20130208

Sekilas Perjalanan Dreamdelion untuk Thalia Dkk di Bali


Bagaimana awalnya memulai Dreamdelion? (Dreamdelion berdiri 18 Juli 2012)

Sepulangnya saya dari pertukaran mahasiswa ke Thailand selama 4 bulan kebetulan teman-teman sedang ujian akhir, saya pun dalam kondisi menganggur dan galau mau melakukan apa. Awalnya mau pulang kampung namun ternyata ada permasalahan akademis yang harus diselesaikan terkait pengambilan sks pada semester berikutnya. Permasalahan ini sempat membuat saya stres dan menangis di depan wakil dekan FEUI dan pihak dekanat karena saya dijanjikan dapat mengambil sks penuh di semester berikutnya, namun ternyata ada pengingkaran dan kondisinya lemah secara hukum (tidak punya bukti legal) sehingga terpaksa hanya bisa mengambil 3 sks di semester pendek dan 12 sks dimana 6 sks matkul & 6 sks skripsi di semester 7, sementara semester 8 harus mengambil 24 sks. Dalam kondisi seperti itu, saya berusaha tetap positif (meskipun berulang kali menangis karena merasa dalam posisi terjepit). Karena saat itu juga tidak memegang amanah dalam organisasi atau kepanitiaan maka berusaha menciptakan kegiatan.

Mengajar kembali di sanggarai (sanggar belajar anak-anak Manggarai yang saya dirikan bersama sentia dan site) dan sangat menikmati suasana yang tercipta. Namun ternyata kegiatan baru ini menciptakan rasa ‘stres’ yang baru karena harus ada di lingkungan yang bukan kita banget atau jauh berbeda dengan karakter anak-anak yang ‘luar biasa’ cerdasnya. Pada saat itu saya merasa harus do something more than hanya mengajar anak-anak karena kegiatan ini membutuhkan dana dan tenaga yang lebih kompeten (background saya sebagai mahasiswa ekonomi tidak cukup bisa meng-handle anak-anak).

Pada kondisi tersebut saya tersadarkan akan sebuah permasalahan yang dapat diubah menjadi sebuah peluang. Alhamdulillah Allah menjadikan saya sebagai manusia yang suka belajar sehingga selama di Thailand saya belajar banyak hal terkait dengan salah satu social movement dalam bidang ekonomi yang lebih dikenal dengan kewirausahaan sosial melalui SIFE MUIC, dan mempelajari peran mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan sosial melalui Volunteering Club MUIC. Saya pun belajar bagaimana menghadapi bagaimana beradaptasi dengan perbedaan melalui Multicultural Club MUIC juga terlibat dalam Cycling Club MUIC. Hobi travelling dan shopping membawa saya ke berbagai tempat mulai dari pasar tradisional sampai dengan mall mewah di Thailand yang memang memiliki concern dalam industri kreatif. Sangat mudah menemui produk kreatif dan handmade di Thailand dan karena hobi belanja itu saya membawa beberapa produk yang menjadi inspirasi pada awal-awal menginisiasi Dreamdelion.

By the way, apa permasalahan yang saya maksud sebelumnya? Masalah tersebut adalah ibu-ibu yang saya temui saat saya datang dan pulang dari sanggar menghabiskan waktunya untuk duduk lalu ngobrol, dan menonton sinetron.Ternyata mereka menganggur atau tidak memiliki pekerjaan, hanya sebagai ibu rumah tangga (saya tidak menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga namun dalam hal ini konteksnya ibu-ibu yang ada sebenarnya ingin bekerja namun dibenturkan dengan keterbatasan pendidikan dan keahlian). Artinya, cari dulu permasalahan sosial apa yang ada di sekitar kita dalam memulai sebuah bisnis sosial. Bukan membuat bisnisnya dulu baru memecahkan masalahnya karena belum tentu bisnis tersebut tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada.


Produk apa yang dihasilkan oleh Dreamdelion?

Handicraft dengan tipe produk cottonicious, flanelliocious, jeanlicious, bando head wrap, crafish, grabear, dan lain-lain. Produk-produk yang dihasilkan umumnya terbuat dari bahan baku limbah sehingga menjadi produk yang eco-friendly (ini menjadi value added bagi produk Dreamdelion).


Bagaimana dengan SDM (Sumber Daya Manusia) pengurus yang tersedia?

Pada awalnya hanya ber-9, lalu sekitar bulan Oktober terdapat 15 orang bergabung. Saat ini tercatat 30 orang pengurus dengan puluhan volunteers. Misalnya untuk program Manggarai Cerdas terdapat 80 volunteers, belum termasuk volunteers Manggarai Sehat dan Manggarai Berkarakter.


Apakah terdapat hambatan dalam menjalankan Dreamdelion?

Jelas banyak sekali tapi tim kami menganggapnya sebagai tantangan. Kalau mau maju harus berani dan siap menghadapi tantangan-tantangan, untuk naik seseorang harus mendaki seperti itu mungkin analoginya. Tantangannya mulai dari tidak ada pendanaan yang akhirnya diselesaikan dengan dana swadaya; SDM yang kadang ada lalu kadang menghilang namun seiring berjalannya waktu dapat melahirkan rasa komitmen dan bertanggung jawab, nah kalau masalah ini harus diselesaikan dengan komunikasi dan koordinasi yang baik serta penempatan orang sesuai dengan passion-nya; serta awalnya juga tidak ada mitra usaha atau konsumen sehingga proses produksi terus berlangsung tanpa pasar yang jelas, dapat diselesaikan dengan memperluas jaringan dan meningkatkan media komunikasi yang dapat digunakan. Yakini saja bahwa setiap masalah itu jika diubah menjadi tantangan justru akan menguatkan dan membuat diri kita berlari lebih cepat dan menyelesaikannya dengan lebih tangkas & cerdas.


Siapa yang bisa menjalankan bisnis sosial seperti Dreamdelion?

Sebenarnya tidak ada batasan pendidikan maupun usia. Ada yang bertanya apakah bisa dilaksanakan oleh anak SMA? Ya jelas bisa jawabannya karena apa yang kami lakukan di Dreamdelion adalah panggilan hati, pekerjaan yang insyaAllah menjadi investasi dunia dan akhirat untuk kami yang terlibat. Ini masalah komitmen dan keinginan untuk benar-benar mendedikasikan diri untuk terjun, menyelami, dan membangkitkan masyarakat yang membutuhkan.


Penghargaan apa yang sudah diterima Dreamdelion?

Buat kami penghargaan itu adalah bonus bukan target dan tujuan saat awal kami mendirikan Dreamdelion. Beberapa penghargaan yang sudah kami terima sejak 18 Juli 2012 adalah :
1.      2nd Round 5th Aseanpreneurs, 2013 (sedang dalam proses)
2.      The Most Innovative Business Idea ELD Awards, FEUI, 2012.
3.      Young Educator Awar, 2012.
4.      Top 3 Start Up Creative Industry, Mandiri Bersama Mandiri, 2012.

No comments: