apapun yang terjadi di masa selanjutnya, semua itu bisa menghantarkan gue ke tujuan hidup gue tadi, Amin Ya Allah. Bantu doa yaaa teman-teman, doa yang sama untuk kalian :)





20140113

Hujan #SejenakDiam #7

Hujan terus turun tanpa henti, dari malam ke pagi, bahkan menjelang siang pun tidak juga reda. Aku selalu suka dengan hujan karena hujan selalu mengingatkanku pada rasa nyaman dan kedamaian. Dulu saat aku masih kecil, aku selalu meminta ijin pada ibu untuk bermain hujan, selesai bermain hujan aku dan teman-teman bermain di kolam kecil depan rumah yang sebenarnya untuk kolam ikan. Dasar anak-anak!

Selain membawa rasa nyaman dan kedamaian, hujan juga mengingatkanku pada kemandirian. Sejak lulus dari sekolah dasar aku sebisa mungkin tidak merepotkan orangtua. Semua hal aku kerjakan sendiri, tentu bukan karena mau mengerjakannya sendiri tapi memang karena tuntutan hidup yang membuat aku harus hidup sendirian. Sekalipun hujan deras, aku selalu usahakan sampai rumah tepat waktu seusai sekolah. Aku tidak pernah peduli terhadap hujan, “hujannya kan air, jadi nggak perlu takut…” kataku selalu kepada teman-teman jika mereka menahanku untuk pulang karena hujan. Saat hujan, aku jadi tau bagaimana mereka yang ada di jalan berusaha mengejar waktu hingga tidak memperhatikan sekelilingnya.

Aku suka dengan hujan, karena hujan mengingatkanku pada sosok anak-anak payung. Ya aku memanggil anak-anak yang menawarkan jasa payung jika sedang hujan. Sekalipun membawa payung, aku suka menggunakan jasa mereka – anak-anak payung. Karena mereka membuatku sadar bahwa mempertahankan hidup itu adalah tentang seberapa keras kita mau berjuang. Aku sangat suka berbincang tentang mereka, ada yang menjadi anak-anak payung karena suruhan orangtua, ada yang menjadi anak payung karena untuk jajan, dan ada juga yang menjadi anak payung karena tuntutan hidup.


Hujan… Hujan membuatku selalu dapat tidur lelap, ya aku suka hujan karena hujan mengingatkanku pada sosok ibu dan bapak yang selalu memberikan rasa nyaman dan kedamain, mengajarkanku tentang kerja keras dan berjuang, dan membuat aku menjadi semandiri sekarang. Aku suka hujan, karena setelahnya mungkin akan muncul pelangi yang berwarna-warni, bukti bahwa dunia ini tidak hanya mengenal hitam dan putih.  

Karawaci, 11 Januari 2014

20140103

Lyric : Lilin-Lilin Kecil

Oh...Manakala mentari tuaLelah berpijarOh...Manakala bulan nan genitEnggan tersenyumBerkerut kerut tiada berseriTersendat-sendat merayap dalam kegelapanHitam kini hitam nantiGelap kini akankah berganti
ChorusEngkau lilin-lilin kecilSanggupkah kau menggantiSanggupkah kau memberiSeberkas cahayaEngkau lilin-lilin kecilSanggupkah kau berpijarSanggupkah kau menyengatSeisi dunia
Oh...Manakala mentari tuaLelah berpijarOh...Manakala bulan nan genitEnggan tersenyumBerkerut kerut tiada berseriTersendat-sendat merayap dalam kegelapanHitam kini hitam nantiGelap kini akankah berganti
ChorusEngkau lilin-lilin kecilSanggupkah kau menggantiSanggupkah kau memberiSeberkas cahayaEngkau lilin-lilin kecilSanggupkah kau berpijarSanggupkah kau menyengatSeisi dunia (2X)