Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

20120112

Pagi, Siang, dan Malam... Tentang Kamu

Dalam keheningan pagi...
Aku melihat seulas senyum kegelisahan yang menghiasi wajah muram
Aku mendengar dengusan lirih yang merefleksikan rapuhnya hati
Aku pun merasakan takut yang menghela di langkah-langkah kecil

Bukankah yang hitam akan tetap hitam, namun yang putih bisa menjadi hitam?
Mungkin hanya teori yang berusaha dikomplemenkan dengan retorika kasih
Ini bukan karangan, bukan juga akumulasi rasa kecewa. Bukan!!!
Kembali, gelisah dan tak menentunya rasa yang menggelembung di angkasa

Dan lihatlah saat mentari bersinar dengan angkuhnya
Membuat peluh membasahi hampir seluruh tubuh hingga tak mampu mengering
Namun keangkuhan mentari mampu kembali meneguhkan pribadi
Ya, hidup tidak akan pernah berhenti hanya karena langkah sesal semu bak waktu ini

Aku tahu bahwa pengharapan adalah kepingan-kepingan kenyataan
Tapi manusia tidak bisa hanya hidup dalam pengharapan, yang kadang kosong
Lagi, aku membuka deretan-deretan memori langkah yang pasti
Ada jejak-jejak  bersama yang sempat  tertorehkan, mungkin baru sesaat

Tibalah malam hari yang sunyi, saat bintang-bintang berkelipan di langit kelam
Sementara bulan yang selalu aku senangi nampak bersembunyi di awan malam
Dingin merasuk hingga tulang ini terasa membeku, menguatkan hati yang rapuh
Malam ini akan segera berakhir, aku percaya itu

Aku pun menarik selimut tebal untuk menetralisir dinginnya malam sunyi
Berdoa, menutup mata, berharap esok kan datang melihat sosok ceriamu kembali

20111114

Mungkin Aku...

Mungkin aku hanya titik-titik hujan...
Menetes sebentar lalu mereda
Tidak terlalu tampak namun tentu nyata
Sesuatu yang kerap mengharukan suasana

Karena juga mungkin aku adalah merpati...
Yang kerap kehilangan arah mencari sangkarnya
Yang terbang menenggelamkan diri dalam sunyi
Yang mencoba tak pernah mengingkari janji

Bukan, kiranya aku hanya gelas-gelas kaca
Begitu jatuh, remuk redam pecah tanpa sisa
Sedikit saja retak maka tak bisa lagi berguna
Dan ketika usang menjadi tak lagi punya harga

Namun aku yakin bahwa aku adalah khalifah
Ciptaan Tuhan yang memiliki makna
Menyimpan bukti kuasa Yang ESA
Anugerah bagi keluarga, tentu junjung tinggi agama

Dan biarkan aku menjadi diriku sendiri
Meski tak tampak, berusaha menampakkan diri
Meski kehilangan arah, selalu membawa kompas penenang hati
Meski telah usang kelak, tetap dicari dan dinanti

Depok, 14-11-2011. Pukul 20.11

20111017

Semoga tidak cukup!!!

Ya cukup!!!
Aku membaca semua, semua, semua...
Yang seolah tiba-tiba memacu jantung dengan sangat lambat
Yang lalu membuat setitik bening membasahi keringnya pipi
Yang tiba-tiba membuat retorika ketidakpercayaan


Dan cukup!!!
Kali ini aku ingin mendengar sebuah penjelasan...
Yang kan menentramkan keraguan hati
Yang kupastikan menghapus bulir bening dari pipi
Yang semoga bisa mengembalikan rasa yang tak ingin kuhempas pergi

Sudah... Sudah cukup!!!
Kecewa ini semakin memekakkan nurani
Aku tidak butuh tau siapa yang salah atau menjadi pesakitan
Aku tidak perlu menuntut kejujuran yang memang harus dijabarkan
Aku hanya perlu tau alasan di balik tembok yang tebal itu

Berapa kali harus ku katakan : INI CUKUP!!!
Aku tidak hendak menjadikanmu tersangka
Aku tidak hendak menjadikanku seorang penuduh tanpa fakta
Aku juga tidak hendak mengumbar sakitnya rasa dan prasangka
Aku hanya meminta kebenaran, jawab atas tanya yang menggundah

Namun sungguh hati kecil ini memohon pada Tuhan...
Semoga tidak cukup!!!
Tidak cukup waktu untuk memisahkan alunan langkah yang mulai berirama bersama
Tidak cukup jarak yang membentang mengurai ketidakpastian
Tidak cukup untuk semua akhirnya menghantarkan kita pada kesendirian


Depok, 17 Oktober 2011

20110817

Secarik Surat Cinta untuk Bulan

Ketika dia yang tak kukenal menyapa dengan dinginnya
Ketika sapaan itu tak berkesan, tak membekaskan rupa di sudut kelana jiwa
Ketika aku sendiri tidak pernah berpikir bahwa bintang ini menyimpan rasa
Ketika langit hati merongrongku dengan seketika menyadari ada yang berbeda


Bahkan terlupa bagaimana permulaan itu tercipta
Dan hanya gelak tawa penuh rasa bimbang mengundang ke muka
Tatkala dengan polosnya aku mengingat semua, semua yang sebelumnya semu
Dia pun mengkelarkan tawanya sambil terus menggoda pipiku yang bersemu malu


Sekali lagi, aku tidak pernah berpikir bahwa ternyata dia adalah bagian dari bintang
Rasa-rasa yang tercipta spontan, tidak pernah sebelumnya terngiang
Gelitik di langit hati kembali membuatku merona, salah tingkah, dan tak dapat mengeluarkan kata
Mungkin terlalu cepat, tapi menurutku memang dia yang tepat, bulan penggetar masa


Tuhan, ijinkanlah aku terbang dengannya di langit hati yang menerang
Mengadu tanya dan menuai jawab akan masa depan yang benerang
Biarkan dia menjadi bulan, meskipun sebelumnya tak menjadi bagian dari bintang
Dan biarkan aku pun menjelma layaknya bulan seperti pintaku saat padang hati ini gersang


Dan kini aku ingin menggambarkan sosoknya…
Bulan yang pintar, mengkritisi berbagai hal, punya impian mulia dibalut optimisme anak muda
Tapi jujur, aku tidak akan pernah mampu menjabarkan alasan atas ketertarikan yang tercipta
Aku tidak bisa menalarkannya dan orang bilang ini namanya benar-benar cinta, cinta, dan cinta


Meski aku tak pernah tau bagaimana langit hatinya menggambar tentangku
Meski gelisah membayang, takut jika semua ini hanya retorika yang menyakitkanku
Meski semua gelisah kini akan terjadi di masa yang dikehendaki-Nya, aku tak akan terpaku
Meyakini jalan Tuhan yang nantinya kan mempertemukan kami dalam dimensi waktu tertentu




Ngawi, 4 Agustus 2011. Pukul 22.34.
di Posting @Banyuwangi, 18 Agustus 2011
Bulan yang saat itu duduk di sebelahku dan
dengan polosnya membuatku benar-benar
merasa menjadi perempuan paling bahagia
sedunia... #BukanGombal

I just wanna tell you, "You're the one and only
one in my heart now. Thanks a lot for your love.
I wish you'll read this message :)."

20110720

Dan Ternyata Semuanya Semu

Tuhan, aku masih ingat kala itu
Kala kedua bola mata hitamnya menatap ke arahku
Kala senyum manisnya mengembang mendetakkan jantungku
Kala kata-katanya menggetarkan nuraniku


Beberapa detik, menit, jam, hari, dan seminggu pun berlalu
Perasaan ini semakin mendekatkanku
Ya... aku merasa semakin dekat
Tapi mungkin hanya perasaanku, Hanya aku yang merasakan!!!


Aku sempat berceloteh dengan bangga
Bagaimana aku merasa dijadikan bulan di bukit bintang
Nyatanya aku bukan bulan
Namun aku adalah bintang untuknya

Aku baru tersadar...
Bukan aku!!! Dia bukan memilihku. Aku bukan pilihannya.
Tersentak di saat waktu menunjukkan hampir dua minggu berlalu
Kesadaran yang mungkin TERLAMBAT. TELAT. TIDAK TEPAT.


Canda... Tawa... Manja... Duka... Percakapan yang dirajut berdua...
Semuanya hanya bagian, tepatnya bumbu-bumbu pendewasaan
Aku hanya mampu menutup muka malu
Dan ternyata semuanya semu...


Tapi aku tidak marah, Tidak pula ingin memasang wajah berduka
Tidak ingin berbela sungkawa atau malah menanggis menenggadah
Aku malah berdecak kagum pada kebesaran Tuhan
Yang dengan cepatnya menunjukkan bahwa sesaat ini hanya rasa semu semata




Depok, 20 Juli 2011. 23.19 WIB

20110718

Menjadi Bulan di Bukit Bintang

Aku sangat menyukai bintang
Dan menjadi semakin menyukainya sekarang
Setelah menyempatkan waktu sejenak mengunjungi Bukit Bintang
Bersama seseorang...

Namun aku tak ingin menjadi bintang
Meski sinarnya saat malam sangat terang
Namun jumlahnya tak dapat terhitung dengan jemari tangan
Menjadikan manusia kerap kali memandingkannya

"Mana bintang yang lebih indah?"
"Mana bintang yang sinarnya paling terang?"
"Mana bintang yang menyejukkan pikiran?"
Juga... "Mana bintang yang bisa membuat diri nyaman?"

Kalau boleh memilih, Aku ingin menjadi bulan
Meskipun lebih besar daripada bintang
Meskipun rupanya digadang-gadang tak lebih elok dibanding bintang
Namun jumlahnya hanya satu, tak banyak seperti bintang

Perempuan sepertiku...
Ingin menjadi bulan di Bukit Bintang
Bulan yang hanya seorang, Bulan yang sinarnya benerang
Bulan yang juga akan mampu menerangi sepinya malam bersama seseorang

Surabaya, 18 Juli 2011

20110716

Hari Untuk Sahabat... :D

Delapan tahun silam...
Lihatlah wajah-wajah yang ceria dalam kegamangan
Mencari jati diri, eksistensi, dan semunya mimpi
Dan lalu kondisi yang pasti mempertemukan kami

Peristiwa bersejarah delapan tahun silam...
Tujuh remaja bersama dalam embel-embel berbau persahabatan
Menyatukan perbedaan yang mengundang ketertarikan
Dan lalu membentuk persatuan yang dikuatkan, berharap tak terpisahkan

Pun tak lupa delapan tahun silam...
Akhirnya kami menyebut persahabatan ini dengan nama sederhana "Ergirls"
Berdiri di atas keyakinan akan kebersamaan kekal
Menyulap tujuh remaja menjadi sosok dewasa dalam rasa cinta

Tak terasa delapan tahun pun berlalu begitu lekasnya
Kami sendiri meyakini waktu bukan bermaksud memisahkan tiga tahun yang terjalin erat
Perpisahan pun terjadi, jarak mulai terbentang nan pasti
Masa SMP berlalu dan menghantarkan pada masa yang baru, SMA...

Lagi dan lagi...
Perpisahan terjadi, salah satu sahabat pergi menuju kebahagiaan abadi
Kami hanya bisa mengucap selamat tinggal dan mendoakannya
Lalu menjadi termotivasi bertemu di surga nanti (Amin Ya Allah)

Dan kini kami telah dewasa
Berada di kisaran usia kepala dua
Waktu semakin berjarak, Letak geografis semakin meluas
Namun nyatanya bentang yang menghalang tak menjadi hambatan pertemuan

Hari ini...
Delapan tahun sudah usia persahabatan kami
Meski tak semua, dalam situasi teramat sederhana pertemuan direka
Tuhan mempertemukan empat dari tujuh remaja yang kini mendewasa


Berjalan bersama, berbagi cerita, bertukar pandangan
Terdengar tawa tanpa celah dan sungkan
Mengabadikan setiap langkah yang tercipta dalam potret-potret kenarsisan
Sambil menggoreskan tinta hitam impian di atas kertas putih lambang kesungguhan




Surabaya, 16 Juli 2011
^_^ Alia Noor Anoviar, Nanda Sugesti, Siska Eviandhari, Roza Ruspita
^_^ belum sempat bertemu dengan Nani Rahmawati, Yasmine Aprilla Arsy
^_^ yang menjadi kenangan : Alm. Paramita Puspitarani



20110714

"Tentang Sesuatu"

Bagaimana aku bisa melukiskan sesuatu yang dengan cepatnya berlalu
Tentang sesuatu yang menyapa dengan kesederhanaan
Yang awalnya tak terpikirkan dan tak ingin kupikirkan
Nyatanya aku tak bisa membohongi perasaan

###

Tuhan mengirimkannya seketika dihadapan
Masih susah untukku mendeskripsikan sesuatu itu
Bahkan sepertinya aku belum pernah berjabat tangan
Hanya obrolan renyah yang menggobarkan keberanian
###
Hmmm… aku jadi galau karenanya
Bukan karena sesuatu itu mampu mengantarkanku kealam yang kusayang
Rupanya pun masih samar
Siapa, dimana, dan mengapa? Entah!!!

###

Sesuatu itu…
Begitu teringat, senyum terangkat
Begitu terpikir, pikiran mengalir
Begitu terasa, sekali lagi aku tak mampu memikirkannya

###

Meski hanya sekejap
Nurani ini terus melayang membawa rasa
Pada sesuatu itu, sesuatu yang hingga saat ini kurasa berbeda
Namun entah bagaimana, aku tak mampu berkata


Saat seorang 'Alia Noor Anoviar'
tengah galau @Surabaya, 15  Juli 2011

20110626

"Namaku Cinta"

Orang memangilku CINTA…
Menurut mereka diriku indah, mempesona, dan memiliki aura
Setiap kali menyebut namaku, senyum pun kan merekah seketika
Aku begitu bangga menjadi makhluk bernama CINTA

Tapi kadang aku merasa bersalah seolah seorang tersangka
Tak sedikit yang menangis karena kehadiranku di dunia
Mereka mencaci maki keberadaanku, mengatakan bahwa diriku buta
Aku juga bisa membuat sekelilingku menjadi gila…

CINTA oh CINTA…
Terlalu banyak istilah tentangku
Cinta buta… Cinta monyet…  Cinta segitiga…
Dan entah apa lagi julukan yang mereka beri untukku
 
Yang terbaik, yang pernah kudengar tentang diriku
CINTA Sejati…
Yang katanya tak kenal pamrih dan selalu membekas di hati
Itulah sosokku sebenarnya

Sempurna…
Namaku Cinta…
Yang tak kan pernah mati
Kan selalu abadi sampai nanti

20110604

Dia harus seperti Bapak...

Bapak...
Entah bagaimana aku bisa melukiskan sosoknya.
Usianya memang tak lagi muda, senja mulai membayang.
Tahun depan Bapak sudah tidak lagi bekerja...

Bapak...
Hari tuanya ingin kuisi dengan senyum bahagia.
Mungkin sejauh ini, hanya senyum bangga yang bisa kuhiaskan.
Apapun yang kuperbuat, selalu dihargai dengan tawa renyah bersemangat.


Bapak, kapan ya aku benar-benar bisa membahagiakanmu?
Apakah harus menjadi dosen seperti keinginanmu?
Atau... harus menjadi seorang banker seperti keinginanku?
Hahahahahahahahhaa... Biar waktu yang menjawab semua itu.

Oiya... usiaku tak lagi remaja, kiranya sudah lama aku beranjak dewasa.
Bapak mungkin tidak tahu kalau sekarang ada seorang pria yang sudah hampir 18 bulan menemaniku.
Hmmm, belum waktunya mungkin untukku bercerinta tentang cinta pada bapak.
Karena bapak sampai saat ini menganggapku tak ubahnya seperti bocah TK yang lugu tentang rasa itu.


Bapak,,, kapanpun itu... siapapun dia nanti...
Aku ingin pria yang menemaniku seperti Bapak.
Mungkin memang ada yang harus berbeda dari dia.
Dia harus lebih tegas, berani, dan tidak mudah menangis.

Aku ingin pria seperti Bapak...
Yang hanya mencintai satu wanita sepanjang hidupnya.
Yang tidak pernah mendengar kata orang untuk mencari pendamping lainnya.
Yang mau menerima apapun kondisi wanita yang dicintai.

Aku ingin menjadi seperti ibu...
Wanita yang dicintai Bapak sepanjang usia,
Bapak akan selalu hanya mencintai ibu, aku yakin...
Hingga ajal menjemputnya sekalipun.


Ngawi, 4 Juni 2011
Aku sayang Bapak dan Ibu selamanya,
Semoga Allah selalu memberiku kesempatan untuk bisa membahagiakan kalian berdua :D